Studi : Di India Diperkirakan Terjadi 15,6 juta Aborsi

id India, aborsi, kejahatan seksual

Studi : Di India Diperkirakan Terjadi 15,6 juta Aborsi

File/Saudari seorang perempuan India yang diperkosa dan dibakar, menangis selama proses penguburan di Greater Noida, dekat New Delhi pada 9 Maret 2016 (AFP/thenational.ae)

New Delhi (Antara/Thomson Reuters Foundation) - Sekitar 15,6 juta aborsi terjadi di India setiap tahun, dengan sebagian besar wanita meminum pil di rumah tanpa penyuluhan memadai, kata kajian pada Selasa, yang meminta dokter lebih terlatih di rumah sakit umum.
        
Penelitian Guttmacher Institute, yang berbasis di New York, menemukan bahwa pengguguran kandungan terjadi 22 kali lebih umum daripada perkiraan pemerintah, yang kurang dari 700 ribu pengakhiran nyawa, yang dihasilkan dengan memusatkan perhatian pada rumah sakit dan klinik kelolaan pemerintah.
        
Lebih dari 80 persen pengguguran kandungan terjadi dengan menggunakan obat, seperti, "mifepriston" dan "misoprostol", 14 persen dilakukan dengan operasi di klinik dan rumah sakit, dan lima persen dilakukan dengan menggunakan metode lain, yang biasanya tidak aman.
        
"Perempuan di India menghadapi tantangan cukup besar untuk mendapatkan perawatan pengguguran kandungan, termasuk keterbatasan layanan di sarana kesehatan masyarakat," kata peneliti Institut Guttmacher, Susheela Singh, dalam pernyataan.
        
"Temuan kami menunjukkan bahwa kekurangan staf terlatih serta suplai dan peralatan yang tidak memadai adalah alasan utama mengapa banyak fasilitas umum tidak menyediakan layanan aborsi," katanya mengenai penelitian tersebut, yang diterbitkan dalam jurnal Lancet Global Health.
        
Studi tersebut merupakan penelitian nasional pertama India tentang kejadian aborsi dan kehamilan yang tidak diinginkan, menurut para peneliti.
        
Separuh dari lebih 48 juta kehamilan di India merupakan kehamilan yang tidak diinginkan, dan sepertiga dari itu mengakibatkan aborsi, menurut studi tersebut, menggunakan data penjualan dan distribusi pil aborsi pada 2015 dan survei enam negara bagian yang berpenduduk padat.
        
Peneliti mengatakan bahwa hampir 75 persen aborsi dicapai dengan menggunakan obat-obatan dari ahli kimia dan penjual obat tidak resmi, bukan dari fasilitas kesehatan di mana konseling dan pemeriksaan kesehatan yang tepat harus disediakan.
        
Selain itu, sektor publik - sumber utama perawatan kesehatan untuk perempuan pedesaan dan miskin - melaporkan hanya 25 persen aborsi, sebagian karena banyak rumah sakit dan klinik yang dikelola pemerintah tidak menawarkan layanan aborsi.

        
"Meskipun aborsi telah legal berdasarkan kriteria yang luas di India sejak 1971, kami tidak pernah memiliki perkiraan jumlah yang dapat dipercaya sampai sekarang," demikian Chander Shekhar dari Institut Ilmu Kependudukan Internasional yang berbasis di Mumbai, yang bekerja sama dalam studi tersebut.
        
"Bukti baru ini memberi informasi penting kepada pembuat kebijakan untuk merancang dan menerapkan program perawatan kesehatan reproduksi, yang efektif," tambahnya dalam pernyataan.
Antara/Thomson Reuters Foundation