Memberantas BABS

id Sanitasi berbasis masyarakat,awig awig sanitasi,pendekatan budaya sanitasi

Memberantas BABS

Warga Pekon Bali Sadar Utara berantas BABS melalui pendekatan budaya dan hukum adat, Way Kanan, Sabtu, 12/10/2019 (ANTARA/Ruth Intan Sozometa Kanafi)

Way Kanan (ANTARA) - Perilaku buang air besar sembarang oleh masyarakat salah satu permasalahan yang perlu penanganan secara serius oleh semua pihak.

Peran serta masyarakat adat dalam menuntaskan permasalahan sanitasi melalui pendekatan budaya dan peraturan adat menjadi salah satu cara yang positif untuk menyelesaikan masalah itu.

Pekon (desa) Bali Sadar Utara, Kecamatan Banjit menjadi salah satu desa di Kabupaten Way Kanan, Provinsi Lampung yang hampir keseluruhan warganya peduli akan kesehatan melalui pembangunan perilaku hidup bersih dan sehat yang baik.

Akan tetapi, kepedulian dan kesadaran tersebut tidak tumbuh secara instan, melainkan memerlukan proses yang cukup panjang dan banyak pendekatan, salah satunya pendekatan budaya dan penerapan peraturan adat yang dikenal sebagai "Awig-Awig".

“Secara demografi Pekon Bali Sadar Utara merupakan salah satu desa dari tiga desa dengan mayoritas warga beragama Hindu, transmigran asal Bali, yang berjumlah 618 kepala keluarga. Kedatangan masyarakat asli Bali ke Provinsi Lampung, tepatnya di Way Kanan, pada mulanya terjadi akibat adanya bencana letusan Gunung Agung pada tahun 1963-an,” ujar Camat Banjit, Taufik.

Bersama sanak keluarga, masyarakat asli Bali ini, tempo dulu bertahan hanya dengan tinggal di rumah bedeng dan mengusahakan lahan yang kini telah berubah menjadi perkampungan Bali.
 

Keseharian warga transmigran Bali ini berjalan layaknya kehidupan transmigran lainnya yang kental akan budaya asli. Akan tetapi, ada hal yang tampak unik menjadi salah satu daya tarik para pengunjung desa untuk mengorek lebih jauh kehidupan mereka.

Keunikan terjadi saat menengok lebih dalam kehidupan keseharian warga, yang ternyata peduli akan kesehatan dan sanitasi di lingkungan rumahnya.

Kepala Adat Pekon Bali Sadar Utara, Wayan Lameg, mengatakan kehidupan saniter warga telah terbentuk sejak dini akibat adanya peraturan adat yang di sebut "Awig-Awig".
 

Warga Pekon Bali Sadar Utara berantas BABS melalui pendekatan budaya dan hukum adat, Way Kanan, Sabtu, (12/10/2019). (ANTARA/Ruth Intan Sozometa Kanafi)

Peraturan adat masyarakat keturunan Bali ini tercatat dalam buku layaknya peraturan adat Lampung Melinting Kuntara Raja Niti. Itu suatu peraturan dan hukuman adat yang tertera dalam runtutan pasal-pasal yang dibukukan.

Kehidupan saniter warga tercipta dari tiga falsafah serta ajaran utama yang menjadi cikal bakal Awig-Awig yang disebut sebagai Tri Hita Karana (tiga penyebab kebahagiaan), yaitu mengatur adanya hubungan baik antara manusia dengan Tuhan (Parhyangan), hubungan baik antara manusia dengan alam dan lingkungan (Pelemahan), dan manusia dengan sesama (Pawongan).

"Dalam Tri Hita Karana kita sudah diatur bagaimana cara menjaga hubungan baik dengan Sang Pencipta, yaitu dengan menyediakan tempat peribadatan yang bersih dan menjaga kesehatan, dalam menjaga lingkungan serta alam kita tidak mencemarinya dengan membuang kotoran sembarangan, salah satunya memiliki jamban di setiap rumah, dan menjaga hubungan dengan sesama manusia maka kita harus saling mengingatkan satu sama lain agar berperilaku baik sehingga tidak merugikan orang lain," ujar dia.

Kesadaran berperilaku hidup sehat melalui buang air besar pada tempatnya telah sejak lama dilaksanakan oleh warga Pekon Bali Sadar, akan tetapi hanyalah bersifat sederhana, yaitu dengan menyediakan jamban cemplung dan belum sesuai dengan standar kesehatan sanitasi.

Segala hal itu terbentuk akibat adanya aturan adat tentang tata letak rumah seorang warga pekon, yang wajib memiliki kamar mandi dan jamban di bagian dapur dan tempat ibadah di bagian depan rumah sebagai bentuk penghormatan kepada Sang Pencipta karena telah menjaga kebersihan diri.

Selain itu, sosialisasi perilaku hidup sehat juga dilakukan dengan menyisipkan sindiran, petuah, dan nasihat di balik lenggak-lenggok penari topeng Bali, wayang, dan juga musik tradisi.

“Menurut pengetahuan saya, selama ini warga Pekon Bali Sadar Utara untuk menyadarkan masyarakat perilaku saniter yang baik selain melalui Awig-Awig juga melalui budaya seperti tari topeng, wayang dan musik," ucap warga setempat, I Nyoman Karinum.



Pementasan kesenian itu, tidak hanya untuk menghibur warga, tetapi juga berisi petuah, nasihat, dan sindiran kepada warga agar tidak buang air besar sembarangan.

Setiap seminggu sekali, masyarakat Pekon Bali Sadar Utara ataupun yang lain, akan bertemu dan berdiskusi bersama untuk mengevaluasi perilaku hidup masyarakat termasuk menyangkut kesehatan dan sanitasi lingkungan.

Pekon Bali Sadar Utara juga menerapkan peraturan bagi warga yang buang air sembarangan di jalanan atau di pekarangan.

Fase pertama, mereka akan diperingatkan terlebih dahulu. Jika tidak mengindahkan peringatan itu maka mereka akan didenda dengan jumlah tertentu, sedangkan berdasarkan hasil musyawarah bersama, uang denda akan digunakan untuk membersihkan lingkungan serta dikumpulkan untuk membangun jamban.

Fase kedua, apabila seseorang melanggar setelah diberi peringatan dan diberi pendekatan secara budaya, tetap saja mengulangi perbuatannya, maka akan dikenakan hukuman sosial berupa dikucilkan atau yang dikenal sebagai “kesepekang”.

“Warga yang berperilaku buang air sembarangan akan ditindak melalui beberapa fase. Pada fase terakhir bila warga tersebut tetap tidak mengindahkan maka akan diberi sanksi sosial berupa dikucilkan atau disebut 'kesepekang'. Ketika orang tersebut dikucilkan maka warga tidak akan berinteraksi kepada warga tersebut hingga perilaku buang air besar sembarangan dapat diubah,” ujar Wayan Lameg.
 

Upaya warga Pekon Bali Sadar Utara dalam membangun perilaku hidup sehat dan membangun sanitasi melalui pendekatan budaya dan peraturan adat mendapat apresiasi banyak pihak, salah satunya Kepala Dinas Kesehatan Way Kanan Anang Risgiyanto.

Kebanggaan atas tercapainya predikat ODF (Open Defecation Free) bagi Kabupaten Way Kanan bukan hanya hasil kerja keras pemerintah melainkan juga seluruh lapisan masyarakat, salah satunya peran serta masyarakat adat, seperti di Pekon Bali Sadar Utara.

“Kami pemerintah hanyalah fasilitator dan masyarakatlah pejuang-pejuangnya. Contohnya seperti upaya yang dilakukan oleh masyarakat Pekon Bali Sadar Utara yang melakukan pendekatan budaya dan hukum adat dalam mengubah perilaku sanitasi warga,” kata dia.

Perilaku hidup sehat mudah dilaksanakan bila masyarakat sadar untuk melakukannya, antara lain kebiasaan buang air besar pada tempatnya.

Upaya masyarakat adat Pekon Bali Sadar Utara melalui pendekatan-pendekatan budaya dan hukum adat dapat menjadi salah satu motivasi bagi daerah lain untuk menyelesaikan permasalahan sanitasi di kemudian hari.


Baca juga: Kota Metro Lampung siap atasi masalah sanitasi buruk

Baca juga: Pemkab Way Kanan Bikin Gebrakan Eliminasi Perilaku BABS


Baca juga: Pencapaian Stop BAB Sembarangan Pringsewu Jangan Kendur
Pewarta :
Editor : Hisar Sitanggang
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar