Demo Mahasiswa IAIN Lampung Berakhir Ricuh

id Demo Mahasiswa IAIN Lampung, Demo IAIN Lampung Ricuh, IAIN Lampung

Aksi demo mahasiswa IAIN Raden Intan Lampung yang ricuh. (FOTO: ANTARA Lampung/Tommy Saputra)

Sejumlah mahasiswa sempat diamankan, namun kembali dibebaskan oleh pihak kepolisian dan hanya mendapatkan pengarahan.
Bandarlampung (ANTARA Lampung) - Demonstrasi mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Raden Intan Lampung yang mempersoalkan infak nominal berakhir ricuh karena terjadi saling dorong dengan pihak keamanan kampus setempat.

Demo mahasiswa di Kampus IAIN Raden Intan Lampung, di kawasan Sukarame Kota Bandarlampung, Jumat (20/5) sore, awalnya berlangsung damai.

Namun aksi itu kemudian menjadi ricuh, karena terjadi saling dorong, dan ada pihak yang melempar kaca rektorat hingga pecah, sehingga pihak keamanan kampus terpancing lalu keluar melakukan tindakan fisik kepada massa demonstran dibantu oleh pihak kepolisian.

Sejumlah mahasiswa sempat diamankan, namun kembali dibebaskan oleh pihak kepolisian dan hanya mendapatkan pengarahan.

Bentrokan itu dipicu oleh tuntutan mahasiswa yang ingin bertemu dengan rektor untuk menanyakan secara langsung dugaan pungutan liar (pungli) yang ditengarai terjadi di Fakultas Tarbiyah dan menyoal infak bernominal di kampus perguruan tinggi negeri bernuansa Islam tersebut.

Sebelumnya, sebanyak tujuh mahasiswa institut ini melakukan aksi mogok makan, hingga dua dari tujuh orang tersebut yakni Asep Sugiarto dari Fakultas Dakwah dan M Ilham Ramadani Fakultas Tarbiyah harus dirujuk ke Rumah Sakit Imanuel Bandarlampung.

Aksi mogok ini telah dilakukan mereka sejak Selasa (17/5) lalu hingga pada hari keempat Jumat (20/5) tidak ada tanggapan dari pihak kampus, sehingga akhirnya para mahasiswa melakukan demonstrasi dengan menyegel seluruh gedung fakultas.

Koordinator Aksi Muhar Efendi mengatakan bahwa pungli di Fakultas Tarbiyah sangat mencolok dengan dosen yang meminta uang munaqosah (ujian skripsi) Rp50 ribu per mahasiswanya, lalu para dosen penguji itu sengaja meminta roti yang bermerek dan minuman yang bersoda, kesemua itu atas dasar permintaan dosen penguji.

"Lalu infak nominal masjid yang sedang dibangun tahun ini mencapai Rp750 ribu bagi mahasiswa baru yang tertuang di dalam slip pembayaran yang ditetapkan oleh pihak rektorat," kata dia.

Mahasiswa juga menyoal dugaan pelecehan seksual terjadi pada 26 April ketika sejumlah elemen mahasiswa melakukan aksi, oknum satpam tersebut dilaporkan telah meraba bagian dada mahasiswi. Persoalan ini masih dalam proses di pihak kepolisian.

"Kami meminta oknum yang melakukan pelecehan agar dapat meminta maaf hari ini, namun malah dibalas dengan aksi tidak bagus dari rekan satpam lainnya," kata dia pula.
Pewarta :
Editor: Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar