Senin, 24 April 2017

Komunitas Warga Metro Gelar Konferensi Kedai Kopi

id lampung kopi festival, lakofest, festival kopi lampung, mbk
Komunitas Warga Metro Gelar Konferensi Kedai Kopi
Ilustrasi (istimewa)
...Event ini ada sebagai upaya mendorong perkembangan tradisi literasi, diskusi dan partisipasi warga di Kota Metro dan Provinsi Lampung...
Metro, Lampung (ANTARA Lampung) - Komunitas warga di Kota Metro siap menggelar Konferensi Kedai Kopi Metro yang mengundang sejumlah narasumber bersama warga membicarakan masa depan dan permasalahan pembangunan di salah satu kota di Provinsi Lampung ini.

Panitia Konferensi Kedai Kopi Metro, Oki Hajiansyah Wahab, didampingi Dharma Setyawan, Maz Amrie, dan Muhammad Ridho, di Metro, Rabu, menjelaskan konferensi kedai kopi ini merupakan bentuk inovasi menjadikan warung kopi tidak hanya tempat kongko-kongko, tetapi berisikan hal substansial, bercerita, memotivasi, menginspirasi, mengapresiasi, dan mengaspirasi masyarakat, dengan ruang-ruang ilmiah serta tradisi intelektual.

"Event ini ada sebagai upaya mendorong perkembangan tradisi literasi, diskusi dan partisipasi warga di Kota Metro dan Provinsi Lampung terutama sesuai tema besar, dipilih sebagai upaya mendorong partisipasi ruang terbuka yang demokratis, dan inklusif warga, seluas-luasnya dalam proses diskusi dan pemberian ide tentang cara mewujudkan alternatif pembangunan kota," katanya lagi.

Konferensi kedai kopi itu sebagai bentuk upaya aplikasi terhadap penciptaan ruang publik yang mempertemukan kalangan akademisi, praktisi, politisi, pegiat, dan warga lewat tradisi pemberian opini, gagasan, dan pengalaman di kedai kopi.

Dalam konferensi bertajuk "Kota, Literasi dan Partisipasi" itu, antara lain menghadirkan akademisi dari Fakultas Teknik Universitas Bandarlampung (FT UBL) Dr Eng Fritz Akhmad Nuzir ST MA yang direncanakan memberikan pemaparan materi "Hak Atas Kota", bersama perwakilan Pemerintah Provinsi Lampung Ir Achmad Chrisna Putra NR MEP, dan Ketua Jurusan di Stisipol Dharma Wacana Metro Ahmad Sutiyo SSos.

Konferensi Kedai Kopi itu akan diadakan di Kedai Kopi Pojok Top Ten, Kota Metro, 28-29 Januari 2017. Dalam konferensi itu juga dipamerkan karya ekshibisi booth/pameran, pemutaran film dokumenter, pentas akustik hingga pameran foto.

Menurut Fritz Akhmad Nuzir, keikutsertaannya dalam konferensi itu agar dapat berbagi pendapat dan aplikasi nyatanya, pada perencanaan tata ruang kota di Lampung, kepada peserta konferensi yang datang dari berbagai kalangan.

"Tema kegiatan sudah kami publikasikan melalui poster dan media sosialisasi lainnya. Fritz Akhmad Nuzir akan bicara soal hak atas kota. Keterpilihan beliau, karena panitia sudah banyak membaca karya-karya terutama pendalaman soal dabid harvey right to the cities," katanya lagi.

"Saya dan pemateri lain akan menguraikan segala problematika terkait ruang publik melalui media penyampaiannya ini, terutama memberikan informasi dan mengeksplorasi segala pandangan warga," katanya lagi.

Fritz mengaku sangat bersyukur dapat terlibat dalam konferensi tersebut, karena dapat berpartisipasi langsung dalam perjumpaan fisik antarmasyarakat dari berbagai latar nilai, minat, dan tujuan yang sama terkait dengan penciptaan ruang publik.

"Perjumpaan yang terjadi secara sukarela dan demokratis itu, dipercaya dapat membentuk ruang publik yang mandiri. Tentu, disertai dengan upaya memastikan bahwa setiap peserta memiliki akses yang luas, untuk menjadi pengusung opini publik," katanya pula.

Terkait tema yang diangkat, Fritz yang juga Dekan FT UBL itu ingin memastikan bahwa konsep materi yang disampaikan akan memberikan pencerahan bagi warga kota di Metro maupun Lampung keseluruhan khususnya mengenai hak atas kota, masa depan kota yang kini ada di tangan masyarakatnya.

"Bila kita ingin kota tetap hidup, maka harus berpikir rasional dan melakukan desain kota sesuai fungsi ekologis dan keberdayaan warganya. Terminologi hak atas kota sendiri pernah dikemukakan oleh sosiolog-cum filsuf Prancis Henri Lefebvre," ujar Fritz menerangkan.

Mengacu pada hal itu, Fritz ingin kembali menegaskan hak atas kota berarti hak penuh masyarakat terhadap pembangunan kota itu, di tengah kebijakan dan intervensi pemerintahan.

"Lewat konferensi ini perlu tindakan nyata yang hadir dengan segala kerumitannya saat ini. Kemudian ditransformasikan dan diperbaharui sesuai konteks ekonomi politik kekinian," katanya lagi.
 

Editor: Samino Nugroho

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga

Generated in 0.0165 seconds memory usage: 0.37 MB