Umat Hindu Bakar Ogoh-Ogoh Hilangkan Angkara

id Umat Hindu Bakar Ogoh-Ogoh Hilangkan Angkara

Umat Hindu Bakar Ogoh-Ogoh Hilangkan Angkara

PARADE "OGOH-OGOH". Sejumlah pemuda mengarak "Ogoh-Ogoh" hasil kreativitasnya dalam parade untuk menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1934 di Tegallalang Bali, Rabu (21/3). (FOTO ANTARA/Nyoman Budhiana).

Acara parade pembakaran ogoh-ogoh, simbol butakala atau angkara murka yang harus dihilangkan dari dalam diri."

Waykanan, Lampung (ANTARA LAMPUNG) - Ribuan umat Hindu Darma Kabupaten Waykanan, Provinsi Lampung, melakukan upacara membakar ogoh-ogoh guna menghilangkan sifat angkara murka dengan dipimpin sebelas orang mangku.

"Acara parade pembakaran ogoh-ogoh, simbol butakala atau angkara murka yang harus dihilangkan dari dalam diri," ujar Ketua Parisada Hindu Dharma Kecamatan Banjit, Gede Budi Artana, di Banjit, Waykanan yang berada sekitar 200 km utara Kota Bandarlampung, Kamis.

Peringatan Hari Raya Nyepi di Banjit, Waykanan, kata dia, dimulai sejak Selasa (20/3) dengan upacara Melasti atau penyucian diri di sumber air suci daerah itu.

Bupati Waykanan Bustami Zainudin menghadiri kegiatan tersebut dan atas nama pemerintah daerah itu memberikan bantuan untuk perayaan Hari Raya Nyepi dan pembangunan Pura Khayangan Tunggal sebesar Rp10 juta.

"Sebelum membakar ogoh-ogoh, tadi siang dilakukan upacara Pecaruan di pertigaan atau perempatan kampung. Tujuannya ialah memberi upah kepada butakala supaya tidak menganggu manusia," jelas Artana lagi.

Artana menambahkan, pembakaran sekitar 8 ogoh-ogoh itu tidak di satu tempat, tetapi diarak keliling kampung.

"Pergantian tahun saka 1933 ke 1934 diharapkan memberikan kesucian pikiran sehingga membuat kehidupan umat menjadi lebih baik atas tuntunan yang diberikanNya," kata dia lagi.

Adapun mulai Jumat (23/3) pagi, kata dia, umat Hindu tidak keluar rumah, tidak menyalakan api, tidak bersenang-senang, tidak menggunakan kendaraan bermesin.

Kemudian pada hari Sabtu (24/3) baru dilaksanakan Dharma Santi, dimana umat Hindu nantinya akan saling bermaaf-maafan.

"Kami tidak melarang bagi yang beragama lain ketika memasuki daerah kami melakukan apa yang kami lakukan, rekan-rekan pers silakan datang memantau keadaan dengan menggunakan kendaraan seperti sepeda motor, aturan itu hanya untuk umat Hindu," ujar Artana menjelaskan.

Pembuatan satu ogoh-ogoh yang akan dibakar itu menghabiskan biaya Rp3 juta. Warga Kampung Balisadhar Utara, Kecamatan Banjit, yang merupakan satu dari tiga kampung umat Hindu Dharma di daerah itu menyiapkan lima buah ogoh-ogoh.

"Masyarakat membuat ogoh-ogoh berbentuk butakala dengan ijuk supaya lebih ekonomis, sehingga per ogoh-ogoh kira-kira menghabiskan biaya Rp3 juta," kata Kepala Kampung Bali sadhar Utara Wayan Sugita. (ANTARA).

Editor : M. Tohamaksun
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.