Virus corona berdampak pada industri fesyen global

id Fashion, fesyen, virus corona, dampak virus corona, pagelaran busana batal

Virus corona berdampak pada industri fesyen global

Pecinta fesyen asal Lithuania Gerda Liudvinaviciute, Ingrida Jasinske dan Ruta Petrauskaite mengenakan masker untuk menghindari virus corona, dalam acara Fashion Scout yang merupakan bagian dari rangkaian acara London Fashion Week Februari 2020 di Victoria House, Bloomsbury, London. (ANTARA/Reuters)

Jakarta (ANTARA) - Seiring menyebarnya virus corona jenis baru atau COVID-19, banyak industri global yang terdampak tak terkecuali industri fesyen.

Sejak akhir Januari 2020, penyebaran virus itu kian menjadi di berbagai negara, termasuk negara-negara dengan jadwal pagelaran busana global sebesar di China, Korea Selatan, Italia, Amerika, dan beberapa wilayah Eropa.

Wabah virus menghantam Italia bertepatan dengan berakhirnya Milan Fashion Week, kemudian menjadi penyebab utama pembatalan sejumlah pertunjukan pagelaran busana, pembatalan acara fesyen lainnya, hingga penurunan angka penjualan di industri fesyen.

Beberapa pekan mode besar juga mengaku mengalami penurunan pengunjung dan pembeli dari China, akibat adanya pembatasan perjalanan baik dalam dan luar Cina. Padahal sekitar 40 persen pelanggan produk fesyen mewah yang sebagian besar ditampilan di pekan mode global ini berasal dari Cina, seperti dilaporkan Reuters.



Banyak perusahaan mode dan kecantikan menghadapi dampak finansial akibat wabah virus yang mempengaruhi jumlah produksi dan permintaan pasar.

Capri Holdings, perusahaan yang menaungi rumah mode mewah seperti Michael Kors, Versace dan Jimmy Choo ini, telah menutup 150 toko di Cina dan memproyeksikan pendapatannya pada kuartal berikutnya akan turun sekitar 100 juta dolar.

Sama halnya dengan Tapestry Inc, perusahaan yang memiliki label fesyen Coach, Kate Spade dan Stuart Weitzman ini mengatakan mungkin kehilangan 250 juta dolar dalam penjualan di paruh kedua tahun ini.

Batal dan diundur
 
Pengunjung Seoul Fashion Week 2019. (ANTARA/Shutterstock)


Akibat wabah, tidak hanya penutupan toko-toko di wilayah China dan Korea, namun seluruh acara sosial juga dibatalkan. Salah satu yang terdampak adalah Seoul Fashion Week 2020 yang dinyatakan batal.

Seoul Fashion Week yang dijadwalkan pada 17-21 Maret telah dinyatakan dibatalkan menyusul lonjakan kasus virus corona di negara ini.

Menurut The Korea Herald, sekitar 165 calon pembeli diundang ke Seoul Fashion Week pada musim sebelumnya, yang terdiri dari 135 pembeli Asia dan 30 pembeli dari Amerika Serikat dan Eropa.

Selain itu sebanyak 36 label fesyen dan rumah mode pun sudah dijadwalkan untuk memamerkan koleksi baru mereka di panggung pagelaran busana. Namun semua harus dibatalkan akibat wabah ini.

Shanghai Fashion Week dan China Fashion Week Beijing, yang semula dijadwalkan masing-masing untuk 26 dan 25 Maret juga mengalami penundaan.
 

Sementara Rakuten Tokyo Fashion Week yang dijadwalkan akan dimulai pada 16 Maret pun belum membuat pengumuman terkait kelanjutan acara modenya.

Tidak sampai di situ, sejumlah pagelaran busana tunggal oleh rumah mode mewah seperti Prada, Gucci hingga Ralph Lauren dinyatakan batal akibat wabah ini.

Rumah mode Ralph Lauren pada pekan ini telah membatalkan peragaan busana yang seharusnya digelar pada bulan April mendatang di Kota New York, Amerika Serikat, karena wabah virus corona.

Ralph Lauren yang memilih untuk tidak tampil dalam ajang New York Fashion Week, sebelumnya berencana untuk membuat pagelaran busana tunggal untuk memamerkan koleksi Musim Gugur 2020 karyanya.

Namun pihak rumah mode itu akhirnya memilih untuk menjadikan kesehatan dan keselamatan seluruh pihak terkait menjadi prioritas utama mengingat jumlah kasus virus corona yang dikonfirmasi di Amerika Serikat terus mengalami peningkatan.



Digelar daring
 

Shanghai Fashion Week pada pekan ini telah mengumumkan bahwa komite akan tetap menyelenggarakan acara fesyen besar tahunan, namun ajang ini akan digelar secara daring, dengan bekerjasama dengan marketplace Alibaba Group’s (BABA.N) Tmall.

Pihak penyelenggara Shanghai Fashion Week sebelumnya terpaksa mengumumkan perubahan tanggal pagelaran yang seharusnya digelar pada Februari, akibat wabah virus corona di China.

Namun, komite Shanghai Fashion Week mengatakan pada hari Kamis (28/2) dalam sebuah pernyataan di akun resmi WeChat, bahwa acara tersebut akan berjalan sesuai rencana antara 24-30 Maret meskipun secara streaming.



Dikatakan saat ini mereka menerima aplikasi dari berbagai label dan berharap bahwa lebih dari 100 desainer dan label fesyen China pada akhirnya akan menampilkan desain Musim Gugur/Musim Dingin 2020 dan juga menggunakan streaming langsung untuk memasarkan produk mereka.

"Kami berharap bentuk baru ini akan memungkinkan para desainer untuk mencoba berbagai cara untuk menampilkan desain dan saluran yang berbeda untuk memasarkan dan menjual," kata Wakil Sekretaris Komite Shanghai Fashion Week Lu Xiaolei, dikutip dari Business of Fashion, Jumat.

Sebelum Shanghai Fashion Week, rumah mode asal Italia Giorgio Armani sudah lebih dulu menggelar pagelaran busana secara daring demi menjaga keselamatan dan kesehatan seluruh pihak terkait akibat penyebaran virus corona.

Rumah mode legendaris itu membatalkan pertunjukan pada hari Minggu (23/2) jam 4 sore dan memilih menayangkan lewat internet demi keamanan para tamu setelah lebih dari 130 kasus virus corona merebak di Italia utara.

"Acara akan ditampilkan di balik pintu tertutup, karena perkembangan terbaru dari virus corona di Italia, disiarkan langsung di depan teatro [teater] kosong di situs web Armani, oleh karena itu tolong jangan menghadiri pertunjukan sore ini," kata rumah mode Armani dalam sebuah pernyataan.

Ini adalah pertama kalinya rumah mode Armani yang berusia 45 tahun itu membatalkan pertunjukan karena masalah kesehatan masyarakat.
 
Pewarta :
Editor : Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar