Jenewa, Swiss (Antara/Reuters) - Empat kota di India masuk dalam daftar lima kota di dunia dengan polusi udara terburuk di dunia, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan pada Kamis.
Namun pada saat para pakar dari WHO memahami bahwa India menghadapi sebuah "tantangan besar," banyak negara di dunia juga sangatlah buruk dan mereka tidak memiliki sistem pemantau dan tidak dapat dicantumkan dalam peringkat itu.
Kadar polusi udara terburuk tercatat di Zabol, Iran, yang menderita dikarenakan badai debu selama beberapa bulan saat musim panas, dan menyebabkan kadar partikel PM2,5 mencapai angka 217. Empat kota lainnya berada di India yaitu Gwalior, Allahabad, Patna dan Raipur.
Ibu kota India, New Delhi, menduduki peringkat terburuk kesembilan, diukur dengan jumlah material partikel di bawah 2,5 mikrogram yang ditemukan dalam setiap meter kubik udara, dengan pengukuran partikel PM2,5 tahunan sebanyak 122.
Material seukuran partikel yang kecil dapat menyebabkan kanker paru-paru, stroke dan penyakit jantung jika terpapar dalam jangka panjang, serta memicu gejala seperti serangan jantung yang lebih mematikan. Pihak WHO mengatakan bahwa lebih dari tujuh juta kematian dini terjadi setiap tahunnya dikarenakan adanya polusi udara, tiga juta kasus di antaranya dikarenakan oleh kualitas udara luarnya.
New Delhi berada dalam urutan terburuk pada 2014, dengan kadar partikel PM2,5 tercatat sebesar 153. Sejak saat itu kota tersebut mencoba untuk menangkal udara kotor mereka dengan cara membatasi penggunaan mobil pribadi di jalanan dalam kurun waktu yang singkat.
Maria Neira, kepala kesehatan publik, penentu kesehatan sosial dan lingkungan dari WHO, memuji pemerintahan India karena mengembangkan sebuah rencana nasional untuk mengatasi permasalahan yang negara lain masih belum dapat melakukannya.
"Kemungkinan beberapa kota terburuk yang memiliki kadar polusi tertinggi di dunia tidak tercantum dalam daftar kami, dikarenakan mereka begitu buruknya dan bahkan tidak memiliki sistem yang memadai untuk memantau kualitas udara, jadi tidaklah adil untuk membandingkannya atau memberikan peringkat," ujarnya.
Penyebab polusi udara umumnya dikarenakan terlalu banyaknya kendaraan, terutama kendaraan yang menggunakan bahan bakar solar, sistem penghangat dan pendingin gedung-gedung besar, manajemen pembuangan, pertanian dan penggunaan generator listrik bertenaga diesel atau batu bara.
Rata-rata, tingkat polusi memburuk sebesar delapan persen pada 2008 hingga 2013, meskipun sebagian besar kota di sejumlah negara kaya meningkatkan keadaan udara mereka dalam waktu yang sama.
Data dari WHO, dari survei yang dilakukan di 3.000 wilayah perkotaan, menunjukkan hanya dua persen kota di negara miskin memiliki kualitas udara yang memenuhi standar WHO, sementara 44 persen dari kota yang lebih kaya memenuhi standar yang sama.
Data WHO hampir dua kali lipat dari yang mereka miliki sejak 2014, dan kecenderungan menuju transparansi menjadi langkah untuk mengatasi permasalahan itu, Neira mengatakan.
Meskipun demikian, masih sangat sedikit data dari Afrika, ujarnya.
