Presiden Palestina Tak Mau Temui Wapres AS

id Palestina, Presiden Abbas

File/Pasukan keamanan Israel berpatroli di luar Pintu Damaskus di kota tua Yerusalem (16/06/2017) (AFP/Getty Images/time.com)

Ramallah (Antara/Xinhua-OANA) - Presiden Palestina Mahmoud Abbas tidak akan menerima Wakil Presiden Amerika Serikat Mike Pence saat ia berkunjung ke kawasan itu bulan ini.

Sikap Abbas itu merupakan tanggapan atas pengakuan yang dinyatakan Presiden AS Donald Trump atas Yerusalem sebagai ibu kota Israel, kata seorang pejabat Palestina.
         
"Tidak akan ada pertemuan dengan Pence, ini jelas dan masalah ini lebih besar dibandingkan dengan hanya sebuah pertemuan," kata Majdi al-Khalidi, penasihat presiden Abbas untuk urusan diplomatik, kepada Radio Palestina.
         
Al-Khalidi menambahkan bahwa "Amerika Serikat dengan keputusannya soal Yerusalem itu telah melanggar semua batas penting."
    
Pence dijadwalkan tiba di wilayah Palestina pada 19 Desember untuk bertemu dengan Abbas, sebagai bagian dari lawatannya ke sejumlah negara di kawasan itu.
         
Gedung Putih pada Jumat memperingatkan penentangannya atas pembatalan pertemuan dengan Pence.
         
Sebagai tanggapan terhadap peringatan itu, al-Khalidi mengatakan "tidak ada yang bisa mengancam rakyat Palestina dan tidak ada yang bisa mengancam kepemimpinan Palestina."
    
"AS tidak lagi akan menjadi pendukung perdamaian dan tidak memiliki kemampuan untuk melakukan hal itu," kata al-Khalidi.
         
Ia menambahkan "ada banyak langkah yang akan segera diambil oleh kepemimpinan Palestina."
    
Al-Khalidi mengungkapkan bahwa dalam beberapa hari mendatang akan ada pergerakan politik, pertemuan-pertemuan serta kontak dan bahwa Presiden Abbas bertekad tidak akan beristirahat sampai arah yang benar ditentukan.
         
Trump pada Rabu mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan mengungkapkan ia akan menandatangani keputusan untuk memindahkan kedutaan besar AS ke kota tersebut.
         
Pengakuan Trump itu ditentang oleh Palestina serta dunia Arab dan internasional.

Antara/Xinhua-OANA

Editor: Hisar Sitanggang
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar