Museum Gusjigang pamerkan cuplikan sejarah dan miniatur Kabupaten Kudus

id Museum Gusjigang,Museum Jenang Kudus,Wisata Kudus

Museum Gusjigang pamerkan cuplikan sejarah dan miniatur Kabupaten Kudus

Suasana Gusjigang X-Building di kompleks Museum Jenang Kudus, Jawa Tengah. (ANTARA/Akhmad Nazaruddin Lathif/)

"Bentuknya mirip dengan yang asli, hanya saja ukurannya lebih kecil, perbandingannya 1:3," kata Manajer Marketing Museum Gusjigang Kudus Ahmad Khirom di Kudus, Minggu.
Kudus, Jawa Tengah (ANTARA) - Gusjigang X-Building di dalam kompleks Museum Jenang Kudus, yang biasa disebut Museum Gusjigang memamerkan cuplikan sejarah Kabupaten Kudus lewat berbagai koleksinya.

Museum yang dibangun bulan Mei 2017 itu antara lain menampilkan miniatur Kabupaten Kudus, termasuk Masjid Menara Kudus yang merupakan ikon kabupaten.

"Bentuknya mirip dengan yang asli, hanya saja ukurannya lebih kecil, perbandingannya 1:3," kata Manajer Marketing Museum Gusjigang Kudus Ahmad Khirom di Kudus, Minggu.
Baca juga: Destinasi wisata baru di Kabupaten Kudus itu bernama taman 10.000 bunga celocia

Museum itu juga menunjukkan sejarah makanan khas Kudus, Jenang Kudus Mubarok yang mulai diproduksi tahun 1910.

Ahmad mengatakan bahwa usaha pembuatan Jenang Kudus Mubarok sekarang dijalankan oleh generasi ketiga.

"Kami juga menampilkan berbagai alat produksinya. Kalau dulu masih manual, prosesnya bisa sampai enam-tujuh jam, sekarang pakai mesin prosesnya hanya lima jam," katanya.

Di salah satu sudut museum juga ada miniatur Pasar Bubar, tempat jenang Kudus pertama kali dipasarkan dengan kemasan tradisional, dibungkus menggunakan daun pandan.

Sedangkan bahan jenang, menurut Ahmad, sejak awal pembuatan sampai sekarang tidak ada perubahan. 

"Gula tumbu dengan merek Sinar 33 menjadi salah satu bahan spesial yang digunakan. Ini hanya ada di Kudus sehingga cita rasanya juga khas," katanya.

Museum Gusjigang juga memiliki ruangan koleksi Alquran. Ruangan dengan nama Galeri Alquran tersebut memamerkan berbagai macam Alquran dengan berbagai ukuran dan bahan.

"Ada yang dari daun lontar, dari kulit binatang, dan kertas kuno," kata Ahmad.

Ia menjelaskan pula bahwa museum seluas dua ribu meter persegi itu dinamai Gusjigang untuk mengangkat ajaran yang disebarkan oleh Sunan Kudus. Nama itu merupakan gabungan dari kata "Gus" yang artinya bagus akhlak, "ji" yang artinya pintar mengaji, dan "gang" yang artinya pandai berdagang.

Setiap hari museum Gusjigang dikunjungi 600 sampai 1.000 orang. Jumlah pengunjungnya bisa meningkat sampai tiga kali lipat pada hari libur.

Kepala Bidang Pariwisata Dinas Pariwisata Kabupaten Kudus Sri Wahyuningsih mengatakan Pemerintah Kabupaten sangat mendukung pendirian museum jenang tersebut.

"Potensi di Kudus sudah ter-cover (tercakup) di sini. Ini juga jadi destinasi wisata edukasi baru bagi Kabupaten Kudus," katanya.
 
Pewarta :
Editor : Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar