207 Nelayan Meninggal Di Laut

id 207 Nelayan Meninggal Di Laut, KAIRA, Ikan, Sungai, Kapal, PPI, DKP, PPK, KKP, BMKG, Cuaca, Ombak, Arus, Gelombang, Ikan, Cumi, Perahu, PPI, Pendarat

207 Nelayan Meninggal Di Laut

Ikan hasil tagkapan para peserta lomba memancing di Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung. (ANTARA FOTO Dok/M.Tohamaksun).

Hingga Juli 2014 sudah ada 207 nelayan yang meninggal akibat kecelakaan di laut, tentu angka tersebut diperkirakan terus meningkat hingga akhir tahun nanti."
Jakarta (ANTARA Lampung) -  Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara) menyatakan jumlah nelayan yang meninggal karena kecelakaan saat beraktivitas di tengah laut mengalami peningkatan, bahkan hingga Juli 2014 sudah tercatat 225 nelayan tradisional yang mengalaminya.

"Karena itu, pemerintah perlu memberikan jaminan perlindungan jiwa kepada nelayan, sebab jumlah nelayan yang meninggal akibat kecelakaan di laut 2010 sebanyak 86 orang, 2011 sebanyak 149 orang, 2012 sebanyak 160 orang dan 2013 sebanyak 225 orang," kata aktivis/pegiat Kiara, Selamet Daroyni, di Jakarta, Kamis.

Koordinator Pendidikan dan Penguatan Jaringan Kiara itu memperkirakan tahun ini angka kecelakaan kapal nelayan yang menimbulkan korban jiwa akan mengalami peningkatan seiring kondisi cuaca buruk di perairan yang semakin ekstrem.

"Apalagi, hingga Juli 2014 sudah ada 207 nelayan yang meninggal akibat kecelakaan di laut, tentu angka tersebut diperkirakan terus meningkat hingga akhir tahun nanti," katanya.

Sebagian besar kapal nelayan tradisional berukuran kecil ini tidak memiliki alat keselamatan sehingga dengan mudah dihantam gelombang disertai angin kencang.

"Nelayan tradisional itu melaut tanpa perlindungan dan jaminan pemerintah ini, misalnya jaminan perlindungan jiwa, sosial, kesehatan dan pendidikan," katanya.

Selain itu, semakin sulitnya akses melaut akibat praktik pembangunan yang tidak ramah lingkungan, serta ancaman bencana yang terjadi di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil seiring perubahan iklim yang cukup ekstrem.

"Selama ini, masalah yang dihadapi nelayan tradisional ini kurang mendapatkan tanggapan yang positif dari pemerintah, sehingga angka kemiskinan di daerah pesisir terus mengalami peningkatan," ujarnya.

Berdasarkan Pasal 7 ayat 2 Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, status cuaca ekstrem di laut semestinya dikategorikan sebagai bencana nasional.

Apalagi, Badan Metereologi, Klimateologi dan Geofisika (BMKG) sudah memberikan informasi perkiraan cuaca dan peringatan dini apabila ada perkiraan cuaca buruk di perairan yang membahayakan keselamatan nelayan.

"Ironisnya, informasi yang disediakan BMKG ini tidak dijadikan sebagai panduan oleh pemerintah untuk melindungi nelayan, akibatnya angka kecelakaan kapal nelayan dan korban jiwa di laut terus mengalami peningkatan yang cukup tinggi," ujarnya.

Pewarta :
Editor : M. Tohamaksun
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar