KPK panggil empat saksi kasus suap Lampung Tengah

id suap lampung tengah, tersangka mustafa,tersangka j natalis sinaga

Wakil Ketua DPRD Lampung Tengah J Natalis Sinaga yang telah ditetapkan sebagai tersangkla oleh KPK (FOTO: ANTARA/Reno Esnir/Dok)

Diduga ada beberapa pimpinan DPRD yang menandatangani surat persetujuan tersebut, sehingga KPK akan menelusuri prosedurnya terlebih dahulu
Jakarta (Antaranews Lampung) - Sebanyak empat saksi dipanggil oleh  Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam penyidikan tindak pidana korupsi suap kepada DPRD Kabupaten Lampung Tengah terkait pinjaman daerah untuk APBD Lampung Tengah Tahun Anggaran 2018.

"Penyidik hari ini memanggil empat orang saksi untuk tersangka J Natalis Sinaga dalam kasus suap terkait persetujuan pinjaman daerah untuk APBD Kabupaten Lampung Tengah Tahun Anggaran 2018," kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah, saat dikonfirmasi di Jakarta, Kamis.

Empat saksi itu, adalah anggota DPRD Kabupaten Lampung Tengah Zainuddin, dua PNS pada Dinas Bina Marga Lampung Tengah Andri Kadarisman dan Aan Riyanto, serta pengawal pribadi Bupati Lampung Tengah Erwin Mursalin.

Dalam penyidikan kasus itu, KPK saat ini sedang mendalami proses pembahasan surat persetujuan pinjaman daerah untuk APBD Lampung Tengah Tahun Anggaran 2018 tersebut.

Diduga ada beberapa pimpinan DPRD yang menandatangani surat persetujuan tersebut, sehingga KPK akan menelusuri prosedurnya terlebih dahulu.

"Kalau pembahasan APBD tentu dibahas bersama tetapi pembahasan surat persetujuan ini apakah juga dibahas bersama atau tidak. Itu yang kami klarifikasi dalam rangkaian pemeriksaan untuk sejumlah anggota DPRD, termasuk pimpinan DPRD-nya," ujar Febri.

KPK telah menetapkan empat tersangka masing-masing Bupati Lampung Tengah (nonaktif) Mustafa, Kepala Dinas Bina Marga Kabupaten Lampung Tengah Taufik Rahman, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Lampung Tengah J Natalis Sinaga, dan anggota DPRD Kabupaten Lampung Tengah Rusliyanto sebagai tersangka suap dalam kasus tersebut.

Mustafa disangkakan melanggar pasal 5 ayat (1) huruf a atau huruf b atau pasal 13 Undang Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Dugaan peran Mustafa adalah sebagai pihak pemberi secara bersama-sama dengan Taufik Rahman, yaitu adanya dugaan arahan Bupati terkait dengan permintaan sejumlah uang dari pihak anggota DPRD dengan kode "cheese" (cis).

Diduga arahan Bupati itu agar uang diambil atau diperoleh dari kontraktor sebesar Rp900 juta dan dari dana taktis Dinas PUPR Kabupaten Lampung Tengah sebesar Rp100 juta rupiah dengan total Rp1 miliar. Sedangkan diduga sebagai penerima, yaitu J Natalis Sinaga dan Rusliyanto.

Diduga, pemberian uang untuk anggota DPRD Kabupaten Lampung Tengah terkait persetujuan DPRD atas pinjaman daerah kepada PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) sebesar Rp300 miliar.

Pinjaman itu direncanakan akan digunakan untuk pembangunan proyek infrastruktur yang akan dikerjakan Dinas PUPR Kabupaten Lampung Tengah.

Untuk mendapatkan pinjaman tersebut, dibutuhkan surat pernyataan yang disetujui atau ditandatangani bersama dengan DPRD Kabupaten Lampung Tengah sebagai persyaratan nota kesepahaman (MoU) dengan PT SMI. Dalam memberikan persetujuan atau tanda tangan surat pernyataan tersebut, diduga terdapat permintaan dana sebesar Rp1 miliar.
Pewarta :
Editor: Edy Supriyadi
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar