Italia tutup semua kegiatan bisnis nonstrategis hingga 3 April

id Perdana Menteri Giuseppe Conte,bisnis non-strategis,epidemi virus corona,covid-19

Italia tutup semua kegiatan bisnis nonstrategis hingga 3 April

Penjual sayuran memakai masker pada hari keempat penutupan, yang belum pernah diberlakukan sebelumnya di seluruh negeri, untuk mencegah penyebaran virus corona baru (COVID-19) di Venesia, Italia, Jumat (13/3/2020). ANTARA FOTO/REUTERS/Manuel Silvestri/AWW/djo

Roma (ANTARA) - Perdana Menteri Giuseppe Conte mengatakan, Sabtu (21/3),  semua kegiatan bisnis di Italia harus ditutup hingga 3 April sebagai upaya menghentikan epidemi virus corona.

Kebijakan Perdana Menteri Conte itu tidak berlaku bagi bisnis yang penting atau strategis agar rantai pasokan negara bisa dipertahankan.

Italia mencatat lonjakan kematian akibat virus corona hampir 800 pada Sabtu.

Jumlah tersebut menambah daftar korban kematian di negara itu menjadi hampir 5.000 orang.

"Ini adalah krisis paling sulit dalam periode pasca perang," kata Conte dalam sebuah video yang dimuat di Facebook. 

"Hanya kegiatan produksi yang dianggap vital untuk produksi nasional yang akan diizinkan," ia menambahkan.

Toko swalayan, apotek, layanan pos dan perbankan akan tetap buka, kata Conte, dan beberapa layanan publik yang penting, termasuk transportasi, akan dipastikan tetap berjalan.

"Kami memperlambat mesin produksi negara tetapi tidak akan menghentikannya," katanya.

Pemerintah Italia diperkirakan akan menerbitkan dekrit darurat pada Minggu untuk membuat tindakan keras terbaru bisa segera berjalan efektif. 

Negara-negara terkaya di dunia mencurahkan bantuan yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk perekonomian global pada Kamis (19/3) saat jumlah kematian akibat COVID-19 di Italia sudah melebihi di China, tempat virus corona jenis baru itu muncul pertama kalinya.

Dengan hampir 228.000 infeksi dan lebih dari 9.200 kematian di seluruh dunia, epidemi tersebut mengejutkan dunia dan membuat orang membandingkannya dengan periode-periode menyakitkan seperti Perang Dunia Kedua, krisis keuangan 2008 dan flu Spanyol 1918.

"Kita berada dalam situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya dan aturan normal tidak lagi berlaku," ujar Sekjen PBB Antonio Guterres.

Para pembuat kebijakan di Amerika Serikat, Eropa dan Asia telah memangkas suku bunga dan membuka keran likuiditas untuk mencoba menstabilkan ekonomi yang dilanda rantai pasokan yang terputus, transportasi yang terganggu dan bisnis yang lumpuh.

Virus, yang diduga berasal dari satwa liar di daratan China akhir tahun lalu, telah menyebar ke 172 negara dan wilayah lain dengan lebih dari 20.000 kasus baru dilaporkan dalam 24 jam terakhir, yang merupakan rekor harian baru.

Sumber : Reuters



 
Pewarta :
Editor : Hisar Sitanggang
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar