Jakarta (ANTARA Lampung) - Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Hilmar Farid mengatakan pihaknya menanamkan pendidikan karakter di sekolah melalui sastra.
"Sastra membantu anak-anak dalam program penanaman pendidikan karakter di sekolah. Mulai tahun ini, kami akan mencoba melakukan hal itu," ujar Hilmar dalam acara peresmian kantor Himpunan Sarjana Kesusasteraan Indonesia (HISKI) di Jakarta, Rabu.
Saat ini, Kemendikbud melakukan beberapa hal yakni mencari karya sastra yang berperan dalam pembentukan karakter khususnya untuk murid Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Untuk usia tersebut, lanjut dia, buku sastra yang tepat seperti cerita rakyat, dongeng maupun fabel.
"Cerita rakyat juga belum tentu semuanya relevan untuk setiap daerah. Misalnya cerita rakyat di Makassar, belum tentu cocok jika diajarkan di Jawa." Langkah berikutnya, kata dia, adalah mencari sastra yang termasuk ke dalam kanon sastra atau sastra yang dianggap penting dan harus ada dalam sejarah kesusasteraan suatu bangsa.
Karya sastra seperti itu, tepat diberikan kepada siswa pada tingkatan lebih tinggi seperti Sekolah Menengah Atas (SMA).
"Kami merumuskan karya sastra apa saja yang nantinya masuk dalam kategori ini. Dengan pengkategorian ini, kami berharap bisa menjadi peganggan bagi para guru dalam mengajarkan sastra di sekolah," kata dia lagi.
Dalam hal ini, pihaknya melibatkan HISKI untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi karya sastra yang ada.
Pada 2017, Kemendikbud akan menerapkan penguatan pendidikan karakter (PPK) di 9.830 sekolah di Tanah Air. Target tersebut meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya dilakukan di 542 sekolah.
Sastra Cocok Ketua Umum HISKI, Profesor Suwardi Endraswara, mengatakan sastra sangat cocok dijadikan sebagai salah satu cara dalam pendidikan karakter, karena prinsip sastra adalah mendewasakan manusia.
"Prinsip sastra itu sendiri memanusiakan manusia. Jadi dalam diri kita ini, masih ada nafsu hewani yang membuat orang mudah marah dan menyerang satu sama lain. Melalui sastra, nafsu tersebut kemudian bisa ditekan," kata Suwardi.
Sastra juga bertujuan untuk mengubah tingkah laku manusia menjadi lebih berbudaya, humanis, serta sadar diri.
