Pemudik Tetap Pilih Menginap di Bakauheni

id Pemudik Tetap Pilih Menginap di Bakauheni

Pemudik Tetap Pilih Menginap di Bakauheni

Sebagian pemudik memilih tidur di areal Pelabuhan Bakauheni daripada melanjutkan perjalanannya meski daerah tujuannya tak jauh dari pelabuhan tersebut. (FOTO ANTARA LAMPUNG/Hisar Sitanggang)

Bakauheni, Lampung Selatan (ANTARA LAMPUNG) - Ribuan pemudik yang baru tiba di Pelabuhan Bakauheni, Lampung, pada Sabtu (3/8) malam, ternyata tetap memilih menginap di ruang tunggu pelabuhan penyeberangan itu, meski tempat tujuan mereka hanya berjarak cukup dekat dari pelabuhan tersebut.

Mengapa mereka menginap, dan tidak meneruskan perjalannya? Padahal mereka juga membawa anak-anak, yang tentunya butuh secepatnya tiba di tempat tujuan.

Sejumlah pemudik menyebutkan faktor keamanan dan ketidaan transportasi ke kampung halamannya saat malam yang menjadi penyebab mereka memilih di Pelabuhan Bakauheni.

Apalagi di ruang tunggu Pelabuhan Bakauheni disediakan karpet sebagai tempat beristirahat sementara, berikut teh dan kopi gratis yang disajikan PT ASDP Indonesia Ferry.

"Saya sebenarnya mau mudik ke Wayharok Lampung Selatan. Jaraknya dari Kalianda sekitar satu jam menggunakan angkutan desa. Dari Bakauheni ke Kalianda bisa ditempuh sekitar sejam perjalanan," kata Safaryansah, yang mudik bersama istrinya Harijun.

Warga Lampung yang bekerja sebagai pedagang di kawasan Tanjungpriok Jakarta Utara itu menyebutkan ketiadaan kendaraan dari Bakauheni ke tempat tujuannya yang menjadi pendorong dirinya bersama pemudik lainnya memilih menginap di Bakauheni.

"Di sini saya merasa lebih aman, meski bukan itu faktor utamanya," katanya.

Pemudik lainnya, Fikri, juga memilih menginap di Bakauheni daripada melanjutkan perjalanannya ke Sribawono, Kabupaten Lampung Timur.

"Tidak ada kendaraan dari Bakauheni ke Sribawono. Jadi, harus menginap sampai pagi hari, baru melanjutkan perjalanan," katanya warga Lampung yang bekerja di sektor informal di Jakarta itu.

Jika pemudik yang tujuannya tidak begitu jauh dari Bakauheni, memilih menginap, bagaimana dengan mereka yang tujuannya harus transit lebih dahulu di Terminal Rajabasa Bandarlampung?

Sejumlah pemudik menyebutkan mereka tetap memilih menginap di Bakauheni, meski Terminal Rajabasa disebutkan sudah lebih aman atau tidak seangker beberapa tahun sebelumnya.

"Saya tetap memilih menginap di sini, meski Terminal Rajabasa disebutkan sudah lebih aman," kata Iwan, salah satu pemudik asal Kalideres Jakarta.

Ia menyebutkan, dirinya akan melanjutkan perjalanan pada pagi hari dari Bakauheni ke Terminal Rajabasa, kemudian ke Kota Gajah Kabupaten Lampung Tengah.

Jarak tempuh Bakauheni-Rajabasa sekitar 90 km yang bisa ditempuh dalam waktu dua setengah jam perjalanan, sedang jarak Rajabasa-Kota Gajah sekitar 70 km yang bisa ditempuh sekitar 2 jam perjalanan lewat Kota Metro.

Jika ditempuh melalui Gunung Sugih Lampung Tengah maka jarak tempuh Rajabasa-Kota Gajah bisa mencapai tiga jam.

"Saya pilih menginap di sini, karena tidak ada kendaraan dari Rajabasa ke Kota Gajah. Selain itu, keadaan di Bakauheni lebih nyaman dan aman untuk menginap," kata pemudik yang bekerja di perusahaan pengembang di Kalideres, Jakarta.

Alasan senada juga disampaikan Komarudin, warga Lampung yang bekerja sebagai teknisi perbaikan AC di kawasan Pluit Jakarta Utara itu.

"Tidak ada mobil ke tempat tujuan saya saat malam, juga ojek. Karenanya, lebih baik menginap di Bakauheni," katanya.

Ia enggan menginap di Terminal Rajabasa, meski kondisi terminal itu disebutkan sudah lebih aman dan lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya.

"Dari Rajabasa ke Pringsewu sekitar dua jam, kemudian melanjutkan perjalanan ke desa menggunakan angkutan desa. Karena ketiadaan kendaraanlah penyebab saya memilih di Bakauheni, karena kendaraan dari Rajabasa ke Pringsewu pada malam juga tidak ada," katanya.

Lebih Waspada
Para pemudik juga menyebutkan mereka memilih lebih waspada menjaga keselamatan diri dan keluarga serta barang bawannya, meskipun aparat keamanan telah meningkatkan pengamanan selama angkutan lebaran berlangsung.

Hal itu juga terlihat atas sikap mereka yang lebih hati-hati terhadap orang tak dikenal saat menginap di Bakauheni.

Kapolri Jenderal Timur Pradopo saat bersama Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono meninjau kesiapan Bakauheni menghadapi arus mudik pada Sabtu (3/8), juga meminta para pemudik untuk mewaspadai aksi kriminal serta tidak memancing munculnya aksi kejahatan tersebut.

"Pemudik jangan memakai perhiasan yang mencolok, simpan uang saku dengan baik agar tidak menjadi korban kriminalitas," kata dia.

Ia menyampaikan bahwa pemudik perlu diingatkan hal ini agar tidak menjadi sasaran pencurian saat arus mudik berlangsung.

"Harapan kami semua pemudik selamat dan aman sampai tujuan masing-masing," katanya.

Ia juga memerintahkan seluruh jajaran kepolisian untuk menggelar pengamanan di titik-titik yang masyarakat butuhkan untuk mencegah terjadinya tindak kriminalitas terhadap pemudik.

"Pengamanan ini dilakukan untuk pencegahan terhadap tindak kriminalitas," kata dia.

Menurutnya, untuk memberikan efek jera itu para polisi dan prajurit TNI serta unsur pengamanan lain harus memberikan tampilan agar pelaku kejahatan tidak berani bertindak kepada pemudik.

Selain itu, ia meminta kepada jajarannya untuk memberikan pengamanan optimal kepada pemudik karena peningkatan jumlah pemudik tahun ini mencapai 14,5 persen dibandingkan dengan tahun lalu,

"Jadi harus diberikan layanan optimal agar tidak terjadi kemacetan atau penumpukan penumpang dan menjamin kepastian pemudik terangkut semua dan selamat sampai tujuan," kata dia.

Selain itu, ia juga PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) Indonesia Ferry untuk mencegah terjadinya penumpukan penumpang selama arus mudik Idul Fitri 1434 Hijriah dengan mengoptimalkan layanan.

Menurut Manager Operasi PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Bakauheni, Heru Purwanto, mereka telah berusaha meningkatkan pelayanan kepada pemudik, sedang masalah keamanan dijaga melalui koordinasi dan kerja sama dengan kepolisian dan pihak terkait lainnya.

Ia juga menyebutkan pihaknya menyediakan tempat beristirahat sementara di ruang tunggu Pelabuhan Bakauheni, meski tidak menganjurkan mereka untuk menginap di tempat itu.

Jika Bakauheni telah berupaya meningkatkan pelayanan, bagaimana dengan pengelola Terminal Rajabasa Bandarlampung ?

Kepala Terminal Rajabasa Antoni Makki yang memperkirakan lonjakan arus mudik di terminal itu berlangsung pada empat hari menjelang Lebaran (H-4), menyebutkan di terminal itu sudah banyak berdiri posko pelayanan mudik, antara lain dari Dinas Perhubungan, Dinas Kesehatan, dan petugas keamanan terkait.

Selain itu, Antoni menyebutkan bahwa keseluruhan angkutan Lebaran untuk melayani pemudik dari Rajabasa ke Bakauheni sudah siap, dengan armada yang disiapkan sebanyak 130 unit bus, dari hari biasa beroperasi sekitar 60 armada bus yang melayani penumpang ke kabupaten/kota di Lampung.

Ia menambahkan, bila kekurangan bus, pihaknya tahun ini telah menyiapkan armada tambahan di Terminal Rajabasa, dan jika ada kekurangan armada, dari perusahaan otobus (PO) masing-masing akan menambah lagi armada bus yang diperlukan.

"Keamanan di Terminal Rajabasa akan dijaga oleh petugas kepolisian dan personel TNI yang posko-poskonya sudah berdiri di terminal ini," katanya.

Pemerintah memang boleh saja mengklaim kondisi keamanan dan kenyamanan di Terminal Rajabasa sudah lebih baik, namun fakta menunjukkan bahwa pemudik tetap memilih menginap di Pelabuhan Bakauheni.

Karenanya, selain masalah keamanan, faktor ketersediaan angkutan hingga ke perdesaan seharusnya diperhatikan juga di masa arus mudik mendatang.

Pewarta :
Editor : Hisar Sitanggang
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.