Bandarlampung (ANTARA LAMPUNG) - Pemerintah Provinsi Lampung mendesak pemerintah pusat untuk merealisasikan pembangunan Jembatan Selat Sunda yang menghubungkan Pulau Jawa dan Sumatera.
"Pemasangan `ground breaking` atau tiang pancang diharapkan pada tahun depan," kata Gubernur Lampung Sjachroedin ZP pada ekspose Jembatan Selat Sunda (JSS) di Bandarlampung, Senin (11/11).
Ia mengatakan bahwa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beberapa waktu lalu menyatakan dukungan percepatan pembangunan Jembatan Selat Sunda. "Pak SBY pada Juni 2009 dalam kampanye di Lampung menyatakan bahwa Provinsi Lampung akan maju, jika JSS terealisasi pembangunannya dalam kurun waktu lima tahun," katanya.
Presiden juga telah mengeluarkan Keppres 36 tahun 2009 tentang Pembentukan Tim Nasional Persiapan Pembangunan Jembatan Selat Sunda disusul kemudian dengan Perpres No 86 tahun 2011 tentang Pengembangan Kawasan Strategis dan Infrastruktur Selat Sunda (KSISS).
Namun demikian lanjutnya, hingga saat ini percepatan pembangunan JSS tidak berjalan atau stagnan karena pembantu presiden yakni para menteri yang tergabung dalam tim tujuh khusus menangani JSS juga tidak bersungguh-sungguh dalam mengerjakan proyek besar tersebut.
Seharusnya, lanjut dia, menteri sebagai pembantu presiden mengamankan kebijakan yang telah dibuat presiden bukan lagi menyatakan bahwa pembangunan JSS itu sebagai wacana.
"Pembangunan JSS bukan lagi wacana mengingat telah keluarnya Keppres dan Perpres," kata dia.
Sebelumnya diberitakan, studi kelayakan (feasibility study/FS) pembangunan Jembatan Selat Sunda, yang menghubungkan Pulau Jawa dan Sumatera, diharapkan selesai 2014.
Untuk penyusunan FS JSS tersebut, tim tujuh telah mengeluarkan rekomendasi dengan beberapa opsi, yakni dilaksanakan oleh konsorsium perusahaan, pemerintah atau badan usaha milik negara (BUMN).
"Kalau pemerintah jelas tidak mungkin karena juga tidak memungkinkan menggunakan dana APBN untuk kegiatan tersebut, jadi ada kemungkinan akan diserahkan pada perusahaan penggagas plus BUMN," kata Hatta Radjasa.
Hatta juga menjelaskan, untuk penyusunan FS JSS dibutuhkan anggaran cukup besar, yakni berkisar Rp1,2 triliun, sedangkan untuk pembangunan jembatan yang menghubungkan Provinsi Banten dengan Provinsi Lampung tersebut dibutuhkan anggaran sekitar Rp200 triliun.
"Anggaran yang dibutuhkan sangat besar, dan kenapa tetap akan dilaksanakan karena dalam proyek itu bukan hanya membangun jembatan dan lebih dari itu, yakni membantu satu kawasan ekonomi yang strategis," ujar dia.
Pembangunan Jembatan Selat Sunda (JJS) yang menghubungkan Pulau Jawa dan Sumatera tidak hanya berdampak sangat baik bagi pertumbuhan ekonomi Lampung-Banten saja, tapi ekonomi Indonesia bagian barat.
"Peningkatan perkonomiman Indonesia akan melonjak sampai 80 persen bahkan booming juga bagi Barat," kata Pakar Ekonomi Lampung Ayi Ahadiyat.
Menurutnya, dampak positif secara ekonomi tersebut harus segera disosialisasikan pada masyarakat Lampung khususnya, agar tidak menjadi penonton program mega proyek pemerintah pusat itu.
"Pemerintah harus menyosialisasikan pencanangan program itu pada masyarakat, agar masyarakat khususnya UMKM dapat berperan aktif dan turut merasakan dampak positif atas pembangunan jembatan itu," kata dia.
