UMKM di tengah prahara COVID-19

id andi desfiandi,umkm corona

UMKM di tengah prahara COVID-19

Andi Desfiandi SE MBA PhD (ANTARA/HO) (ANTARA/HO)

Barangkali ini adalah momentum UMKM Indonesia untuk naik kelas dengan meningkatkan daya saingnya dan mengawal Indonesia untuk bangkit dan meraih kemenangan
Bandarlampung (ANTARA) - Hanya ada dua skenario ekonomi Indonesia, bahkan dunia, di saat prahara pandemi COVID-19 ini, yaitu skenario buruk dan sangat buruk bahkan kolaps.

Sangat buruk bahkan kolaps, apabila hingga akhir tahun 2020, bahkan tahun depan masih belum usai dan pergerakan manusia, barang dan jasa masih sangat terbatas atau dibatasi.

Saya secara pribadi memprediksi bahwa tidak ada satu pun negara di dunia mau melakukan pembatasan ekonomi dan sosial hingga akhir tahun, bahkan hingga tahun depan.
Sekalipun misalnya vaksin dan obatnya belum ditemukan dan juga tidak ada satu pun ahli yang memastikan COVID-19 ini tidak akan bermutasi.

Tidak ada satu pun negara di dunia yang sanggup bertahan dengan pembatasan ekonomi dan sosial hingga akhir tahun, apalagi hingga tahun depan karena artinya ekonomi dunia akan lumpuh total dan bahkan banyak negara yang akan bangkrut.

Karakteristik krisis moneter (krismon) tahun 1998 sangat berbeda dengan saat ini, karena pada saat krismon hanya berdampak kepada sebagian sektor ekonomi saja, dan bahkan sektor usaha mikro kecil menengan (UMKM) berjaya dan menjadi dewa penyelamat perekonomian nasional.

Sedangkan saat ini seluruh sektor ekonomi dan kehidupan terdampak secara merata termasuk yang berskala raksasa hingga UMKM.

Begitupula dengan Depresi Ekonomi Dunia tahun 1930 yang lalu, karena saat itu baru sedikit negara yang maju dan berkembang, sebagian besar negara di dunia masih masuk negara miskin.

Size ekonomi saat itu juga masih jauh lebih kecil dibandingkan saat ini dimana sekarang negara di dunia sudah banyak yang menjadi negara maju dan berkembang serta jenis usaha dan industri sudah sangat jauh berkembang dibandingkan 1930.

Sehingga banyak analis mengatakan dampak enonomi akibat COVID-19 akan lebih buruk dari great depression tahun 1930 dan krisis ekonomi lainnya yang pernah terjadi.

Saya mengambil kesimpulan bahwa Indonesia termasuk negara-negara lain di dunia tidak akan menunggu hingga COVID-19 ini usai total, karena tidak ada yang mampu memprediksi kapan pandemi ini akan berakhir termasuk juga kemungkinan virus tersebut bermutasi.

Sehingga akan muncul kebijakan campuran (mix policy) yang akan diambil pemerintah, yaitu tetap menjalankan protokol kesehatan, tapi terpaksa hidup berdampingan dengan COVID-19 alias berdamai dengan keadaan.

Dengan kata lain kehati-hatian akan virus tersebut tetap dilakukan, namun sektor ekonomi akan mulai dihidupkan kembali secara bertahap, dan tidak akan menunggu virus tersebut benar-benar bisa dikalahkan dengan tuntas.

Apakah langkah tersebut memiliki risiko?

Seperti buah simalakama, semua ada risikonya mana pun yang akan dilakukan termasuk tetap melakukan pembatasan yang ketat bahkan menutup negara sekalipun dari seluruh aktivitas.

Apa pun keputusan yang akan diambil kita semua harus bersiap karena apa pun pendekatan atau kebijakan yang akan diambil baik itu campuran ataupun menunggu hingga pandemi ini usai.

Perubahan sudah pasti akan terjadi tanpa harus menunggu apa yang akan kita lakukan, perubahan tatanan atau pun peradaban akan terjadi baik untuk sebagian dari kita maupun seluruh dunia.

Manusia saat ini dan nanti setidaknya untuk sementara waktu akan menjadi lebih religius, lebih higienis, lebih suka di rumah atau bersama keluarga, lebih jarang bepergian, lebih senang berbelanja via online, lebih menyukai barang yang murah, lebih hati-hati membelanjakan uang, lebih hemat, lebih sensitif, lebih praktis, dan sebagainya.

Morgan Stanley memprediksi bahwa beberapa negara akan mengalami recovery ekonomi dengan cepat pasca COVID-19, yaitu Jepang, Tiongkok (China), India, Filipina, dan Indonesia.

Dan saya setuju dengan prediksi tersebut. dikarenakan negara-negara di atas memiliki kelebihan dibandingkan negara lain, yaitu:

1. Jumlah penduduk yang banyak, sehingga pasar domestiknya begitu luas.
2. Angkatan kerja yang produktif juga melimpah.
3. Mayoritas pelaku usaha di negara-negara tersebut adalah UMKM dan mikro yang selama ini dikenal sebagai penyumbang perekonomian yang signifikan di negara-negara tersebut.
4. Sumber daya alam yang relatif melimpah dan beragam terutama di sektor pangan dan kebutuhan pokok manusia lainnya.
5. Jepang mungkin karena terbukti setelah Perang Dunia II mampu bangkit dengan cepat dan sudah terbiasa dengan bencana di negaranya.

Bagaimana kemudian peluang UMKM Indonesia yang juga mengalami pukulan yang kuat dan sudah mulai banyak yang berjatuhan, dan upaya yang dilakukan untuk bisa bertahan dan mengambil manfaat saat "rebound" pasca-COVID-19 nanti?

Berikut beberapa upaya yang perlu dilakukan oleh UMKM :

1. UMKM harus mulai mempersiapkan diri untuk meningkatkan daya saing produknya termasuk kapasitas dan kapabilitas manajemen dan SDM sekaligus juga menyesuaikan "Bisnis Model"

2. UMKM harus mampu memprediksi kebutuhan manusia atau pelanggannya yang sudah mulai berubah, dimana pelanggan saat ini lebih mengutamakan kemudahan dan harga terjangkau serta kualitas yang juga baik.

3. UMKM harus mampu beradaptasi dengan perubahan dan terus melakukan inovasi produknya dan juga mampu menerapkan teknologi yang sederhana sekalipun untuk peningkatan kualitas produk dan pelayanannya.

4. UMKM juga harus mampu melakukan kolaborasi secara holistik dengan mitra-mitra UMKM bahkan juga dengan perusahaan swasta besar dan BUMN, bahkan juga dengan BumDES.

5. Kepuasan pelanggan adalah kunci memenangkan persaingan dengan mengetahui apa yang diinginkan pelanggan dan mendeliver produk dengan cepat, tepat, harga terjangkau dan kualitas yang memadai.

6. UMKM harus meningkatkan kemampuan dalam penggunaan teknologi informasi karena Teknologi Informasi (IT) adalah kebutuhan agar mampu mengadopsi perkembangan ekonomi digital termasuk e-Commerce.

7. UMKM harus melakukan inovasi salah satunya dengan melakukan marketing intelligence dan marketing research agar produk yang dihasilkan sesuai kebutuhan pasar dan produknya memiliki keunikan dibandingkan pesaing. Sudah saatnya pelaku UMKM melakukannya karena dulu kegiatan tersebut hanya dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar dan multinasional saja.

UMKM memiliki peluang lebih besar untuk lebih cepat bangkit dibandingkan perusahaan besar yang sudah tumbang, karena usaha yang dilakukan oleh perusahaan besar untuk bangkit lebih berat dibandingkan UMKM.

Sementara UMKM bisa langsung bangkit dan produknya lebih banyak dibutuhkan dan mudah diperoleh oleh pelanggan, apalagi kalau pola kolaborasi dan sinergitas mampu dibangun dengan pelaku-pelaku UMKM lainnya bahkan dengan BUMN dan BumDES.

Dengan kolaborasi, maka pangsa pasar akan semakin luas, produk akan semakin beragam, kualitas akan terstandarisasi, sumber bahan baku akan semakin banyak, kecepatan dan ketepatan delivery akan lebih terjamin dan harga bisa ditekan.

Apalagi saat ini beragam kebijakan dan relaksasi diberikan pemerintah kepada UMKM seperti relaksasi pajak, relaksasi kredit, akses modal dan kebijakan-kebijakan lainnya.

Perubahan perilaku konsumsi dari konsumen harus mampu diprediksi dan diproduksi oleh UMKM, untuk itu adaptasi terhadap perubahan harus dilakukan agar mampu menawarkan produk yang benar-benar dibutuhkan oleh konsumen nantinya.

Jepang, Tiongkok, Prancis, Kanada, dan negara-negara yang saat ini maju juga awal kemajuannya adalah dengan mendorong sektor UMKM untuk memiliki daya saing yang tinggi.

Barangkali ini adalah momentum UMKM Indonesia untuk naik kelas dengan meningkatkan daya saingnya dan mengawal Indonesia untuk bangkit dan meraih kemenangan.
Wallahualam.

*) Andi Desfiandi SE MBA PhD, Ketua Yayasan Alfian Husin, mantan Rektor IBI Darmajaya Lampung.
Pewarta :
Editor : Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar