Jika dilanjutkan, vaksin Nusantara perlu publikasi penelitian ilmah

id vaksin Nusantara,dr Andreas Harry,terawan agus putranto

Jika dilanjutkan, vaksin Nusantara perlu publikasi penelitian ilmah

Ahli kesehatan dr Andreas Harry Lilisantoso, SpS (K) (empat dari kanan) bersama tim sukarelawan menyalurkan bantuan satu truk bahan makanan dan minuman dari dermawan untuk perbaikan gizi bagi tenaga kesehatan yang bertugas di Rumah Sakit Darurat penanganan virus COVID-19 di Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta, Rabu (25/3/2020). (FOTO ANTARA/Andi J/HO-tim sukarelawan)

Jakarta (ANTARA) - Ahli kesehatan dr Andreas Harry Lilisantoso, SpS (K) yang juga anggota "International Advance Research" Asosiasi Alzheimer Internasional (AAICAD) menyarankan Vaksin Nusantara hendaknya terus dilanjutkan, yang diiringi dengan publikasi ilmiah, baik nasional maupun internasional.

"Perihal Vaksin Nusantara ini, lanjutkan saja terus penelitiannya, dan penuhi kriteria-kriteria riset yang lazim dalam dunia ilmiah, lalu dilengkapi publikasi dalam jurnal nasional maupun internasional," katanya di Jakarta, Sabtu.

Dengan adanya jurnal ilmiah, baik nasional dan juga internasional, kata dia, maka semua pihak terkait bisa dan terbuka melakukan kajian-kajian.

"Sehingga bisa menghindarkan penilaian bahwa itu jangan promosi atau bahkan sekadar komentar-komentar," kata ahli saraf lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) itu.

Menurut Andreas Harry, yang juga sukarelawan yang terlibat dalam membantu menggalang bantuan nutrisi bagi tenaga kesehatan yang menangani COVID-19, bila yang dominan adalah komentar-komentar -- terlebih dari kalangan yang tidak dalam kapasitas mengkaji sesuai keilmuan kesehatan -- yang terkesan minta pengakuan atas efektivitas vaksin, maka lebih banyak pada kondisi kontraproduktif.

Baca juga: BPOM sebut tidak pilih kasih terkait uji klinis vaksin Nusantara

Selain itu, terkait polemik Vaksin Nusantara -- yang ditemukan oleh mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto dan tim -- ia juga tidak setuju jika ada pendapat bahwa satu institusi yang berwenang, seperti Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), akan menghambat suatu penelitian yang bagus.

Ia menyebut bahwa pasti ada kesalahan prosedur atau ada yang menyimpang secara prosedur atas kaidah-kaidah penelitian sehingga kemudian disampaikan oleh BPOM terkait Vaksin Nusantara itu.

Atas polemik yang ada, ia menyarankan bisa dilakukan dialog dan komunikasi antarpihak terkait sehingga dapat dicapai pemahaman bersama, guna mengetahui sekaligus memperbaiki apa-apa saja yang dirasa perlu dilengkapi dan disempurnakan.

Ia berharap Terawan Agus Putranto yang disebutnya sejawatnya sesama alumni FK Unair -- di mana Terawan adalah lulusan S-2 Spesialisasi Radiologi, FK Unair, Surabaya (2004) -- berhasil dalam penemuan vaksin yang sungguh-sungguh ilmiah.
Baca juga: FKKMK UGM mundur dari penelitian Vaksin Nusantara


"Harapannya, beliau terus melanjutkan penelitian Vaksin Nusantara itu dengan standar-standar ilmiah yang bisa dikaji oleh pihak terkait," kata Andreas Harry.

Indonesia sendiri, dalam pengadaan vaksin anti-COVID-19 juga sedang dalam proses membuat Vaksin Merah Putih.

Guna mempercepat penanganan COVID-19 di Indonesia, pemerintah melalui Keputusan Presiden Nomor 18 Tahun 2020 tanggal 3 September 2020 telah membentuk Tim Pengembangan Vaksin COVID-19.

Tim itu bertugas mengembangkan vaksin COVID-19 produksi dalam negeri yang diberi nama Vaksin Merah Putih. Vaksin dalam negeri bertujuan untuk menciptakan kemandirian pemenuhan kebutuhan vaksin COVID-19 ke depannya.

Riset Vaksin Merah Putih dilakukan oleh enam lembaga dalam negeri, yakni Lembaga Eijikman, LIPI, UI, UGM, ITB dan Unair. Sementara untuk uji klinis, produksi dan pendistribusian diserahkan kepada perusahaan BUMN PT Bio Farma.

Baca juga: Vaksin Nusantara dikembangkan di Amerika Serikat, diujicobakan di Indonesia
Pewarta :
Editor : Hisar Sitanggang
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar