Argoforestri mampu menambah penghasilan petani kopi

id Petani kopi,Sistem agroforestri,Kopi

Argoforestri mampu menambah penghasilan petani kopi

Koordinator Livelihood Bestari-WWF Indonesia, Sutarno, saat dimintai keterangan, Selasa (17/12/2019) (ANTARA/Dian Hadiyatna)

Bandarlampung (ANTARA) - Koordinator Livelihood Bestari-WWF Indonesia, Sutarno, mengatakan sistem agroforestri atau tumpang sari dimana tanaman kopi ditanam bersama  tanaman keras lainnya, mampu menambah penghasilan para petani kopi.



"Selain itu, sistem ini juga dapat mencegah perambahan dan menekan laju deforestasi (penggudulan hutan)," katanya di Bandarlampung, Selasa.



Menurutnya, petani kopi harus bisa mengoptimalkan produktivitas lahan kopi yang dimiliki dengan menanam tanaman yang bernilai ekonomi seperti alpukat, jengkol, petai, dan lainnya, sehingga pendapatan mereka tidak hanya monokultur atau dari hasil tanam kopi saja.



Sistem agroforestri juga bisa diterapkan di kebun kopi yang berlokasi di lahan konservasi. Dengan sistem ini pula lahan kopi yang ada baik itu milik warga maupun di wilayah konservasi akan semakin baik karena ada tutupan dari tanaman-tanaman lainnya.



Dengan tutupan lahan yang baik maka biodiversitas (keanekaragaman biologi) tanah juga meningkat karena sinar matahari tidak langsung menyinari tanah sehingga hewan seperti cacing yang berfungsi untuk menggemburkan tanah dan hewan polinator atau penyerbuk seperti tawon juga ada.



Ia mengatakan bahwa kedua hewan tersebut sangat dibutuhkan oleh petani kopi untuk peningkatan produktivitasnya sehingga mereka tidak lagi merambah hutan hingga ke dalam kawasan konservasi.



"Bila kita lihat alasan para petani membuka lahan lebih luas di hutan konservasi adalah untuk meningkatkan pendapatan, dengan agroforestri, kemungkinan mereka enggak mau merambah lagi karena ada penghasilan tambahan dari tanaman lainnya," ujarnya.



Sementara itu, CCROM SEAP IPB, Syamsu Dwi Jadmiko, menjelaskan bahwa hutan merupakan salah satu tempat cadangan air atau wilayah tadah hujan.



Sehingga apabila alih fungsi lahan hutan menjadi pertanian terus dilakukan ini akan berpengaruh pada kondisi iklim, baik secara makro maupun mikro termasuk juga konservasi airnya.



"Tentunya bila hutan terus berkurang sudah pasti akan ada perubahan kondisi suhu maupun ekosistem," katanya.



Menurutnya, pola tanam agroforestri dapat dilakukan untuk meningkatkan ketahanan wilayah dari perubahan iklim di samping juga mampu meningkatkan produksi kopi serta menjaga biodiversitas.



"Agroforestri adalah salah satu contoh proses mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim. Jadi di samping mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, agroforestri juga menjadi salah satu nilai tambah pendapatan petani kopi," ujarnya.

Pewarta :
Editor : Hisar Sitanggang
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar