Bandarlampung (ANTARA LAMPUNG) - Pemilu 9 April 2014 tinggal menghitung hari sehingga para calon anggota DPR/DPRD dan DPD kini makin sibuk mempromosikan dirinya dengan menggunakan berbagai wadah, termasuk spanduk dan baliho yang dipasang di pinggir jalan dan kawasan strategis lainnya.
Para caleg itu selalu menonjolkan dirinya sebagai pejuang kepentingan masyarakat, sosok yang bisa dipercaya dan jujur. Gelar kesarjanaan juga tak luput dicantumkan oleh sebagian caleg untuk memberitahukan kepada masyarakat bahwa mereka adalah calon yang berpendidikan tinggi sehingga memiliki kapasitas sebagai wakil rakyat.
Terkait pemilihan itu, sejumlah calon anggota legislatif perempuan asal Lampung juga tak urung menyebutkan berbagai janji yang akan diperjuangkannya jika terpilih sebagai anggota dewan. Mereka juga menyebutkan politik praktis merupakan salah satu wadah untuk mempercepat pembangunan di Indonesia dan daerahnya. Program atau janji yang ditawarkan juga tidak selalu rumit, namun banyak bersentuhan dengan kepentingan masyarakat.
Salah satu calon anggota legislatif perempuan yang diusung oleh Partai Nasional Demokrat (Nasdem), Herni, menyebutkan programnya sederhana, yakni memperjuangkan nasib kaum perempuan di daerah pemilihannya.
"Yang jelas, saya ingin menjadi penyambung anspirasi kaum perempuan," kata dia tanpa menjelaskan secara terperinci program-programnya itu.
Caleg yang kesehariannya adalah pedagang kue dan sayuran keliling itu menyebutkan dirinya sebenarnya tak berminat jadi calon anggota legislatif. Namun berkat dorongan dari berbagai pihak, termasuk dukungan suaminya, ia akhirnya mau jadi caleg.
"Saya tidak ambisius, kalau masyarakat memilih saya dan bisa duduk, ya bersyukur," kata caleg nomor urut lima dari Daerah Pemilihan 4 meliputi Kecamatan Tanjungsari, Tanjungbintang dan Merbaumataram Kabupaten Lampung Selatan itu.
Di tempat terpisah, salah satu calon anggota legislatif perempuan asal Kabupaten Mesuji menyebutkan program pemerintah di daerahnya perlu dipercepat realisasinya.
"Prioritas utama saya nantinya, di antaranya adalah memperjuangkan perbaikan mutu kesehatan dan pendidikan di kabupaten ini," kata Tauri Afitri, caleg nomor urut 5 yang diusung Partai Nasdem untuk Daerah Pemilihan 3 Kecamatan Tanjung Raya Kabupaten Mesuji.
Ibu dua anak kelahiran tahun 1990 ini sebelumnya bekerja sebagai pegawai honorer di Pemkab Mesuji. Ia mengaku hanya berpendidikan SMA, dan baru setahun terakhir terjun menggeluti politik praktis. Meski minim pengalaman politik, hal itu tidak menyurutkan tekadnya untuk mendorong percepatan pembangunan di Kabupaten Mesuji.
"Menurut saya, dengan terjun ke politik praktis bisa mendorong percepatan pembangunan. Aspirasi masyarakat diserap dan diperjuangkan agar segera terwujud," katanya lagi.
Sementara itu, caleg perempuan yang diusung Partai Demokrat, Farida Iriani, bertekad memajukan kehidupan kaum perempuan jika terpilih menjadi anggota DPRD Lampung Selatan.
"Saya sudah lama berkecimpung di berbagai organisasi perempuan, karena kebetulan pernah menjadi istri camat di wilayah Kabupaten Lampung Selatan selama 10 tahun lebih," katanya.
Usaha kreatif
Sebagian para caleg perempuan Lampung ternyata juga menawarkan program yang berkaitan dengan usaha kreatif dan literasi masyarakat atau mencerdaskan masyarakat.
Caleg yang diusung Partai Golkar untuk memperebutkan kursi DPRD Bandarlampung, Dalela Noor, menyatakan tekadnya untuk membantu pengembangan usaha kreatif kaum perempuan.
Dia menjelaskan, Kota Bandarlampung sebagai tempat singgah para turis, sangat potensial dalam perkembangan dunia usaha kreatifnya.
Ia mengungkapkan pula bahwa dirinya telah lama membantu warga, khususnya perempuan, dalam perkembangan dunia usaha kreatif.
Menurut dia, selama ini banyak pengusaha dan pemerintah yang kurang melirik mereka. Padahal keuntungan usaha yang dikembangkan kaum perempuan ini sangat besar.
Banyak anggaran di pemerintah yang belum menyentuh mereka. "Usaha kreatif itu modalnya tidak banyak, tapi keuntungannya sangat banyak. Memang ada dana untuk membantu mereka, tapi belum maksimal," kata perempuan kelahiran Jakarta ini.
Hal senada juga disampaikan caleg perempuan Devita Komalasari. Ia berjanji akan mendorong pertumbuhan di bidang ekonomi, terutama untuk pelaku usaha kecil dan menengah di Provinsi Lampung.
"Ekonomi kerakyatan, terutama sektor UKM, untuk maju sangat terbuka lebar mengingat berbagai program pemerintah untuk penguatan modal usaha pelaku UKM terus digalakkan. Karena itu, jika saya terpilih menjadi anggota legislatif, akan terus mendorong sektor ekonomi kecil itu untuk penguatannya, terutama di modal usaha," kata caleg perempuan Partai NasDem nomor urut 2 dari Daerah Pemilihan I Kota Bandarlampung itu.
Pemerintah telah menggulirkan beberapa program untuk menunjang kemajuan sektor UKM, tetapi belum menyentuh level masyarakat miskin. Karena itu, perlu didorong pemberdayaan warga miskin, terutama perempuan atau ibu-ibu rumah tangga, melalui peningkatan keterampilan dalam membuka usaha kecil.
Jika gagal terpilih sebagai anggota dewan, ia bertekad tidak akan berhenti menyuarakan kepentingan masyarakat.
Sementara caleg dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Kabupaten Waykanan, Yulia Zainuddin, menyebutkan peran wanita bukan hanya sebatas ibu rumah tangga, tapi juga berperan aktif sebagai ujung tombak pembangunan.
Perempuan kelahiran Bandarlampung 38 tahun lalu itu meminta kaum ibu tidak boleh hanya diam di rumah, melainkan juga turut berperan aktif dalam mewujudkan kelangsungan pembangunan di daerahnya.
Caleg perempuan lainnya menyebutkan akan berjuang menghapuskan diskrimanasi yang masih dialami kaum perempuan.
"Hak-hak perempuan harus diperjuangkan, tidak ada lagi bias gender, karena mempunyai hak yang sama di bidang lainnya seperti pendidikan, memiliki jabatan tertentu sesuai kemampuan dan lain-lain. Tetapi tidak pula melupakan kodratnya sebagai perempuan," kata Linda Wuni, caleg DPRD Provinsi Lampung asal Partai Keadilan Sejahtera.
Caleg yang aktif di sejumlah organisasi perempuan itu mengatakan memperjuangkan hak-hak perempuan merupakan salah satu alasan untuk terjun ke panggung politik karena masih banyak di antara mereka yang diperlalukan diskriminatif.
Masalah kerusakan jalan yang makin parah di wilayah Lampung ternyata juga menjadi sorotan caleg perempuan, sebagaimana disampaikan caleg Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Dewi Katherine Oktaviani.
"Kondisi infrastruktur jalan di daerah ini sangat memprihatinkan, sehingga saya bertekad untuk memperjuangkan hak-hak rakyat di Lampung Tengah khususnya Batang Hari Sekampung maupun Metro Kibang," ujarnya.
Ia menyebutkan infrastruktur jalan, sarana pendidikan dan fasilitas kesehatan merupakan hak rakyat yang harus dipenuhi oleh pemerintah.
Tekad caleg perempuan ternyata tidak kalah dengan tekad caleg laki-laki, dan kini tergantung masyarakat dalam menentukan pilihannya.
Sehubungan itu, masyarakat harus cerdas dan mandiri dalam menilai kredibilitas, kemampuan dan janji para caleg, sebelum menentukan pilihan pada Pemilu 9 April mendatang.
