Bank Mandiri minta BI kembali longgarkan kebijakan moneter

id Bank Mandiri,Bank Indonesia,Pertumbuhan ekonomi,Perang dagang,Gejolak ekonomi,Kebijakan moneter

Bank Mandiri minta BI kembali longgarkan kebijakan moneter

Direktur Keuangan dan Strategi Bank Mandiri Panji Irawan di Plaza Mandiri, Jakarta, Senin (9/9/2019). (ANTARA/AstridFaidlatulHabibah)

Jakarta (ANTARA) - PT Bank Mandiri meminta kepada Bank Indonesia agar kembali melonggarkan kebijakan moneter dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi nasional di tengah kecenderungan perlambatan dan ketidakpastian ekonomi global.

Direktur Keuangan dan Strategi Bank Mandiri Panji Irawan mengatakan bahwa sebenarnya BI bisa membuka ruang untuk melakukan pelonggaran kebijakan moneter karena stabilitas ekonomi yang baik dan terjaganya angka inflasi serta nilai tukar rupiah.

“Kami berharap kebijakan moneter ke depan akan lebih longgar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional,” katanya saat ditemui di Plaza Mandiri, Jakarta, Senin.



Panji menuturkan Bank Indonesia telah menurunkan suku bunga acuan Seven Days Repo Rate selama dua bulan berturut- turut yaitu Juli dan Agustus dengan masing-masing sebesar 25 basis points menjadi 5,5 persen

Menurutnya, hal tersebut sangat berperan penting dan efektif untuk memperbaiki dan menjaga stabilitas perekonomian di Indonesia akibat adanya berbagai gejolak global terutama terjadinya perang dagang antara Amerika Serikat dan Cina yang telah berdampak negatif terhadap penurunan kinerja ekspor melalui penurunan harga-harga komoditas.

“Perang dagang akan berdampak negatif terhadap ekonomi global karena akan menurunkan volume perdagangan dunia yang pada akhirnya bisa menekan pertumbuhan ekonomi dunia,” katanya.



Ia menuturkan pertumbuhan ekonomi Indonesia seperti pada kuartal I tahun 2019 sebesar 5,07 persen dan kuartal II 5,05 persen masih relatif lebih baik dibandingkan dengan beberapa negara emerging markets lainnya.

Ia mencontohkan Turki pada kuartal I terkontraksi sebesar 2,4 persen dan kuartal II kembali mengalami hasil negatif yaitu 1,5 persen (YoY). Selain itu, beberapa negara berkembang lain juga mencatatkan pertumbuhan yang lebih rendah daripada Indonesia seperti Malaysia 4,9 persen, Thailand 3,7 persen, Brazil 1,01 persen, dan Rusia 0,9 persen.

Selain itu, pihaknya juga memprediksikan nilai tukar rupiah hingga akhir 2019 akan tetap stabil meskipun terjadi tekanan ekonomi global yaitu berada di sekitar level Rp14.200 sampai Rp14.300 per dolar AS seiring adanya dukungan dari aliran modal asing yang masuk ke pasar obligasi sebesar Rp116 triliun dan pasar saham Rp59 triliun.

Panji melanjutkan bahwa inflasi pada 2019 diperkirakan sebesar 3,41 dan inflasi bulanan pada Agustus tercatat sebesar 3,49 persen sehingga angka tersebut masuk dalam rentang target Bank Indonesia yang sebesar 3,5±1 persen.

Neraca perdagangan juga mulai menunjukkan perbaikan karena angka defisit pada periode Januari sampai Juli 2019 berhasil diturunkan menjadi 1,9 miliar dolar AS. Hal tersebut menurun dibandingkan pada periode yang sama tahun 2018 sebesar 3,2 miliar dolar AS.
Pewarta :
Editor: Agus Wira Sukarta
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar