Nikmatnya Memancing Ikan Mas Teknik Pelampungan

id pemancingan ikan mas, pelampung, ikan ams, mancing manis

Nikmatnya Memancing Ikan Mas Teknik Pelampungan

Ilustrasi (www.mancing.info)

Waktu menunjukkan pukul 13.30 WIB. Sejumlah pekerja di kolam pemancingan di daerah perbatasan Kabupaten Lampung Selatan dan Bandarlampung menyiapkan perlengkapan bagi pemancing.

Mereka bertugas sesuai pembagiannya. Ada yang membersihkan air kolam dari kotoran sampah seperti dedaunan serta plastik atau lainnya, ada pula yang menyiapkan kursi serta ada yang menyiapkan keramba, korang, atau cakik.

Beberapa pemancing mulai berdatangan. Ada yang mengendarai mobil, menggunakan sepeda motor berboncengan dan ada pula yang berjalan kaki karena rumahnya tak jauh dari lokasi pemancingan tersebut.

Mereka kemudian mendaftar ke panitia untuk mengikuti sesi pertama galamata ikan mas pelampungan dengan tiket Rp32 ribu mulai pukul 14.00 WIB hingga pukul 14.00 WIB dan selama dua jam pemancingan, begitu pula jika ingin mengikuti sesi ke dua dimulai pukul 16.00 WIB hingga pukul 18.00 WIB.

Menurut penyelenggara, uang Rp32 ribu itu dibagi dua yakni Rp16 ribu untuk membeli ikan seberat 0,5 kilogram yang dimasukkan sebagai jatah bagi pemancing dan sisanya untuk hadiah.

"Soal hadiah tergantung berapa jumlah pemancingnya. Semakin banyak semakin besar. Hadiah diberikan kepada pemancing yang mendapatkan ikan terberat serta terbanyak," ujar Amin, salah satu pengelola pemancingan.

Ia mengatakan, jumlah pemancing akan banyak pada akhir pekan atau pada Minggu termasuk ketika hari libur. Bahkan malam hari ketika buka pun lapak hampir penuh.

"Tetapi kalau malam Jumat kami tutup, begitu pula pada Minggu malam karena sepi. Mungkin para pemancing sudah lelah karena mancing pada Minggu," katanya.

Dari pantauan di lokasi, banyaknya pemancing karena pelayanan menurut sejumlah peserta galatama cukup memadai karena tempatnya nyaman dan petugasnya cekatan.

Apalagi di Lampung, khususnya Kota Bandarlampung kini "menjamur" tempat pemancingan sehingga pengelola berupaya memaksimalkan pelayanan agar pemancing bertahan.

Sutrisno, salah satu pemancing mengaku menyukai galatama pelampungan karena selain menikmati saat umpan dimakan ikan melalui gerakan pelampung, juga berharap hadiahnya.

"Jujur, kalau makan ikan mungkin sudah agak bosan, bahkan orang rumah (istri), sudah enggan untuk memasaknya karena keseringan saya membawa pulang ikan hasil mancing," kata dia.

Karena itu, lanjutnya, daripada mubazir hasil ikan tersebut, ia memilih lokasi pemancingan yang mau menampung kembali hasil pancingan sehingga hobi tersalurkan dan hasil pancingan bisa dijadikan uang.

Sutrisno yang bekerja sebagai satuan pengamanan di salah satu BUMN itu mengaku sedang dapat waktu kerja malam sehingga siangnya digunakan untuk menyalurkan hobinya.

"Lelaki itu, seperti kata iklan di teve harus ada mainan. Daripada main yang nggak jelas, mendingan memancing. Istri pun sudah memakluminya," terang dia.

Dia menjelaskan, selain sedang hoki atau memiliki keberuntungan di hari itu, lapak (tempat memancing) dan umpan menentukan pula keberhasilan dalam mendapatkan ikan.

"Setiap kolam pemancingan rata-rata memiliki lapak favorit. Artinya ikan selalu berada di sana. Dan ada pula lapak yang sering disebut lapak `In Sya Allah`, karena jarangnya ikan masuk di daerah itu," kata dia.

Soal lapak, ujar dia, akan ditentukan dengan sistem pengundian. Ketika para pemancing sudah kumpul dan jam pemancingan akan dimulai, panitia mengundinya.

"Kalau hari lagi bagus, dapat lapak bagus. Insya Allah bisa memenangkan perlombaan itu," katanya.

Sutrisno mengatakan sudah beberapa tahun terakhir ini mancing galatama yang sebelumnya sering di siraman. Siraman artinya, pemancingan dengan waktu tertentu misal dua jam dengan harga Rp16 ribu atau Rp17 ribu untuk jatah ikan 0,5 kilogram yang dimasukkan, dan tidak ada hadiah di sana.

Ia menuturkan, lantaran kerap mendapatkan hasil banyak dan kadang tak sampai dikonsumi, ia pun mencari lokasi pemancingan yang mau membeli kembali hasil pancingannya itu.

Untuk mendapatkan hasil maksimal, ia terus meracik umpan yang cocok di kolam galatama teknik pelampungan tersebut.

"Saya sembilan kali mancing zonk (tidak dapat) karena tidak mengetahui karakter air kolam dan ikannya. Setelah melihat pemancing lain membuat umpan, ternyata ada yang selama ini saya tidak gunakan. Kemudian saya racik dengan tambahan seperti yang sering pemancing di kolam itu pakai--ikan sudah terbiasa dengan aromanya. Hasilnya, kini hampir setiap memancing dapat ikan," kata dia.

Namun, ia pun sering "berburu" umpan melalui media sosial dan mengikuti grup-grup terkait memancing.

"Di grup itu ada resep-resep umpan. Karena mayoritas mereka di Jawa, ada beberapa bahan yang tidak ada di Lampung. Selain itu, karakter ikan dan air kolam berbeda. Saya lakukan modifikasi," katanya.

Ada pula, lanjut dia, memesan langsung ke rekan di sosial media yang memproduksi umpan, dan umumnya digunakan ketika mengikuti perlombaan. Hal tersebut terkait biaya yang harus dikeluarkan cukup besar bila dibandingkan membuat umpan sendiri, karena harus membayar pula ongkos kirimnya.

"Tetapi, bagi para pemancing terkadang tak memikirkan berapa biaya yang dikeluarkan untuk membuat atau mendapatkan umpan," kata dia.

Ia pun mengakui sering dimintai rekan sesama pemancing yang memiliki uang untuk membuatkan umpan atau dengan kata lain, umpan racikannya dibeli.

"Ya itu tadi, bagi pemancing ketika di kolam tidak mempedulikan berapa biaya dikeluarkan, yang terpenting ikan makan, pelampung goyang dan tenggelam, ketika disentak (tarik) mendapatkan ikan. Itulah nikmatnya memancing dengan teknik pelampungan," kata dia. (Ant)

Pewarta :
Editor : Samino Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.