Perjuangan Sang Letkol untuk Air Bersih NTT

id Letkol Cpl TNI Simon P. Kamlasi

NTT (ANTARA Lampung) - "Sekarang sumber air su dekat. Beta sonde pernah terlambat lagi lebih mudah bantu mamak ambil air untuk mandi adik karena mudah ambil air, katong bisa hidup sehat Bapak ikut bantu jeung bapak desa".

Kalimat "sumber air su dekat" tak asing lagi di telinga masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) khususnya daratan Timor sampai saat ini.

Kondisi nyata sulitnya mendapatkan air bersih memang telah menjadi masalah turun-temurun yang dialami warga NTT.

Persoalan kurangnya air bersih di Nusa Tenggara Timur (NTT) khususnya di kepulauan Timor itu, membuat seorang pria kelahiran Desa Sunu Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Letnan Kolonel Cpl TNI Simon P. Kamlasi, mencoba mengembangkan idenya agar masyarakat di desanya lebih mudah mendapatkan air bersih.

"23 tahun semenjak saya meninggalkan desa itu sampai kembali lagi, tidak ada perubahan sama sekali. Masih saja anak-anak harus turun ke kali yang jauhnya bisa mencapai lima kilometer," ujarnya.

Hal inilah yang mendorong pria berkulit sawo matang tersebut berniat untuk menciptakan sebuah pompa air hidrolik yang dapat menarik air dari kejauhan, hingga satu sampai lima kilometer.

Setelah menyelesaikan sekolah Taruna pada 2014, melihat kondisi desanya masih seperti saat ia meninggalkannya, membuat Simon membulatkan tekadnya untuk menguji coba ilmu fisika yang ia pelajari saat masih berada di bangku sekolah.

Sistem mekanika fluida dalam ilmu Fisika digunakannya sebagai bahan acuan untuk menciptakan sebuah pompa air hidrolik yang dapat mendorong air dari daerah yang terendah menuju ke tempat yang tinggi.

Mekanika Fluida adalah cabang dari ilmu fisika yang mempelajari mengenai zat fluida (cair, gas dan plasma) dan gaya yang dapat bekerja padanya. Hal tersebut merupakan pemanfaatan tekanan akibat tekanan air yang meningkatkan gas dalam tabung.

"Potensi dari tekanan gas inilah yang menekan air sejauh-jauhnya selama ada dorongan dari air," katanya.

Pria yang saat ini menjabat sebagai Kepala Seksi Logistik Korem 161/Wiraksakti ini pun harus mengeluarkan biaya pembuatan dari kantongnya sendiri untuk meyakinkan warganya dengan bantuan dari beberapa sanak keluarganya serta teman-teman tentaranya.

"Uji coba pertama yang saya lakukan sendiri di kampung saya dengan dana hanya mencapai delapan juta rupiah, dan akhirnya berhasil lalu sekarang telah dinikmati oleh seribu kepala keluarga," kata dia.

Pada musim panas tahun lalu tepatnya Oktober-November 2014, dua desa tetangganya harus datang ke desanya dengan menempuh perjalanan enam kilometer agar bisa mendapatkan air bersih di Desa Sunu, karena mendengar kabar bahwa Desa Sunu tidak mengalami kesulitan air lagi.

Ia kemudian berpikir bahwa jika ada bantuan lagi dari berbagai pihak khususnya pemerintah untuk mendatangkan pipa tambahan maka hal tersebut akan sangat membantu warga di desa lain.

Apa yang dipikirkannya akhirnya terjawab dengan bantuan dari TNI serta Kopassus yang langsung turun ke lokasi-lokasi yang dianggap menjadi daerah yang kekurangan air.

"Ekspedisi NKRI saat ini telah menyumbang 30 pipa air yang digunakan untuk menjalankan program tersebut. Tinggal saat ini mencari tempat yang wilayahnya kekurangan air kemudian kita pasang," tambahnya.

Simon pun bersyukur karena dengan idenya tersebut wilayah-wilayah di NTT yang mengalami krisis air saat musim kering dapat diatasi dengan menggunakan pompa tersebut, walaupun masih belum semua.

Alat-alat yang digunakan untuk membuat pompa tersebut hanya berasal dari ban bekas kendaraan yang setiap tahun bisa diganti dengan yang baru, dan menurutnya sangat efisien dengan melihat kehidupan ekonomi masyarakat NTT yang masih sangat rendah.

Sampai saat ini, 103 unit pompa hidrolik telah ia pasang hampir di seluruh NTT. Bukan hanya warga NTT saja yang telah menikmati pompa tersebut, namun beberapa provinsi seperti Kalimantan Barat, Timur dan Utara serta di Pulau Jawa khususnya di gunung Kidul Wonosari.

"Di hampir seluruh Kalimantan ada 30 pompa yang telah saya pasang, khususnya di wilayah-wilayah perbatasan," kata suami dari Esther Meilany Siregar tersebut.

Buah dari keuletannya tersebut pada 27 Januari 2015, ayah empat anak tersebut diberikan penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) karena orang pertama yang memprakarsai pembuatan alat pompa air hidrolik secara massal.

Apalagi pada tahun 2016 nanti, ia akan diangkat menjadi Kolonel karena mendapat promosi langsung dari Kepala Staf TNI Angkatan Darat, yang artinya menjadi satu-satunya Kolonel termuda di NTT saat ini.

Menurutnya dari semua prestasi yang ia peroleh bukan karena kerja kerasnya saja, namun akibat bantuan dari Tuhan Yang Maha Esa.

"Semua prestasi yang sudah saya dapat, tidak membuat saya untuk bergeser dari niat awal saya untuk membantu masyarakat Indonesia khususnya warga NTT dari masalah kekurangan air bersih," tambahnya.

Pria yang pernah menjabat sebagai Komandan Detasemen Peralatan, 09-12-03 Kupang tersebut mengatakan, kepangkatan dan posisi yang ia peroleh saat ini menurutnya hanyalah alat yang dapat membantunya memperlancar apa yang telah ia mulai.

"Masih banyak warga NTT kita yang mengalami masalah dengan air, sehingga sampai kapanpun saya akan tetap membantu warga saya," kata pria yang lahir pada 14 April 1975 itu.

Harus Inovatif
Komandan Korem (Dandrem) 161/Wirasakti Brigadir Jenderal TNI Achmad Yuliarto menghimbau kepada seluruh prajuritnya khususnya 13 Komandan Kodim se-NTT untuk bisa berinovasi dengan memberdayakan segala sumber daya alam di tempat bertugas.

Hal ini, menurut dia, bertujuan untuk memotivasi, menggugah dan menumbuhkan kesadaran masyarakat di wilayah agar dapat mewujudkan masyarakat mandiri yang berkualitas sebagai aset berharga dalam pembangunan.

Inovasi yang dilakukan oleh Letkol Simon, menurut dia, merupakan bagian dari pemanfaatan sumber daya alam yang ada di NTT.

"Ia merupakan seorang putra daerah NTT yang mempunyai inovasi yang sangat bagus, juga membantu TNI dalam meningkatkan kerja sama serta kedekatan dengan masyarakat," katanya lagi.

Ia mengharapkan, apa yang telah dimulai oleh Letkol Simon dapat diikuti oleh prajurit yang lain, sehingga kemanunggalan TNI dan rakyat terus terjalin.

Pejabat Bupati Kabupaten Belu Wilhelmus Foni mengatakan saat ini Desa Kabuna saat ini telah menikmati air bersih dari pompa air hidrolik yang dikembangkan oleh Letkol Simon.

Ia mengatakan saat ini sedang direncanakan untuk membangun pompa dengan jenis yang sama di Desa Salore.

"Pembuatan pompa tersebut tidak membutuhkan dana yang banyak sebab peralatannya hanya dari ban bekas dan dana yang dikeluarkan hanya mencapai Rp10 sampai Rp15 juta, sementara untuk perawatannya tidak perlu mengeluarkan biaya lagi," ujarnya.

Ia sendiri mengaku sangat terbantu dengan adanya pompa air hidrolik tersebut, sebab hampir sebagian dari desa-desa di Kabupaten Belu masih mengalami kekurangan air bersih untuk dapat digunakan sehari-hari.

Dia mengharapkan pembuatan pompa air hidrolik tersebut di semua desa di NTT yang mengalami kekurangan air bersih dapat segera terselesaikan, sehingga "image" yang menyatakan NTT adalah wilayah yang kekurangan air dapat dihilangkan.

Pewarta :
Editor :
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.