Warga Pangkalpinang tetap jaga tradisi "bertandang"

id Budaya bertandang pangkalpinang,Idul Fitri 1440 H, Idul Fitri 1440 di Lampung, Lebaran di Lampung, Arus mudik di Lampung, Arus balik di tol Lampun

Tradisi "bertandang" masih kental di Pangkalpinang, Bebel, dalam rangka menyemarakkan Hari Raya Idul Fitri, Kamis (6/6) (babel.antaranews.com/Ahmadi)

Pangkalpinang, (ANTARA) - Sejumlah warga di Kota Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung masih tetap mempertahankan kegiatan saling "bertandang" ke rumah sahabat dalam rangka merayakan hari kemenangan Idul Fitri 1440 Hijriah.

"Setelah melaksanakan Shalat Idul Fitri kami melanjutkan kegiatan saling kunjung bersilaturahim atau bertandang ke rumah kolega, keluarga dan tetangga," kata Saimi, seorang warga Pangkalpinang, Kamis.

Ia menjelaskan, bersilaturahim ke rumah kolega dan saling berjabattangan di hari yang fitri memang sudah biasa di negeri ini, namun khusus di Pangkalpinang kegiatan saling tandang berlangsung cukup lama yaitu bisa mencapai satu minggu.

"Bertandang di Pangkalpinang menjadi rutinitas tahunan di Hari Raya Idul Fitri dan bahkan sudah menjadi tradisi, dimana setiap warga membuka pintu rumah selama 24 jam bagi masyarakat yang ingin bertandang di hari kemenangan," ujarnya.

Sementara Riskiandri, warga yang lainnya mengatakan kendati kehidupan di Kota Pangkalpinang mengikuti perkembangan zaman, namun tradisi bertandang tidak lekang oleh waktu.

"Ini seolah sudah menjadi tradisi, bahkan sudah melekat di pikiran masyarakat bahwa saling bertandang sudah menjadi suatu keharusan sehingga ada rasa malu jika tidak membuka pintu rumah beberapa hari dalam bulan Syawal," ujarnya.

Sementara Paiman, seorang warga perantau yang sudah lama menetap di Kota Pangkalpinang awalnya mengaku merasa heran melihat berlebaran di Pulau Bangka begitu semarak.

"Praktis setiap rumah warga selalu ramai didatangi warga lainnya dalam kegiatan bertandang, bahkan ruas jalan cukup ramai dilewati kendaraan berlalu lalang oleh warga pergi bertandang," ujarnya.

Menurut dia, kegiatan bertandang di Pangkalpinang memiliki nilai sangat positif karena warga saling kunjung dan bersilaturahim.

"Di dalam Islam tentu itu sangat dianjurkan, namun ada sisi lain terkadang harus menjadi perhatian karena warga harus merogoh kantong cukup dalam untuk menyiapkan kegiatan bertandang," ujarnya.

Warga kota itu terkadang harus mengeluarkan uang mencapai puluhan juta untuk membeli aneka makanan dan kue dan membeli berbagai peralatan rumah untuk menyambut tamu yang bertandang.

"Memang di Pulau Bangka harus mengeluarkan uang lumayan banyak karena kegiatan bertandangnya bisa mencapai satu minggu, kalau di daerah lainnya cuma satu hari atau paling lama hanya dua hari," ujarnya. ***3***
Pewarta :
Editor: Hisar Sitanggang
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar