Pengembangan 'desa seribu sapi' di Lampung dorong swasembada daging

id Desa seribu sapi, swasembada daging, Peternakan lampung

Pengembangan 'desa seribu sapi' di Lampung dorong swasembada daging

Ilustrasi- Sapi milik peternak yang ada di Lampung. (ANTARA/Ruth Intan Sozometa Kanafi)

Bandarlampung (ANTARA) - Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) Provinsi Lampung mengatakan pengembangan "desa seribu sapi" di Lampung dapat mendorong swasembada daging melalui terbentuknya korporasi peternak.

"Seribu desa sapi saat ini pengadaannya telah 100 persen, dan saat ini kita melanjutkan proses selanjutnya yakni melakukan pendampingan,"ujar Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Lampung, Lampung Lili Mawarti, di Bandarlampung, Jumat.

Menurutnya, adanya pengembangan desa seribu sapi tersebut dapat membangun swasembada daging melalui korporasi peternak.

"Kita harapkan dari pengambangan desa seribu sapi, akan ada bakalan yang digemukkan sebanyak 500 ekor dan itulah yang menjadi stok kita untuk tiga atau empat bulan ke depan sehingga bisa dipanen ataupun dijual," ucapnya.

Ia menjelaskan di Lampung terdapat lima desa yang melakukan pengembangan desa seribu sapi yakni desa Wawasan, Bangun Sari, Sidomukti, Purwodadi dalam, dan Wonodadi di Kabupaten Lampung Selatan.

"Nanti yang mengelola adalah korporasi peternak sehingga sifatnya bergulir, ada yang dijual; adapula yang di kembangkan untuk sapi bakalan, lalu nanti hasil penjualan disisihkan untuk koperasi sehingga kas terus berputar untuk membeli pakan," katanya.

Dia mengatakan saat ini di sejumlah kelompok peternak telah ada sapi indukan yang mulai beranak, sehingga pendampingan pengembangan terus dilakukan.

"Pendampingan terus dilakukan bersama stakeholder terkait untuk mewujudkan kawasan korporasi sapi potong," katanya lagi.

Diketahui dalam program desa seribu sapi tersebut masing-masing kelompok atau desa mendapatkan 200 ekor sapi. Dengan rincian 100 ekor sapi digunakan untuk penggemukan dan 100 ekor sapi lainnya digunakan untuk indukan.
 
Pewarta :
Editor : Hisar Sitanggang
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar