Perkuat Timnas infrastruktur dan pola pikir masyarakat

id piala dunia,rusia,dubes indonesia rusia

Ilustrasi (fifa.com)

Moskow (Antaranews Lampung) - Sejumlah warga Indonesia, baik yang tinggal di Rusia maupun datang khusus untuk menyaksikan putaran final Piala Dunia 2018 di Rusia, mendukung jika Indonesia akan menjadi penyelenggara perhelatan akbar olahraga yang paling banyak penggemarnya itu.

Ada beberapa catatan yang terhimpun dari mereka. Duta Besar RI untuk Federasi Rusia merangkap Republik Belarus M. Wahid Supriyadi sangat mendukung. Namun, dia menyarankan untuk memperbaiki infrastruktur, khususnya yang di luar Jakarta.

Masalah kendaraan umum harus terintegrasi seperti di Rusia. Masalah keamanan sangat perlu ditingkatkan karena hal itu menjadi citra tersendiri bagi pihak penyelenggaran di mata para pendatang.

Masalah infrastruktur dan transportasi juga disoroti oleh Rena Elizaeth, penonton asal Indonesia yang datang khusus untuk menyaksikan sejumlah pertandingan.

Setelah menyaksikan pelaksanaan di sejumlah stadion di Rusia, dia mencatat masalah keluar masuk stadion cukup baik dan di Indonesia harus dipikirkan jangan sampai berantakan.

Rena pun mengingatkan masalah transportasi, baik darat, laut, maupun udara, jangan sampai terlambat. Hal itu perlu dipikirkan lebih matang karena pergerakan penonton mengikuti timnasnya bermain di kota mana. Seperti di Rusia, selama babak penyisihan grup menyelesaikan tiga laga tidak di satu kota, tetapi pindah ke beberapa stadion di kota berbeda pula.

Fachri Afifuddin, peraih beasiswa dari Pemerintah Provinsi Kaltim, menyatakan hal serupa yakni harus diperbaiki masalah infrastruktur.

Ia yang kuliah terkait dengan perkeretaapian memandang perlu mengubah pola pikir masyarakat Indonesia sendiri. Pasalnya, apa yang sudah ada selama ini walaupun fasilitas sudah bagus, kurang menghargai. Misalnya, GBK yang sudah direnovasi menjadi bagus, dirusak.

Pengajar bahasa Indonesia di Higher School of Economics di Moskow Giri Maulana mengatakan bahwa Indonesia harus memperkuat tim nasionalnya terlebih dahulu.

Menurut dia, andaikan nanti Indonesia terpilih jadi penyelenggara putaran Final Piala Dunia, secara otomatis timnasnya masuk dalam kompetisi tersebut. Oleh karena itu, harus diperkuat jangan sampai penggembira dan menjadi bulan-bulanan lawan.

Ia mengingatkan mutu kompetisi di Indonesia segera dibenahi, termasuk gaji para pemainnya, sehingga bisa menjadi tujuan hidup para pemain.

Giri menganalogikan seperti guru. Dahulu profesi tersebut sebagai pekerjaan pilihan ke sekian bagi mereka yang ingin menjadi pegawai negeri. Namun, kini dengan telah dibenahi melalui beragam regulasi, profesi tersebut kian banyak yang memburu.

Artinya, lanjut dia, untuk membentuk tim yang baik harus banyak pula dibenahi dari sisi kompetisi, sikap pemain, dan pelatih, serta penonton jangan membuat keributan seperti yang sering terjadi pada kompetisi di Tanah Air.

Menurut Giri, soal infrastruktur itu lebih mudah mengatasinya karena tinggal membangun atau memperbaiki stadion, jalur transportasi, dan lainnya, serta bisa dianggarkan secara berkelanjutan.

Namun, yang paling utama adalah pembentukan tim nasional yang kuat sehingga tidak menjadi bulan-bulanan tim lawan.

Teja Tjakradiningrat, mahasiswa asal Indonesia yang sedang menempuh pendidikan strata dua di Moskow, mendukung penuh penyelenggaraan Piala Dunia di Tanah Air karena bakal meningkatkan perekonomian dari beragam sisi.

Ia menjelaskan bahwa penyelenggaraan putaran Piala Dunia di Rusia di 12 stadion pada 11 kota sehingga memberikan dampak ekonomi cukup tinggi bagi daerah setempat.

Belum lagi, setiap tim tidak hanya berlaga di satu stadion, tetapi diputar ke stadion lain menjadikan pergerakan perekonomian yang dibawa pula oleh para pendukung masing-masing tim yang berlaga.

Yanuhardi, warga Indonesia lainnya yang datang dari Padang Sumatera Barat untuk menyaksikan pertandingan Jerman melawan Meksiko, mengatakan bahwa Indonesia bisa menjadi penyelenggara Piala Dunia, tetapi dalam kurun waktu relatif cukup lama.

Pertama, kata dia, harus dibenahi sikap dan mental para petinggi di Tanah Air jangan dicampuradukkan masalah olahraga dengan politik. Kemudian, benahi pula manajemen keolahragaan karena fondasi utama ada di regulasi.

Kalau masalah infrastruktur, menurut dia, itu mudah disediakan dengan dianggarkan untuk membangun stadion dan sarana lainnya.



Kenyamanan dan Keamanan



Sementara itu, melihat sarana transportasi, khususnya menuju dua stadion yakni Spartak dan Luzhniki di Kota Moskow, semua jalur kereta (metro) sebagian besar melintas di bawah tanah terintegrasi.

Para pendukung dibebaskan dari biaya jika mengenakan tanda yang telah terakreditasi dan pintu menuju kereta pun langsung dibuka tanpa diperiksa lagi sehingga tidak terjadi penumpukan manakala usai menyaksikan laga.

Masalah keamanan menjadi pendukung utama di "event" besar itu. Sejak masuk bandara semua pendatang diperiksa cukup ketat. Memasuki arena stadion jika tidak memiliki identitas terakreditasi, tidak bisa masuk.

Menurut rekan yang beberapa kali meliput gelaran final Piala Dunia mengatakan bahwa baru kali pertama ini semua yang masuk terakreditasi.

Penjagaan berlapis menuju stadion Rusia dan FIFA terapkan. Meski sudah memiliki identitas, tetap diperiksa menggunakan alat apakah kartu tersebut asli keluaran panitia atau dipalsukan.

Peliput pertandingan yang datang dari beberapa negara pun dimanjakan. Ketika memasuki pintu gerbang dan dipisahkan dengan antrean penonton sehingga lebih cepat. Mereka diberi layanan mobil khusus menuju media center.

Penghargaan dan layanan kepada jurnalis itu pun berlaku di semua lini seperti di stasiun dan lainnya karena Rusia mengharapkan jangan sampai ada citra buruk yang terekspose.

Begitu pula, pemisahan antara gerbang masuk dan keluar stadion, tidak ada pertemuan dua arah bagi para penonton.

Di setiap sudut, ada petugas sukarela yang direkrut dari pelajar dan mahasiswa yang membantu menunjukkan arah, baik ke dalam stadion maupun saat ke luar. Artinya, Rusia sangat siap.

Jika mencontoh kesiapan Rusia dalam menggelar putara final Piala Dunia, serta masukan dari beberapa orang Indonesia tersebut, Indonesia bisa menyelenggarakannya.

Dengan catatan, benahi dan siapkan infrastruktur, seperti stadion, sarana transportasi, penginapan, bentuk timnas yang kuat, dan tak kalah penting mental masyarakatnya.

Yang terakhir itu, mental masyarakat tidak hanya kepada rakyat jelata, tetapi juga kepada mereka pengambil kebijakan jangan dijadikan untuk meraup keuntungan.



 
Pewarta :
Editor: Samino Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar