Jakarta (ANTARA Lampung) - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengatakan bahwa pola pendidikan dasar di sekolah tidak padat ceramah, tetapi padat kegiatan.
"Pola pendidikan dasar harus padat kegiatan, bukan padat ceramah di kelas. Contohnya pelajaran sejarah, tidak lagi sekadar dibaca, tetapi juga memainkan peran," kata Muhadjir saat memberikan sambutan dalam Konferensi Nasional Sejarah (KNS) X di Jakarta, Senin (7/11).
Permainan peran yang dimaksud adalah murid memainkan peran sebagai tokoh sejarah. Setelah itu, guru menjelaskan tokoh-tokoh yang diperankan tersebut.
"Pola pengajaran seperti itu juga akan membangkitkan daya kritis murid," katanya.
Guru harus berani mengambil risiko dalam pola pembelajaran permainan peran tersebut. Dengan bermain peran, murid lebih memaknai sejarah dalam konteks mengisi kemerdekaan.
KNS X tersebut akan mengusung tema "Budaya Bahari dan Dinamika Kehidupan Bangsa dalam Perspektif Sejarah" yang diselenggarakan di Jakarta, 7 hingga 10 November.
Kegiatan tersebut dibuka oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani.
Mendikbud menjelaskan sejarah merupakan titik tolak pendidikan karakter yang dikembangkan Kemdikbud.
"Peran pendidikan amat relevan dalam mendekatkan budaya bahari pada masyarakat, baik formal maupun nonformal. Sejarah menunjukkan bahwa Indonesia merupakan bangsa yang kuat di bidang masyarakat," katanya.
Konferensi yang diselenggarakan setiap 5 tahun sekali itu diikuti 315 peserta yang terdiri atas sejarawan, komunitas sejarah, dosen, guru, mahasiswa, dan peminat sejarah.
Konferensi tersebut merupakan kelanjutan dari seminar sejarah 1 tahun 1957 di Yogyakarta. Seminar sejarah pertama itu sangat penting dalam perjalanan sejarah Indonesia karena menyemai lahirnya historiografi modern Indonesia.
Melalui konferensi tersebut, dia berharap dapat memperkuat dan mengintegrasikan karakter bangsa melalui pendidikan. Konferensi itu berupaya membangun budaya bahari di kalangan gelenerasi muda dalam memperkukuh dan menyejahterakan Negara Kesatuan Republik Indonesia. (Ant)
