Pendiri East West Seed raih Nobel pangan

id Nobel pangan, east west seed

Pendiri East West Seed Simon N. Groot (tengah) dalam suatu acara di Karawang bersama Managing Director PT East West Seed Indonesia Glenn Pardede (kanan) dan petani setempat. (ANTARA/Istimewa)

Jakarta (ANTARA) - Pendiri East West Seed, Simon N. Groot, mendapat Nobel untuk pangan atau dikenal World Food Prize 2019 karena memiliki kontribusi besar dalam memperbaiki nutrisi dan menciptakan peluang ekonomi berkelanjutan bagi petani kecil di seluruh dunia.

Dalam siaran pers PT East West Seed Indonesia yang diterima ANTARA di Jakarta, Kamis, penghargaan diumumkan langsung oleh Menteri Sekretaris Negara AS Mike Pompeo dan Presiden World Food Prize Kenneth M. Quinn.

Menurut Kenneth. M Quinn, Groot telah menjalankan suatu peran transformatif dalam meningkatkan kesehatan dan peluang ekonomi komunitas petani kecil di lebih dari 60 negara tropis dengan membantu mereka beralih dari pertanian subsistem ke kewirausahaan hortikultura.

Dikenal sebagai “Penghargaan Nobel untuk Pangan”, World Food Prize memberikan penghargaan kepada Simon Groot dan perusahaannya, East-West Seed (EWS), atas pencapaiannya selama empat dekade. Groot telah sukses membangun sebuah industri sayuran tropis yang dinamis, berpusat pada petani kecil, memulainya di Asia Tenggara yang kemudian berkembang ke Asia, Afrika, dan Amerika Latin.

“Simon Groot telah mendedikasikan hidupnya untuk meningkatkan mata pencaharian jutaan orang di dunia,” kata Kenneth Quinn.

Simbon dan perusahaannya, kata dia, mengembangkan suatu jaringan produsen benih global yang memberikan dampak dalam mentransformasikan kehidupan 20 juta petani setiap tahun.

"Karena pencapaian yang luar biasa inilah, dia layak menjadi penerima hadiah World Food Prize 2019," ujarnya.

Saat Groot mendirikan East-West Seed, pemuliaan sayuran komersial sama sekali tidak dikenal di daerah tropis, sedangkan banyak petani mengalami kesulitan menanam tanaman yang baik dengan benih berkualitas rendah, benih yang beradaptasi buruk yang sering disimpan dari musim ke musim.

Benih berkualitas buruk menghasilkan panen yang rendah, yang diterjemahkan ke dalam kemiskinan dan kekurangan gizi bagi petani dan keluarga mereka.

Groot bersimpati dengan nasib petani dan melihat sebuah cara untuk memutus lingkaran setan kemiskinan dengan membantu petani menjadi makmur melalui diversifikasi tanaman sayuran yang bernilai tinggi.

Bekerja sama dengan LSM lokal dan internasional, Groot juga membuat program inovatif East-West Seed Transfer Pengetahuan, yang melatih puluhan ribu petani setiap tahun tentang praktik pertanian terbaik untuk produksi sayuran.

"Penghargaan ini sesungguhnya untuk jutaan petani kecil yang telah berhasil berpindah dari pertanian untuk bertahan hidup menjadi sebuah bisnis yang berkelanjutan untuk diri mereka dan masyarakat. Mereka telah membuktikan bahwa pertanian sayuran skala kecil adalah cara yang efektif untuk menumbuhkan pendapatan pedesaan dan pekerjaan serta meningkatkan gizi pada saat yang sama," kata Groot.

Prof. Dr. Ir. Louise O. Fresco, Presiden Wageningen University and Research, menyampaikan kesan bahwasanya Simon Groot memiliki keberanian, komitmen, dan visi yang kuat.

“Saya yakin dia akan membagikan keyakinannya bahwa ketahanan pangan yang nyata harus mencakup tidak hanya memenuhi kalori tetapi juga manfaat nutrisi yang didapat dari sayuran," katanya.

Groot dijadwalkam menerima World Food Prize pada 17 Oktober 2019 di Ioaw State Capitol Des Moines.
Pewarta :
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar