
Sekolah desa sebagai pusat peradaban, Dosen UM Kalianda lakukan pengabdian di Lampung Selatan

Anak-anak diajak belajar tidak hanya dari buku, tetapi juga dari pengalaman sehari-hari yang mereka temui di lingkungan sekitar
Bandarlampung (ANTARA) - Dosen Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Kalianda, Haifani, melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di salah satu sekolah dasar di wilayah pedesaan Lampung Selatan.
Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi Catur Darma Perguruan Tinggi Muhammadiyah, khususnya pengabdian kepada masyarakat.
Dalam kegiatan tersebut, Haifani bersama tim menemukan bahwa sekolah desa tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan formal, tetapi juga berperan sebagai pusat peradaban desa. Sekolah menjadi ruang penting dalam pembentukan nilai, pengetahuan, dan identitas sosial masyarakat setempat.
Namun, kondisi sekolah desa masih dihadapkan pada berbagai keterbatasan, seperti ruang kelas yang sederhana, minimnya koleksi buku, serta fasilitas pembelajaran yang belum memadai. Keterbatasan tersebut berdampak pada proses belajar-mengajar, meski tidak mengurangi semangat guru dan siswa untuk terus belajar.
Sebagai upaya menjawab tantangan tersebut, Haifani dan tim menginisiasi sejumlah kegiatan literasi sederhana, di antaranya membaca bersama, pendampingan belajar, dan diskusi ringan yang disesuaikan dengan konteks kehidupan masyarakat desa.
"Anak-anak diajak belajar tidak hanya dari buku, tetapi juga dari pengalaman sehari-hari yang mereka temui di lingkungan sekitar," ujar Haifani dalam pernyataan di Bandarlampung, Senin.
Melalui kegiatan ini, sekolah mulai berfungsi sebagai ruang publik desa. Orang tua terlibat dalam diskusi pendidikan anak, pemuda membantu kegiatan belajar tambahan, dan guru menjadi rujukan pengetahuan bagi masyarakat. Sekolah tidak lagi terbatas sebagai ruang kelas, tetapi berkembang menjadi pusat aktivitas sosial, budaya, dan edukasi.
Haifani menegaskan bahwa pembangunan desa tidak cukup hanya berfokus pada pembangunan fisik.
"Membangun desa harus dimulai dari pembangunan institusi peradaban. Sekolah adalah fondasi utamanya," ujarnya.
Ia berharap pengalaman pengabdian ini dapat menjadi inspirasi bagi pemerintah dan masyarakat untuk memperkuat peran sekolah-sekolah desa sebagai pusat peradaban. Melalui pendidikan yang inklusif dan kontekstual, sekolah diyakini mampu menjadi kekuatan transformasi sosial yang nyata.
Kegiatan ini sekaligus menegaskan komitmen Universitas Muhammadiyah Kalianda dalam menjadikan sekolah-sekolah desa sebagai mitra strategis pembangunan manusia, khususnya di wilayah Lampung Selatan.
Pewarta : Emir Fajar Saputra
Editor:
Satyagraha
COPYRIGHT © ANTARA 2026
