Mahasiswa IPB Tewas di Ciliwung Lulusan SMAN Natar Lampung

id Mahasiswa IPB Tewas di Ciliwung Lulusan SMAN Natar Lampung

Bogor (ANTARA LAMPUNG) - Tim SAR gabungan akhirnya berhasil menemukan dan mengevakuasi jenazah Didik Wijaya Putra (21), mahasiswa IPB yang tenggelam di Sungai Ciliwung, Rabu.

"Jenazah berhasil ditemukan dan diangkat ke permukaan sekitar pukul 17.20 WIB," kata Kepala Keamanan IPB Subagio.

Didik Wijaya Putra adalah mahasiswa semester IV Jurusan Kimia Analisis Diploma Tiga (D-3) IPB Bogor lulusan SMA Negeri 1 Natar Kabupaten Lampung Selatan Provinsi Lampung yang mengalami kecelakaan jatuh ke Sungai Ciliwung saat mengambil sampel air untuk keperluan pratikum, Selasa (26/2) sekitar pukul 05.20 WIB.

Korban diduga terpeleset dan jatuh ke sungai.

Penemuan jenazah korban itu berkat kerja keras tim SAR gabungan dari sejumlah unsur, yakni polisi, TNI, Tagana, Satpol PP, pemadam kebakaran, Bogor SAR Community dan sejumlah relawan dari masyarakat serta mahasiswa IPB.

Pencarian korban cukup sulit, memakan waktu 1,5 hari. Sekitar 80 orang lebih anggota tim SAR gabungan dan relawan dikerahkan mencari korban. Tim mencari dengan cara menyusuri sungai, memasang jaring dan menyelam.  

Korban ditemukan tak jauh dari lokasi tempat ia terjatuh, dengan posisi terjepit di antara batu di dalam palung sungai.

Jenazah Didik Wijaya Putra, mahasiswa IPB yang tewas tenggelam di Sungai Ciliwung, ditemukan mengambang tersangkut di jaring yang telah disiapkan oleh Tim SAR.

"Penemuan jenazah sekitar pukul 17.00 WIB, oleh salah seorang anggota Brimob yang melihat jasad korban mengambang dekat jaring," kata Koordinator Lapangan Tim SAR Asep Khaerudin saat ditemui di RS PMI Bogor, Rabu petang.

Asep mengatakan, jasad korban ditemukan sekitar 200 meter dari lokasi jatuhnya korban.

"Beruntung pada Selasa (26/2) malam jaring sudah terpasang, korban ditemukan dengan posisi tertelungkup tersangkut di jaring," kata Asep.

Asep menuturkan, Tim SAR telah melakukan pencarian dengan cara menyisir dan menyusuri sungai menggunakan perahu karet serta menyelam ke bawah dasar sungai selama 1,5 hari.

Jasad korban ditemukan dalam kondisi utuh, berpakaian lengkap dengan jaket hitam dan masih menggunakan bandana (ikat kepala) sama seperti saat korban pergi mengambil air.

Namun, kondisi tubuh korban banyak ditemukan luka pada wajah, dan badan.

"Luka di tubuh korban diduga karena arus di dalam sungai cukup deras, dan banyak cadas serta bebatuan," katanya.

Meski berpakaian utuh, petugas tidak menemukan dompet, telepon genggam dan tas yang digunakan korban saat sebelum kecelakaan.

Jenazah korban langsung dievakuasi dibawa ke ruang forensik RS PMI Bogor untuk dipemulasaraan.

Sementara itu, penemuan jenazah korban disambut isak tangis keluarga dan kerabat korban yang sejak awal hadir menyaksikan proses pencarian.

"Rencananya korban akan dibawa ke kampus Diploma 3 untuk disemayamkan dan dihadiri seluruh civitas kampus dan teman-teman kampus. Setelah itu, baru akan dibawa kembali ke Lampung," kata Subagio.

Ratusan mahasiswa D3 IPB memadati kamar mayat untuk menyaksikan proses pengiriman jenazah dari RS menuju Lampung.

"Korban dibawa ke PMI, dan ada acara pelepasan dari kampus IPB di rumah sakit, selanjutnya akan dibawa pulang oleh pihak keluarga ke Lampung," kata Kepala Keamanan IPB Subagio.

Suasana haru mewarnai proses pengafanan korban di ruang Forensik RS PMI.

Isak tangis teman korban, dan keluarga mengiringi kepergian jenazah dari RS PMI dengan menggunakan ambulans IPB

"Didik itu sosok teman yang sangat baik, pengertian dan setia kawan," kenang Bitha, teman sekelas Didik.

                      Telusuri Pelanggaran Prosedur?   
Pihak rektorat IPB mencoba menelusuri adanya pelanggaran prosedur standar (SOP) pelaksanaan praktikum hingga menyebabkan tewasnya Didik Wijaya Putra (21) saat mengambil sampel air di Sungai Ciliwung.

"Seharusnya melakukan praktikum itu berkelompok, tidak boleh perseorangan," kata Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Prof Yonny Koesmaryono, saat ditemui di RS PMI, Rabu malam.

Yonny mengatakan, dalam pelaksanaan pratikum ada standar operasional (SOP) yang harus dipatuhi baik oleh dosen maupun mahasiswa.  

Kasus yang menimpa Didik, terindikasi adanya pelanggaran SOP karena korban jatuh ke sungai hingga ditemukan tewas saat mengambil sampel air untuk keperluan praktikum seorang diri.

"Memang dia datang berdua saat mengambil air. Tapi temannya menunggu di atas, korban turun sendirian," kata Yonny.

Yonny menegaskan pihaknya akan menelusuri kronologis kejadian, kenapa korban nekat turun seorang diri untuk mengambil sampel air.    

"Dalam setiap praktikum ada SOP yang harus dipatuhi, karena ada potensi-potensi yang harus diantisipasi, misalnya praktikum di laboratorium juga ada prosedurnya jangan sampai campuran bahan kimia salah campur, begitu juga saat turun ke satu lokasi, harus mengenal dulu seluk beluknya," kata Yonny.

Pihak keluarga korban menyatakan ikhlas dengan terjadinya musibah yang menimpa anaknya dan menganggap hal tersebut sebagai ujian.

"Kami anggap ini musibah, ujian bagi keluarga," kata Rubito ayah korban.

Rubito mengatakan, pihak keluarga juga tidak akan menuntut IPB atas meninggalnya sang anak.

Korban segera dibawa ke Lampung untuk dimakamkan oleh keluarganya.

Salah seorang gurunya saat masih bersekolah di SMAN 1 Natar Lampung Selatan, membenarkan memiliki siswa tersebut yang diketahui setelah lulus diterima melalui jalur undangan khusus sehingga dapat melanjutkan kuliah di IPB Bogor.

"Sedih juga mendengar kabar siswa yang pintar itu ternyata meninggal dunia dengan cara seperti itu," ujar salah satu gurunya saat di SMA di Lampung itu pula.


Editor :
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar