
Panggung komedi, protes baru dalam berpolitik

Kritik bisa disampaikan secara terselubung melalui ironi, permainan kata, atau konteks budaya tanpa menyebut nama langsung.
Bandarlampung (ANTARA) - Di tengah dinamika politik Indonesia yang semakin kompleks, publik menemukan saluran ekspresi baru yang tak terduga, panggung stand-up comedy.
Akhir-akhir ini, potongan video komika Pandji Pragiwaksono yang menyentil kualitas kepemimpinan Gibran, dugaan keterlibatan oknum polisi dalam bisnis narkoba, hingga praktik pencucian uang yang melibatkan sejumlah artis, menjadi viral di berbagai platform digital.
Yang menarik bukan materi stand up-nya, tetapi bagaimana publik menafsirkan panggung komedi sebagai ruang kritik politik yang lebih jujur dan efektif daripada forum-forum politik konvensional.
Fenomena ini menunjukkan bahwa stand-up comedy telah berkembang menjadi bentuk protes gaya baru, atau yang dalam studi perilaku politik disebut sebagai new political protest style.
Partisipasi politik biasanya diklasifikasikan menjadi tindakan konvensional seperti memilih, ikut kampanye, atau menjadi anggota partai dan tindakan non-konvensional seperti demonstrasi, boikot, atau petisi.
Perkembangan masyarakat digital memunculkan bentuk ketiga yaitu politik sebagai gaya hidup (lifestyle politics), di mana kritik dan ekspresi politik dimediasi melalui aktivitas budaya sehari-hari.
Bennett (2012) menyebut fenomena ini sebagai expressive politics, sebuah bentuk keterlibatan politik yang muncul melalui medium non-politik seperti musik, meme, video satir, termasuk stand-up comedy. Panggung komedi di Indonesia hari ini bukan sekadar ruang hiburan, tetapi telah menjadi arena deliberasi publik yang dibalut dengan tawa.
Humor memang memiliki kekuatan politik tersendiri. Teori Mikhail Bakhtin tentang carnivalesque menjelaskan bahwa humor membuka ruang sosial di mana hierarki kekuasaan bisa dibalik dan dikritik tanpa ancaman langsung.
Dalam perspektif komunikasi politik, Hart dan Hartelius menunjukkan bahwa satire adalah bentuk political argumentation, yakni cara menyampaikan kritik yang menggabungkan ironi, hiperbola, dan absurditas untuk mengungkap ketimpangan sosial.
Inilah yang menjadikan komentar Pandji Pragiwaksono bukan sekadar lucu, tetapi juga menampar. Ketika komika yang saat ini berdomisili di New York, Amerika Serikat (AS) itu menyebut wakil presiden dipilih bukan karena kapasitas, melainkan relasi dan kalkulasi politik, publik tidak mendengarnya sebagai gurauan. Publik mendengarnya sebagai kritik tajam yang sulit diucapkan oleh komentator politik arus utama.
Oleh Ali Sahab
COPYRIGHT © ANTARA 2026
