Jumat Agung mengajarkan kerelaan berkorban

id Jumat Agung

Seorang perempuan membantu putrinya menyentuh patung Yesus Kristus setelah menghadiri ibadah Jumat Agung di sebuah gereja di Kolkata, India, Jumat (19/4/2019). (REUTERS/RUPAK DE CHOWDHURI)

Kupang (ANTARA) - Perayaan Paskah dalam tradisi gereja Kristen dianggap sebagai hari yang sangat spesial, karena merupakan hari kemenangan dan menjadi salah satu faktor yang mendasari iman Kristiani.

Santo Paulus, salah seorang murid Yesus, pernah mengatakan bahwa jika Yesus tidak bangkit, maka sia-sialah ajaran yang disampaikannya, karena apabila Yesus tidak dibangkitkan maka manusia belum memiliki kepastian akan keselamatan.

Lalu, yang menjadi pertanyaan, apa saja yang harus dilakukan Yesus agar manusia bisa percaya bahwa Dia adalah Anak Allah? Dia harus berkorban dan melalui berbagai penderitaan. sampai akhirnya disalibkan pada masa pemerintahan Pontius Pilatus karena rakyat menuntut untuk menghukum dan menyalibkan Yesus.

Saat umat Kristiani sedunia memperingati Jumat Agung, bukan sebatas peringatan dukacita yang dialami Yesus, melainkan memandang kematian Yesus dari sisi lain yang maknanya jauh lebih luas. Salib di sini berarti beban atau penderitaan.

Bahkan, Yesus sendiri mengatakan bahwa siapa saja yang ingin mengikut-Nya, maka orang tersebut harus mau memikul salibnya sendiri. Artinya, sebagai orang Kristen harus memandang beban menjadi sebuah tanggungan, apakah itu tantangan atau penderitaan.

Memang benar bahwa salib Yesus menandakan bahwa hidup ini tidak akan selalu berjalan mulus. Namun, apakah ini akan mematahkan semangat hidup siapa pun sebagai orang Kristen?

Peristiwa penyaliban Yesus Kristus merupakan bukti kasih Allah kepada manusia. Dalam Alkitab dikatakan bahwa Allah mau menyerahkan Anak-Nya yang tunggal karena cinta-Nya yang begitu besar kepada manusia.

Dan hal ini dilakukan-Nya sebab Ia tahu bahwa manusia tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri, sehingga harus ada Penebus yang suci untuk dikorbankan.

Bahkan ketika Yesus di dunia, Ia menunjukkan melalui sikap-Nya seberapa besar pentingnya kasih. Bahkan saat Yesus menderita pun, Ia meminta Allah Bapa untuk mengampuni orang yang bersalah kepada-Nya, karena manusia memiliki banyak kelemahan yang bisa membuat mereka mudah jatuh ke dalam dosa.

Namun, Yesus tetap mengasihi musuh-musuh-Nya. Di sini, Yesus mau menunjukkan kepada semua orang bahwa tidak ada gunanya memendam kebencian kepada orang lain.

Membalas kejahatan dengan kejahatan tidak akan mengubah apapun, yang ada akan timbul kejahatan lainnya. Namun, apabila dibalas dengan kasih, maka kemungkinan besar orang lain akan berubah karena merasakan kasih yang diberikan.

Dan ini juga berkaitan dengan salah satu visi umat Kristiani sedunia, yakni menyebarkan kasih dimanapun berada, sebab kasih memiliki dampak besar bagi seseorang yang menerimanya.

Bahkan dalam Alkitab dituliskan bahwa manusia dapat mengasihi manusia lain dengan tulus, karena Allah terlebih dahulu menyatakan kasih-Nya kepada semua orang. Maka, tidak mengherankan jika semua gereja Kristen di jagat raya ini selalu mengajarkan tentang kasih.

Atas dasar itulah maka setiap orang Kristen hendaknya menjadikan Jumat Agung sebagai kesempatan untuk berbenah dan kembali membentuk tekad, sehingga Jumat Agung tidak hanya sebagai peringatan, melainkan dapat menjadi awal pembaharuan bagi umat Kristiani.

Berkorban
Dari sisi ini, Bangsa Indonesia tampaknya sangat membutuhkan seorang pemimpin yang penuh dengan pengorbanan untuk memayungi dan menaungi rakyat bangsa ini dari segala perbedaan, karena suku, agama, ras dan antargolongan yang sering menjadi biang perpecahan.

Apakah bangsa ini harus mencontoh dari model kepemimpinan Nelson Mandela, pahlawan anti apartheid dari Afrika Selatan yang telah menjadi legenda hidup saat ini?.

Sebab, model kepemimpinan yang diajarkan Nelson Mandela, tampaknya tidak hanya bagi bangsa Afrika saja, melainkan bagi seluruh penduduk di muka bumi ini.

Semua orang mengenalnya sebagai tokoh perjuangan pembebasan manusia kulit hitam di Afrika Selatan. Namun, jangan lupa,pengorbanan Mandela sangat luar biasa besar.

Siapa pun pasti tahu bahwa Mandela menghabiskan lebih dari seperempat umurnya di balik terali besi. Mandela memang pejuang kemerdekaan rakyat kulit hitam yang tangguh, sampai akhirnya dijebloskan ke penjara oleh para penguasa di Pulau Robben, sebuah pulau terpencil di Afrika Selatan.

Tetapi perjuangan anti-apartheid yang diinspirasikannya tak berhenti di situ. Perjuangan untuk merebut kedudukan warga negara yang merdeka dan terhormat di Tanah Air mereka sendiri telah menyebar.

Seluruh rakyat kulit hitam di Afrika Selatan bersatu menentang kebijakan politik menistakan martabat kemanusiaan itu. Perlahan perjuangan ini memperoleh dukungan dari dunia internasional.

Akhirnya, pada tanggal 11 Februari 1990, setelah 27 tahun hidup di penjara, Mandela dibebaskan. Pembebasan Mandela seiring dengan tekanan rakyat kulit hitam Afrika Selatan dan dunia internasional yang menuntut politik apartheid segera diakhiri.

Kini, politik apartheid sudah dihapuskan dari bumi Afrika Selatan. Mandela pun memilih menjalani masa tuanya bersama keluarga tercinta di desa Qunu, di bagian tenggara Afrika Selatan.

Tetapi kisah perjuangan Mandela akan selalu menjadi pelajaran bagi setiap orang di muka bumi ini. Visinya tentang demokrasi yang ideal dan masyarakat yang bebas masih tetap relevan sepanjang zaman. Karena hanya dengan cara itulah setiap orang dapat hidup bersama secara harmonis dan dengan perlakuan yang setara.

Radem Kono, seorang jurnalis dan dosen di Kalbis Institute Jakarta, menegaskan dunia akan tahu bahwa orang bebas dan benar adalah penentang tirani.

Dalam buku Heroism and Risk of Harm (2012), Douglas M Stenstrom dan Mathew Curtis melihat adanya pergeseran makna tentang “hero” yang selalu diidentikkan dengan prajurit, pemelihara, penjaga, ataupun penjamin keamanan kita.

Dalam pandangan tradisional, hero selalu menampilkan perilaku dan tindakan berbahaya kepada seseorang yang secara fisik mengorbankan diri untuk membantu orang lain, seperti para pahlawan perang yang gagah berani di medan peperangan.

Selanjutnya, pandangan modern memasukkan tindakan-tindakan positif yang bersifat psikologis-afektif dalam memandang sosok pahlawan. Seseorang disebut pahlawan jika memiliki pengorbanan diri, kebajikan, keberanian dan empati terkait kehidupan publik.

Ada pergeseran cara memandang sosok pahlawan. Bukan hanya tindakan fisik yang dilakukan, tetapi melalui perjuangan simbolik. Akibatnya, sosok seperti Mahatma Gandhi, Nelson Mandela, Marthen Luther King Jr yang berjuang secara simbolik juga dapat disebut sebagai pahlawan.

Pertanyaannya, apakah seorang pemimpin dapat disebut sebagai pahlawan? Manakah karakter-karakter yang dapat disematkan dalam diri pemimpin seperti dalam mitos Yunani tentang kepahlawanan Leonidas yang selalu dilukiskan sebagai sosok seorang pemimpin yang selalu berkorban kepada rakyatnya.

Kisah Leonidas tersebut menunjukkan bahwa ada kebijakan yang lebih elegan pada saat yang genting sekalipun tanpa penggunaan kekuasaan yang otoriter-untuk memperjuangkan kepentingan rakyat, tanpa melindas rakyat.

Pemimpin harus menjadi garda terdepan perjuangan demi kepentingan publik, tidak dengan sikap emosional, tetapi kebijakan rasional empatif pada rakyat, dengan kebenaran dan kebebasan sebagai patokan utama.

Dengan kebenaran, seorang pemimpin akan berjuang demi rakyat dengan cara-cara yang bersih, santun, dan berpihak demi kepentingan rakyat. (*)
Pewarta :
Editor: Hisar Sitanggang
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar