Wayang Kulit "bius' warga Rusia

id wayang kulit,bius warga rusia,ki anom suroto,wayang kulit tampil di rusia

Dua dalang kondang Ki Anom Suroto dan Ki Bayu Aji saat tampil di Rusia, Rabu (23/5) (Foto: ANTARA/Zeynita Gibbons)

Wayang kulit yang diakui UNESCO diharapkan dapat menjadi bagian diplomasi budaya Indonesia di Rusia, kata Wahid
London (Antaranews Lampung) - Aksi duet dalang kondang Ki Anom Suroto dan Ki Bayu Aji, plus aksi dalang cilik Pramariza Fadlansyah dan Rafi Ramadhan yang memainkan wayang kulit lengkap dengan gamelan secara "live" di gedung teater terkenal di Rusia mampu "membius" warga setempat.

"Penampilan wayang oleh para dalang di gedung teater terkenal dan di sekolah di Rusia, mampu menarik para penonton warga setempat," kata Sekretaris Pertama Fungsi Pensosbud KBRI Moskow, Enjay Diana dalam laporannya kepada Antara London, Rabu (23/5).

Bahkan seorang gadis semester terakhir dari Moscow State University bernama Eliza mendekati Ki Bayu usai pertunjukan dan menyatakan keinginannya belajar menjadi dalang, kata Enjay Diana.

Sementara seorang guru seni warga Rusia lainnya mengatakan dirinya akan datang ke KBRI Moskow untuk belajar gamelan dan ingin membeli seperangkat gamelan dari Indonesia. Sebagai bentuk apresiasi, Ki Bayu memberikan wayang dan gunungan kepada kedua warga Rusia tersebut.

Rangkaian diplomasi budaya diadakan KBRI Moskow di tiga kota di Rusia, yaitu di Saint Petersburg yang digelar di Gedung Pusat Kebudayaan Troitsky pada 15 Mei, Tchaikovsky Moscow State Conservatory, Moskow pada 19 Mei dan Sekolah Gimnasium No.18, Distrik Korolyov, Minggu (20/5).

Kepala Bidang Kebudayaan Distrik Nevsky, St. Petersburg, Marina Borisovna menyambut pagelaran budaya Indonesia di St.Petersburg dan berharap dapat berkunjung ke Indonesia guna mengetahui budayanya.

Pertunjukan di Gedung Troitsky berkapasitas 700 orang penuh dengan pengunjung umumnya pelajar sekolah menengah. Sementara, Kepala Departemen Hubungan Internasional Tchaikovsky Moscow State Conservatory, Margarita Karatyagina mengatakan pertunjukan seperti ini belum pernah terjadi dalam sejarah Tchaikovsky Moscow State Conservatory yang didirikan tahun 1866.

Para penonton tidak beranjak dari tempat duduknya saat pagelaran usai dan memberikan tepuk tangan (applause) panjang saat seniman wayang dan penari, sebagian besar warga Rusia, memberikan hormat kepada penonton.

"Saya ingin lain kali pertunjukan wayang kulit berlangsung selama 8 jam," ujar Margarita setelah mendengar sambutan Dubes Wahid yang mengatakan aslinya wayang kulit dipentaskan dari pukul 9 malam sampai 5 pagi.

Pagelaran wayang kulit dengan cerita Hanoman Duta dan Rahwana Gugur menarik perhatian dan antusias besar warga Rusia, tidak hanya orang tua dan dewasa, tetapi juga anak-anak yang datang ke gedung pertunjukan. Penonton hanyut dalam suasana tradisi Indonesia melalui tabuhan orkestra gamelan yang dimainkan sekelompok nayaga dan lagu yang dibawakan para sinden. Pertunjukan wayang menggunakan dialog Bahasa Jawa dan di layar lebar ditampilkan sinopsis cerita dalam Bahasa Rusia.

Pagelaran wayang oleh Tim Kesenian Amardi Budaya Dadi Indah (ABDI) dari Solo dipimpin Prof. Ade Saptomo, Dekan Fakultas Hukum Universitas Pancasila dan Tim Kesenian KBRI Moskow juga dimeriahkan  dengan penampilan tarian, seperti Lengger Banyumasan, Sekar Pudyastuti, Angguk Kreasi (ndolalak), Remo, Gambyong Pareanom, Genjring, dan Pencak Silat.

Dubes Indonesia untuk Federasi Rusia merangkap Republik Belarus, M. Wahid Supriyadi mengatakan pergelaran budaya Indonesia ini dipersembahkan untuk masyarakat Rusia agar lebih mengenal budaya Indonesia mempererat hubungan kedua bangsa. "Wayang kulit yang diakui UNESCO diharapkan dapat menjadi bagian diplomasi budaya Indonesia di Rusia," kata Wahid.
Pewarta :
Editor: Edy Supriyadi
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar