Polisi Hong Kong tembakkan gas air mata bubarkan massa prodem

id Protes Hong Kong,China

Polisi Hong Kong tembakkan gas air mata bubarkan massa prodem

Polisi menembakkan gas air mata sementara demonstran berlindung di balik barikade saat aksi protes di Tsuen Wang, Hong Kong, China, Minggu (25/8/2019). ANTARA/REUTERS/Thomas Peter/pri (REUTERS/Thomas Peter)

Protes tersebut terjadi paling belakangan dalam serangkaian protes selama tiga bulan,
Hong Kong (ANTARA) - Polisi Hong Kong menembakkan gas air mata dan meriam air pada Sabtu untuk membubarkan protes pro-demokrasi yang telah menjerumuskan kota yang dikuasai China itu ke dalam krisis politik terburuk dalam beberapa dekade terakhir.

Polisi menembakkan gas air mata ke arah pengunjuk rasa yang berlindung di balik payung antara markas besar Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) China dan markas besar pemerintah. Para pengunjuk rasa membalas dengan melemparkan batu bata ke polisi.

Bentrokan itu terjadi pada peringatan kelima tahun keputusan China untuk membatasi reformasi demokrasi di bekas jajahan Inggris, yang kembali ke China pada 1997.

PLA pada Kamis merotasi pasukannya di Hong Kong dalam apa yang dikatakan sebagai operasi rutin. Markas besar Hong Kong mereka adalah bekas markas pasukan militer Inggris.

Orang-orang turun ke jalan dalam sebuah demonstrasi yang sebagian besar damai, banyak yang bergabung dengan "Pawai Kristen" dari distrik hiburan Wanchai dan berkumpul di sebelah Dewan Legislatif, kantor yang diserbu oleh para aktivis dalam protes sebelumnya.

Demonstran lain, banyak yang memakai topeng hitam, berbaris di distrik perbelanjaan Causeway Bay.

Protes tersebut terjadi paling belakangan dalam serangkaian protes selama tiga bulan, beberapa di antaranya telah berubah menjadi kekerasan, menargetkan bandara, badan legislatif dan Kantor Penghubung yang menjadi simbol pemerintahan China.

"Hong Kong memiliki kebebasan beragama," kata Sally Yeung, 27, seorang Kristen, kepada Reuters. "Kami berdoa di tempat pemeriksaan yang berbeda dan berdoa agar keadilan tiba di Hong Kong. "Jika mereka menuntut kami hanya karena kami berdoa, mereka melanggar kebebasan beragama kami."

Berada di bawah payung di luar kantor pemerintah, Eric, seorang mahasiswa berusia 22 tahun, menegaskan bahwa melarang orang untuk tidak memprotes sama saja dengan melarang mereka untuk tidak bernapas.

"Saya merasa ini adalah tugas saya untuk memperjuangkan demokrasi," katanya. "Mungkin kita menang, mungkin kita kalah. Tapi kita berjuang."

Polisi mendirikan penghalang plastik berisi air di sekitar gedung-gedung utama pemerintah dan dua meriam air, yang digunakan untuk pertama kalinya akhir pekan lalu, diparkir di dekat Kantor Penghubung.


"MENIRU AIR"

Polisi menangkap sejumlah aktivis pro-demokrasi dan tiga anggota parlemen pada Jumat, berusaha mengendalikan gerakan yang dipicu oleh kemarahan atas undang-undang yang memungkinkan ekstradisi ke China Daratan untuk diadili. Protes tersebut segera meluas ke seruan untuk demokrasi di tengah kekhawatiran China merampas kebebasan Hong Kong.

Namun aksi protes terakhir tidak ada yang memimpin. Slogan mereka "jadilah seperti air", artinya fleksibel. Para peserta protes pada Sabtu berbaris dimana-mana, ke arah mana saja yang membawa mereka, berkomunikasi dengan isyarat tangan sambil meneriakkan "dukung Hong Kong" dan "berjuang untuk kebebasan".

China menyangkal tuduhan ikut campur di Hong Kong, dan mengatakan bahwa masalah tersebut adalah urusan internal. Mereka mengecam protes dan memperingatkan terjadina kerusakan ekonomi.

China ingin memadamkan kerusuhan sebelum peringatan 70 tahun berdirinya Republik Rakyat China pada 1 Oktober mendatang, tetapi para pengunjuk rasa merusak sebuah spanduk merah panjang untuk perayaan tersebut dan aksi mereka mendapat dukungan kerumunan massa.

Beijing juga menuduh kekuatan asing, khususnya Amerika Serikat dan Inggris, mengobarkan demonstrasi dan memperingatkan terhadap campur tangan asing.

Hong Kong kembali ke China di bawah formula "satu negara, dua sistem" yang memungkinkannya untuk menjaga kebebasan tidak dinikmati di daratan, seperti kebebasan untuk memprotes dan sistem hukum yang independen.



Bentrokan antara pemrotes dan polisi, yang sering menembakkan gas air mata dan peluru karet untuk membubarkan kerumunan, tapi tindakan polisi dianggap berlebihan.

"Banyak orang dari luar sana berpikir bahwa polisi-lah yang pertama-tama meningkatkan (kekerasan)," kata seorang petugas kepolisian pada suatu pernyataan media. "Ini tidak benar."

Seorang polisi yang sedang tidak bertugas diserang Jumat malam oleh tiga pria tak dikenal dengan pisau di daerah pelabuhan kontainer Kwai Chung, sehingga menderita luka pada anggota badan dan punggungnya, kata polisi. Berita itu menjadi topik paling populer di Weibo, Twitter ala China.

Di saat para pengunjuk rasa dan pihak berwenang menghadapi jalan buntu dan Hong Kong menghadapi ancaman resesi pertama dalam satu dekade, spekulasi mulai berkembang bahwa pemerintah kota dapat memberlakukan undang-undang darurat, sehingga petugas keamanan diberi kekuasaan ekstra atas penahanan, sensor dan jam malam.

Anggota parlemen Fernando Cheung mengatakan, penangkapan tiga anggota legislatif bisa jadi memang dimaksudkan untuk menyebabkan lebih banyak kemarahan dan kekacauan, sehingga ada pembenaran untuk penggunaan undang-undang darurat.

"Memancing orang semakin banyak keluar untuk melakukan protes benar-benar kebijakan menggelikan," katanya kepada Reuters.
Pewarta :
Editor: Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar