Indonesia, Belanda, dan Asia Pasifik kembangkan kerja sama bidang perubahan iklim

id kemlu,perubahan iklim

Indonesia, Belanda, dan Asia Pasifik kembangkan kerja sama bidang perubahan iklim

Indonesia-Netherlands-Pacific Workshop: Learning and Sharing Experiences, Identifying Potential Areas for Collaboration in Tackling the Impact of Climate Change, di Bali, 21-22 Oktober 2021. ANTARA/HO-Kemenlu

Indonesia terus menjadi contoh dan telah berhasil kurangi tingkat deforestasi hingga 75 persen, terendah dalam sejarah
Bandarlampung (ANTARA) - Kementerian Luar Negeri RI, didukung oleh Kedutaan Besar Belanda di Jakarta dan semua Perwakilan RI di Kawasan Pasifik, sebagai bagian dari upaya bersama dalam menghadapi salah satu tantangan terbesar dunia saat ini, menyelenggarakan ”Indonesia-Netherlands-Pacific Workshop: Learning and Sharing Experiences, Identifying Potential Areas for Collaboration in Tackling the Impact of Climate Change”, yang berlangsung secara hibrida di Bali, Kamis (21/10). 

Dalam surat elektronik yang diterima di Bandarlampung dari Fungsional Diplomat Madya, Direktorat Eropa II Kemenlu Enjay Diana, Sabtu, menyebutkan dengan inisiatif kerja sama segitiga, Indonesia dan Belanda merangkul negara-negara Kepulauan Pasifik untuk mengembangkan kerja sama konkret di bidang penanggulangan dampak perubahan iklim. 

“Dalam memerangi dampak perubahan iklim, kemitraan sangat dibutuhkan. Kami dukung kolaborasi lebih lanjut sebagai tindak lanjut kegiatan kita hari ini,” kata Zarak Khan, Direktur Program dan Inisiatif dari Sekretariat Pacific Islands Forum (PIF), seperti dijelaskan Enjay. 

Inisiatif ini menjadi sarana untuk memperkuat kemitraan Indonesia, Belanda, dan negara-negara di Kawasan Pasifik. Kegiatan dihadiri lebih dari 100 orang peserta dari berbagai latar belakang tersebut, termasuk pejabat pemerintah, akademisi dan pakar dari Indonesia, Belanda, dan Pasifik. 

Kegiatan itu menghadirkan enam orang narasumber, meliputi Duta Besar Fiji di Jakarta, Direktur Adaptasi Perubahan iklim KLHK RI, pakar bidang lingkungan dan perubahan iklim dari Indonesia, Belanda, UNEP, dan Sekretariat PIF. 

“Perubahan iklim, sebagaimana tantangan lingkungan lainnya, memiliki dampak yang sangat besar terhadap ekonomi, masyarakat, dan bahkan politik. Oleh karena itu, Indonesia terus menjadi contoh dan telah berhasil kurangi tingkat deforestasi hingga 75 persen, terendah dalam sejarah,” ujar Direktur Jenderal Amerika dan Eropa, Kementerian Luar Negeri RI, Duta Besar Ngurah Swajaya dalam sambutan pembukaan. 

Turut memberikan sambutan pembukaan adalah Climate Envoy Belanda, Pangeran Jaime de Bourbon de Parme, “Kita tidak dapat terus bersandar pada prinsip business as usual. Kita berkumpul di kegiatan ini untuk mendengarkan ide-ide baru, pemikiran-pemikiran di luar yang biasanya untuk perangi bersama tantangan perubahan iklim," ujarnya. 

Kegiatan ini menghasilkan tiga pokok rekomendasi. Pertama, komitmen pembentukan kerja sama segitiga Indonesia-Belanda-Pasifik. Kedua, pembentukan Pacific-Indonesia-Netherlands Network (PINN), yang beranggotakan unsur pemerintah, masyarakat, akademisi dan pakar, serta masyarakat sipil. Dan ketiga, prioritas kerja sama penanggulangan dampak perubahan iklim meliputi rehabilitasi pesisir pantai, pariwisata dan perikanan.  

“Mengatasi dampak perubahan iklim adalah komitmen bersama kita, dan menindaklanjuti hasil-hasil pertemuan hari ini akan menjadi bukti komitmen bersama kita tersebut," disampaikan Duta Besar Tri Tharyat, Staf Ahli Menlu RI Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan menutup rangkaian kegiatan workshop tersebut.
Baca juga: Gletser Afrika mencair, jutaan orang terancam bencana kekeringan dan banjir
Baca juga: Komitmen Indonesia atasi perubahan iklim dunia dapat apresiasi Komisi Eropa
Pewarta :
Editor : Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2021