Peneliti INDEF prediksi Indonesia jauh dari potensi resesi

id INDEF,Resesi,Pertumbuhan ekonomi,Perekonomian indonesia,Resesi turki,Gejolak global

Peneliti INDEF prediksi Indonesia jauh dari potensi resesi

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Ahmad Heri Firdaus. (ANTARA/AstridFaidlatulHabibah)

“Saya kira ekonomi kita melambat itu jelas karena ekonomi global namun tidak sampai resesi. Masih tumbuh positif tapi positifnya masih jauh dari optimal,” kata peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Ahmad Heri Firdaus.
Jakarta (ANTARA) - Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Ahmad Heri Firdaus mengatakan bahwa berbagai gejolak global yang semakin besar dan penuh ketidakpastian tidak akan sampai menyebabkan perekonomian Indonesia mengalami resesi.

“Saya kira ekonomi kita melambat itu jelas karena ekonomi global namun tidak sampai resesi. Masih tumbuh positif tapi positifnya masih jauh dari optimal,” katanya saat dihubungi Antara di Jakarta, Selasa.

Heri menuturkan hal tersebut terjadi karena ekonomi Indonesia lebih banyak ditopang oleh faktor domestik yaitu konsumsi rumah tangga yang mencapai sekitar 80 persen, sedangkan faktor internal seperti ekspor, impor, dan investasi hanya berkontribusi sebanyak 20 persen.

Sehingga, adanya perang dagang antara Amerika Serikat dan Cina maupun resesi di Turki tidak akan terlalu mempengaruhi pertumbuhan ekonomi secara signifikan sebab Indonesia merupakan negara terbuka namun tidak terlalu bergantung pada asing.

“Ekonomi kita tumbuh 5,05 persen itu paling besar karena ekonomi domestiknya masih kuat seperti konsumsi rumah tangga yang menjadi andalan utama bagi pertumbuhan ekonomi kita,” katanya.

Hal tersebut berbeda dengan negara tetangga seperti Vietnam dan Malaysia karena ketergantungan pada keterbukaan perdagangannya yaitu volume ekspor dan impor yang mencapai dua kali dari Produk Domestik Bruto (PDB).

“Jadi begitu tidak ada perdagangan maka Malaysia dan Vietnam akan hancur karena mereka sangat bergantung pada keterbukaan perdagangan,” ujarnya.

Ia melanjutkan, pada 2008 juga terdapat resesi global sehingga mengakibatkan ekonomi dunia anjlok sedangkan Indonesia masih bisa naik 4,8 persen karena faktor domestik berupa daya beli dan konsumsi masyarakat masih tinggi.

Menurut Heri hal tersebut masih bisa terulang pada 2019 meskipun tidak sekuat saat 2008 karena tahun ini perekonomian Indonesia mengalami defisit serta untuk mencapai surplus sangat susah.

“Itu lah tantangannya untuk segera memitigasi risiko gejolak global,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia tidak memungkiri bahwa gejolak perekonomian global seperti resesi yang terjadi di Turki telah melambatkan kinerja ekspor Indonesia namun tidak secara langsung karena hubungan ekonomi dengan Turki relatif kecil dibandingkan dengan Cina, Amerika Serikat, Uni Eropa, dan India yang merupakan mitra utama Indonesia.

“Kalau negara-negara mitra utama kita mengalami perlambatan maka itu akan secara langsung berpengaruh terhadap ekonomi negara kita,” katanya.



 
Pewarta :
Editor : Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar