Festival Garis Imajiner Sleman sebagai sarana mengedukasi masyarakat

id festival garis imajiner,festival budaya sleman,budaya yogyakarta

Salah satu atraksi budaya masyarakat di Kabupaten Sleman. (HO/Dinas Kebudayaan Sleman)

Sleman (ANTARA) - Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman di Daerah Istimewa Yogyakarta menggelar Festival Garis Imajiner pada 13 hingga 15 September untuk mengedukasi masyarakat mengenai makna sumbu filosofis Gunung Merapi-Tugu Pal Putih-Keraton Yogyakarta-Panggung Krapyak-Pantai Selatan.

"Sejarah berdirinya Keraton Ngayogyakarta maupun Yogyakarta ini tidak bisa lepas dari garis imajiner yang memiliki sumbu filosofis yakni Tugu, Keraton, dan Panggung Krapyak, yang dihubungkan secara nyata berupa jalan," kata Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman Aji Wulantara di Sleman, Kamis.

Sumbu filosofis tersebut, menurut dia, memiliki makna keseimbangan antara hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama manusia, serta manusia dengan alam.

"Semua itu menempatkan Keraton berada tepat di tengah-tengah keduanya. Sebagai pusat," katanya.

Melalui Festival Garis Imajiner, ia mengatakan, Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman berupaya mengedukasi masyarakat agar memahami sejarah DIY serta nilai-nilai filosofis di dalamnya.

"Garis ini memang imajiner, tapi setidaknya bisa diwujudkan dengan perilaku budaya masyarakat," katanya.

"Keistimewaan DIY tidak bisa lepas dari konsep garis imajiner tersebut. Kami di Sleman punya komitmen untuk menjaga Yogyakarta tetap istimewa," katanya.

Aji mengatkan, Festival Garis Imajiner merupakan representasi peneguhan keistimewaan DIY, dalam hal ini dilihat dari perspektif Sleman sebagai kiblat utara, salah satu bagian dari konsep "kiblat papat lima pancer".

"Konsep itu merupakan konsep pembangunan kebudayaan di Kabupaten Sleman," katanya.

Ia mengatakan, festival akan menjadi pengingat bagi generasi muda yang sudah mulai lupa dan mulai meninggalkan budaya daerah.

"Nanti akan kami canangkan Penanda Garis Imajiner di Sleman," katanya.

Festival Garis Imajiner 2019 mencakup pentas aneka kesenian dan budaya daerah, termasuk penampilan dari 1.315 penari dan festival jathilan.

Kontingen dari luar daerah seperti Probolinggo dan Wonosobo juga akan berpartisipasi dalam festival yang tahun ini akan dipusatkan di Museum Gunungapi Merapi.
 
Pewarta :
Editor: Hisar Sitanggang
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar