Rabu, 18 Oktober 2017

Presiden: Masyarakat Harus Pandai Menyaring Isu Di Medsos

id jangan makan mentah-mentah isu di medsos, saring isu medsos, joko widodo, presiden indonesia
Presiden: Masyarakat Harus Pandai Menyaring Isu Di Medsos
Presiden Joko Widodo (kanan) didampingi Direktur Wahid Foundation Yenny Wahid (kiri) berjalan seusai kunjungan kerja di Pondok Pesantren An-Nuqoyah, Guluk-Guluk, Sumenep, Jawa Timur, Minggu (8/10). FOTO : ANTARA/Saiful Bahri
...Masya Allah, coba lihat di medsos, saya itu dijejerkan dengan DN Aidit waktu pidato tahun 1955, saya lahir saja belum, lahir saya tahun 1961, pidatonya tahun 1955, nggak masuk akal," katanya...
Sumenep, Jawa Timur (ANTARA Lampung) - Di tengah maraknya isu-isu yang disebarkan di media sosial, masyarakat harus pandai menyaringnya mana yang benar dan mana yang bohong, jangan "memakan" mentah-mentah isu-isu tersebut, kata Presiden Joko Widodo.

"Saya ingatkan kepada kita semua kalau ada isu-isu jangan langsung dimakan mentah mentah," kata Presiden Jokowi ketika bersilaturahim dengan ulama, tokoh masyarakat dan santri di Pondok Pesantren Al Karimiyah Kabupaten Sumenep, Minggu malam.

Presiden menyebutkan media sosial sekarang ini sudah menjadi gudangnya isu fitnah dan kabar bohong. "Jangan membaca langsung emosi atau marah, padahal itu kabar tidak jelas siapa yang membuat karena akun palsu sekarang banyak sekali, hati hati kita mencernanya," kata Presiden.

Ia menceritakan pengalamannya terkait dengan media sosial di mana dirinya diisukan sebagai antek asing.

"Saya jawab mereda, kemudian muncul lagi isu saya antek aseng, saya jawab kemudian muncul lagi isu Presiden Jokowi diktator, wajah kayak gini diktator,  apa ada gak wajah diktator di saya ini," katanya.

Ia menyebutkan terakhir dirinya diisukan Presiden Jokowi itu PKI. "Masya Allah, coba lihat di medsos, saya itu dijejerkan dengan DN Aidit waktu pidato tahun 1955, saya lahir saja belum, lahir saya tahun 1961, pidatonya tahun 1955, nggak masuk akal," katanya.

Ia menyebutkan PKI dibubarkan tahun 1965, saat itu dirinya masih balita berumur 3-4 tahun, tidak masuk logika.
   
"Tapi ada juga yang percaya, logikanya kan nggak masuk akal, kemudian ganti lagi isu ke orang tua saya," katanya.



Jokowi menyebutkan isu-isu bohong dan fitnah itu berbahaya apalagi kalau sudah masuk kontestasi politik. "Ampun percoyo sing kados ngaten (jangan percaya yang seperti ini, red), dicek betul , disaring betul," katanya.

Namun menurut Jokowi banyaknya informasi termasuk yang tidak baik dapat menjadikan masyarakat makin dewasa dalam menyikapi informasi yang berkembang.

"Ini menjadikan kita biasa menghadapi seperti itu dan yang penting semakin menjadikan masyarakat kita makin dewasa dan cerdas bahwa itu hanya bohongan, sehingga masyarakat harus menyaringnya," katanya. (ANTARA)

Editor: Edy Supriyadi

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga

Generated in 0.0092 seconds memory usage: 0.47 MB