Buaya serang wisatawan, seorang tewas

id Buaya serang wisatawan, penangkaran buaya

Ilustrasi/Warga Desa Sukorahayu Kecamatan Labuhan Maringgai Kabupaten Lampung Timur digegerkan kemunculan buaya di aliran Sungai Sukorahayu yang merupakan sungai pembatas Desa Sukorahayu dengan hutan Taman Nasional Way Kambas, Jumat (8/5) (Foto anta

Harare (Antara/Reuters) - Seorang wisatawan berusia 90 tahun tewas sementara satu turis lainnya terluka parah setelah diserang segerombolan buaya saat mereka tengah mendayung perahu karet di Taman Nasional Matopos di Zimbabwe, kata petugas setempat pada Jumat.
         
John Bowman (90) dan Rosemary Mitchell (65) tengah mendayung kano di Bendungan Mpopoma, yang sudah terkenal menjadi habitat buaya, saat kapal mereka diserang, kata juru bicara Otoritas Manajemen Taman dan Satwaliar, Tinashe Farawo, kepada Reuters.
         
Bowman dan Mitchell adalah warga Zimbabwe.
         
"Buaya-buaya itu menyerang perahu karet berisi udara sampai bocor. Beberapa wisatawan lain baru sadar kalau kedua orang itu tengah tenggelam dan langsung mencari bantuan," kata Farawo.
         
"Saat para penjaga taman tiba di bendungan, Bowman dan Mitchell masih diserang oleh kawanan buaya," kata dia.
         
Serangan buaya adalah insiden yang sering terjadi di negara yang terletak di sebelah selatan garis ekuator benua Afrika tersebut.
         
Serangan itu biasanya muncul saat telur-telur buaya mulai menetas dan para betina meninggalkan sarangnya--yang mereka jaga selama tiga bulan tanpa makan.
         
"Para penjaga harus menembaki buaya-buaya itu untuk mengusir mereka dan menyelematkan dua korban," kata Farawo.
         
"Keduanya segera dibawa ke rumah sakit, tempat Bowman meninggal sebelum tiba. Mitchell menderita cedera yang membahayakan nyawa dan masih dirawat di unit perawatan intensif di Bulawayo,"
    
Buaya biasaya menggigit mangsanya di bagian kaki atau tangan, lalu memutar mereka dalam "putaran mematikan" yang membuat sang korban lemah karena tenggelam.
Editor: Hisar Sitanggang
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar