FKPT: Cegah Radikalisme dan Anti-Pancasila Perlu Pendekatan Humanis

id FKPT Lampung,Rakor Antiterorisme Lampung, Radikalisme Islam

FKPT: Cegah Radikalisme dan Anti-Pancasila Perlu Pendekatan Humanis

Rakor Quick Wins Kegiatan 1 Polda Lampung dengan instansi terkait di Hotel Bukit Randu Bandarlampung, (26/2). (FOTO: ANTARA Lampung/Ist)

Bandarlampung (27/3) (ANTARA) - Bandarlampung (Antaranews Lampung) - Upaya mencegah paham radikalisme dan anti-Pancasila diperlukan penegakan hukum dan dengan pendekatan yang lebih humanis serta kontraradikalisme, kata Ketua Bidang Agama dan Kebudayaan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Lampung Dr Abdul Syukur dalam Rakor Quick Wins Kegiatan 1 Polda Lampung dengan instansi terkait di Hotel Bukit Randu Bandarlampung, (26/2).

Akademisi UIN Raden Intan Lampung ini menambahkan, pada dasarnya semua agama, termasuk Islam tidak mengajarkan radikalisme, intoleransi, dan terorisme. "Pada tahun politik, di Lampung jangan sampai menjadi tunggangan kelompok radikalis," kata Syukur pula.

Wakil Rektor III UIN Raden Intan Lampung Prof Syaiful Anwar mengatakan Pancasila dan Islam secara politik sudah selesai dan tidak ada masalah. "Secara politik sudah selesai. Pancasila merupakan bentuk ijtihad para ulama untuk menyatukan bangsa," ujar Syaiful.

Pembicara pada acara bertemakan Sinergitas Penertiban dan Penegakan Hukum bagi Organisasi Radikal dan Anti-Pancasila adalah Kabag Duk Ops Binda Lampung Suryo Mulyono dan Kasubdit Keamanan Negara AKBP Ahmad Defyudi.

Kegiatan yang berlangsung sehari ini dibuka oleh Wadirbimas Polda Lampung AKBP AR Napitupulu. Bertindak sebagai moderator Kasubdit Tibsos AKBP Yamil.

Peserta Rakor Quick Wins, antara lain PW NU Lampung, PW Muhammadiyah Lampung, Kemenag Prov. Lampung,  Kesbangpol, UIN Raden Intan Lampung, Unila,  pondok pesantren, dan Binmas Polres se-Lampung.

AKBP AR. Napitupulu berharap masukan dan saran dari peserta. Pada tahun politik, dia berharap Pemilu (khususnya di Lampung) berlangsung aman,  damai,  dan sejuk.
Pewarta :
Editor : Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar