KPH Batutegi Temukan Puluhan Kayu Diduga Pembalakan Liar

id KPH Batutegi Temukan Kayu, Pembalakan Liar Batutegi, Pembalakan Kayu, KPH Batutegi

Kayu sonokeling dalam bentuk balok diduga hasil pembalakan liar di kawasan lindung Batutegi, Kabupaten Tanggamus, Lampung, ditemukan petugas kehutanan, Senin (28/1). (FOTO: ANTARA Lampung/Dian Hadiyatna)

Tanggamus, Lampung (Antaranews Lampung) - Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) VIII Batutegi Air Naningan menemukan puluhan kayu sonokeling yang terindikasi hasil pembalakan liar (illegal logging) pada kawasan hutan lindung, di Pekon Air Naningan, Kecamatan Air Naningan, Kabupaten Tanggamus, Lampung, Senin (28/1).

Menurut Kepala KPH VIII Batutegi Yayan Ruchyansyah temuan puluhan kayu tersebut hasil dari laporan warga setempat dan ditindaklanjuti oleh petugas kehutanan di lapangan untuk diamankan sementara.

Yayan mengatakan, aktivitas pembalakan liar tersebut sudah terindikasi dari minggu lalu, namun tim sendiri baru menemukan kayu-kayu tersebut tanpa pemilik sekitar pukul 03.00 dini hari (Senin).

"Kayu ini ditemukan sudah dalam bentuk potongan balok kaleng, dan tidak ditemukan pemiliknya," katanya.

Ia menjelaskan, kayu sonokeling termasuk dalam salah satu kayu langka, tapi tidak dikhawatirkan punah, namun apabila pembalakan liar tetap didiamkan bukan mustahil kayu sonokeling akan punah juga.

Menurutnya, kayu sonokeling memiliki harga lumayan berkisar Rp16 juta hingga Rp20 juta per kubik, sehingga banyak orang yang menginginkannya, sedangkan pohonnya hanya berada di kawasan hutan lindung.

"Sejauh ini sudah ditemukan dua kejadian pembalakan liar yang ditemukan petugas awal Januari ini," katanya.

Upaya untuk mencegah atau pun mengantisipasi kejadian serupa, pihak KPH VIII Batutegi akan mengintensifkan petugas patroli di lapangan, dan akan dibantu oleh pihak Polsek serta Koramil Pulau Panggung.

Sementara itu untuk kerugian secara materiil, ia menyebutkan belum bisa dihitung karena selama ini setiap kali ada temuan di lapangan selalu tidak mendapati tersangkanya.

Namun untuk kerugian secara lingkungan akan sangat berdampak pada habitat flora dan fauna di sana, sehingga kondisi kestabilan ekositem yang terganggu serta pola penyerapan air menjadi kurang maksimal.
Pewarta :
Editor: Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar