Korban gigitan ular bandotan puspa sudah pulih

id korban gigitan ular di lembata, dokter tri maharani

Korban gigitan ular bandotan puspa sudah pulih

Dokter Maria Natalia Indawati Lelaona (kiri) sedang memeriksa Martinus Sersan (12), korban gigitan ular bandotan puspa atau nama latin Daboia ruseli siamensis di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT). ANTARA/HO-Aspri

Kupang (ANTARA) - Martinus Sersan (12), korban gigitan ular bandotan puspa atau nama latin Daboia ruseli siamensis di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), sudah pulih dan meninggalkan rumah sakit.

"Korban sudah keluar dari rumah sakit sejak Selasa, (28/1), setelah menjalani perawatan selama 13 hari," kata dr. Maria Natalia Indawati Lelaona, salah satu dokter yang merawat korban, Jumat.

Natalia Indawati mengemukakan hal itu, ketika dikonfirmasi terkait perkembangan pasien gigitan ular langka di Lembata, setelah diberikan antivenom oleh dokter Tri Maharani.



Martinus Sersan, siswa kelas 6 sekolah dasar (SD) Inpres Muruona, asal Desa Muruona, Kecamatan Ile Ape Kabupaten Lembata itu digigit ular daboia ruselli simanensis yang memang termasuk ular langka dan sangat berbisa saat sedang menggembalakan ternak di padang penggembalaan.
Dokter Tri Maharani (kiri) bersama korban. (ANTARA FOTO/Istimewa)


Daboia ruseli siamensis adalah ular golongan viperia ruselli. Jenis ular ini hanya hidup di beberapa wilayah di Indonesia, termasuk di beberapa daerah di Pulau Flores.

Namun, Martinus berhasil diselamatkan oleh dokter Tri Maharani, Kepala IGD RS Daha Husada Kediri Jawa Timur,
dengan memberikan antivenom.



Menurut dokter Maharani, untuk mengobati pasien yang terkena gigitan ular jenis ini, obatnya hanya antivenom monovalen daboia ruseli siamensis
.
Jenis obat ini, kata dia hanya diproduksi dan dijual di Thailand oleh QSMI Taiwan dan Myanmar
.
"Syukur karena Martinus bisa selamat dan menjadi pasien hidup pertama di Indonesia," kata dokter Maharani melalui pesan WhatsApp, setelah diberi khabar bahwa Martinus telah sembuh dan keluar dari rumah sakit. 
 
Pewarta :
Editor : Hisar Sitanggang
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar