Bandarlampung (ANTARA LAMPUNG) - Anak-anak itu asyik bermain bersama, berlarian seolah melepas kerinduan, mengingat sudah sepekan tidak berkumpul bersama di sekolah itu.
Puluhan anak-anak itu adalah siswa yang sedang berada di halaman Sekolah Dasar Negeri (SDN) 3 Balinuraga, Kecamatan Waypanji, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, beberapa hari lalu.
Beberapa siswa lainnya sedang membersihkan sampah yang sudah menumpuk berserakan, karena sudah lama tidak dibersihkan di halaman sekolah itu.
Serpihan-serpihan kaca jendela warna bening yang hancur, juga berserakan, dan sebelah kantor SD ini masih tersisa kerangka dua unit sepeda motor yang sudah berwarna hitam legam bekas terbakar.
Puluhan siswa itu, semuanya tidak mengenakan seragam putih-merah lazimnya pelajar SD, bahkan mereka tidak mengenakan sepatu, dan hanya membawa sebuah pensil dengan selembar buku tulis tipis yang kusam.
Sebenarnya, siswa sekolah ini mencapai ratusan, namun sebagian besar masih mengungsi bersama orang tua mereka ke tempat saudara-saudara masing-masing yang berada di luar daerah sejak kerusuhan dan bentrokan antarwarga Balinuraga dengan warga Agom dan beberapa desa sekitar terjadi.
"Kami tidak punya seragam lagi, karena sudah habis terbakar bersama rumah waktu bentrok kemarin," kata Nita Safira (11), salah satu murid kelas 5 sekolah itu, di sela aktivitasnya membersihkan sekolah itu bersama sejumlah rekan sekelasnya.
Sebelumnya, saat ditanya nama ayah dan ibunya, ia tidak mau mengatakannya.
Alasannya, dalam adat mereka dinilai kurang sopan bila seorang anak menyebut nama kedua orang tua melalui ucapan langsung.
"Kami tidak boleh menyebut nama orang tua kami, karena tidak sopan," kata dia lagi.
Akhirnya, ia memberitahu nama kedua orangtuanya melalui tulisan di sebuah buku yang sudah kusam, yaitu "Ketut Tinik", ibunya, dan "Nyoman Warta", ayahnya.
Dia pun mengaku, telah kembali dari pengungsian di Sekolah Polisi Negara (SPN) Kemiling Bandarlampung, Senin (5/11) petang, bersama ribuan pengungsi lain.
Meski tanpa seragam, tidak beralas kaki, dan tanpa membawa alat tulis yang memadai, karena perlengkapan sekolah mereka sudah habis terbakar, para pelajar di Balinuraga ini tetap berangkat untuk menuntut ilmu usai kerusuhan terjadi di desa mereka sepekan lalu.
Nita menuturkan, saat peristiwa itu terjadi, ia bersama orangtuanya sudah bersembunyi di semak-semak perkebunan karet yang tidak jauh dari rumahnya, ketika puluhan ribu massa menyerang desa itu.
Ia mengatakan, baru mengetahui rumahnya terbakar habis setelah pulang dari pengungsian di Bandarlampung, karena usai bersembunyi untuk menyelamatkan diri itu, segera bergegas mengungsi sesuai imbauan dari aparat keamanan di sana.
"Rumah saya ikut dibakar sampai atapnya roboh, tinggal temboknya saja," kata dia pula.
Namun dia berharap, tetap bisa sekolah seperti sediakala, dengan perlengkapan yang memadai, meskipun kedua orangtuanya tidak mampu membelikan perlengkapan sekolah tersebut.
"Ya gimana mau beli, udah gak punya uang lagi," kata Nita.
Siswa lainnya, Kadek Murniati (10), juga mengaku tidak memiliki perlengkapan sekolah yang habis terbakar bersama rumahnya saat kerusuhan itu.
"Tidak ada yang tersisa, rumah habis terbakar rata dengan tanah karena dibakar massa," ujar putri pasangan Putu Panda dan Loh Gede Rusmiyati itu pula.
Ia menyatakan, saat penyerangan itu terjadi, bersama kedua orangtuanya bersembunyi di perkebunan karet untuk mencari perlindungan.
Nita Safira dan Kadek Rusmiati bersama ratusan siswa lainnya di SDN 3 Balinuraga itu, memerlukan bantuan berupa buku, alat tulis, dan seragam sekolah, karena perlengkapan sekolah yang ada sudah habis terbakar.
Sejumlah guru sekolah itu, juga membutuhkan bantuan dari pemerintah, mengingat pakaian dan perlengkapan mengajar juga habis terbakar.
"Rumah saya beserta isinya juga habis terbakar, dan sekarang hanya memiliki beberapa lembar baju sehari-hari," kata Ni Made Suniati (32), salah satu guru di sekolah tersebut.
Namun, dengan pakaian seadanya dan cuma bersandal jepit, ia tetap mengajar siswa SD itu sejak beberapa hari terakhir sepulang dari pengungsian.
"Pakaian kami dan anak-anak semuanya habis bersama rumah yang dibakar massa saat kerusuhan terjadi sepekan lalu," kata Kepala SDN 3 Balinuraga, Nyoman Nandra pula.
Ia menyebutkan, ratusan siswa di sekolah itu kini bersekolah menggunakan pakaian seadanya.
Begitu juga dengan peralatan sekolah lainnya, seperti sepatu, tas, dan alat-alat tulis.
"Baju bebas yang dipakai sekarang pun sebagian besar adalah dari bantuan yang kami terima saat berada di pengungsian di Kota Bandarlampung itu," kata dia pula.
Dia berharap, adanya bantuan dari pemerintah atau pihak terkait agar aktivitas sekolah itu dapat berjalan seperti sediakala demi masa depan pendidikan anak-anak yang nantinya akan menjadi generasi penerus bangsa itu.
"Hari ini mereka mulai sekolah, jika terlalu lama libur, mereka akan ketinggalan pelajaran," kata dia lagi.
Sisakan Trauma
Satuan Tugas Perlindungan Anak Kementerian Sosial mendirikan poskotis trauma anak di Desa Balinuraga, Kecamatan Waypanji, Lampung Selatan yang bertujuan untuk menghilangkan trauma, kemarahan, kebencian, dan dendam akibat peristiwa bentrokan itu.
Salah satu petugas posko tersebut, Gunawan, di Balinuraga mengatakan, dalam setiap peristiwa kerusuhan itu akan selalu diingat oleh anak-anak hingga mereka dewasa nanti.
Apalagi kejadian itu sampai merenggut korban jiwa, dan ratusan rumah hancur, sehingga dapat meningkatkan emosi anak-anak itu sewaktu-waktu yang perlu ditangani dengan baik, kata dia.
Dia mengemukakan, meskipun posko itu sebagai ajang bermain, namun petugas akan memantau seluruh anak-anak yang ada, untuk mengetahui siapa saja yang mengalami trauma atas kejadian bentrokan itu, dan akan segera mendapatkan terapi untuk diarahkan dengan perhatian khusus.
"Saat ini kami belum bisa melihat langsung anak-anak yang trauma, mengingat posko ini baru saja didirikan, kemungkinan bisa dilihat beberapa hari ke depan," kata dia lagi.
Petugas itu, jika menemukan anak yang mengalami trauma akan segara menangani mereka sebelum menyimpan rasa sakit hati, agar tidak menjadi tertekan (stres) akibat peristiwa itu.
Sedikitnya delapan petugas akan bertahan di tempat itu sampai pada waktu yang belum ditentukan, mengingat perlu proses lebih lama dalam menghadapi peristiwa sebesar itu.
"Ukuran keberhasilan terapi minimal mereka dapat menerima orang luar dalam lingkungannya," kata Gunawan lagi.
Selain delapan petugas tersebut, pihaknya juga dibantu oleh sejumlah anggota Polres Lampung Selatan dan Pramuka dari sejumlah kecamatan yang membantu menangani anak-anak tersebut selama beberapa hari ke depan.
Pada poskotis itu, dengan dipandu oleh petugas, anak-anak dihibur dengan dua badut Mickey Mouse dan Teletubies sambil bermain dan bernyanyi bersama.
Wajah-wajah mereka tampak ceria dan gembira meskipun sebagian besar tidak memiliki rumah lagi yang telah hancur akibat kerusuhan sepekan lalu, dan kini tinggal di tenda-tenda darurat serta makan di dapur umum itu.
Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan menyediakan satu unit mobil pintar di Desa Balinuraga sebagai sarana hiburan, sekaligus bacaan bagi anak-anak korban kerusuhan di lokasi tersebut.
"Mobil pintar ini untuk memberikan bahan bacaan dan belajar anak-anak di Balinuraga yang merupakan bantuan dari Dinas Pendidikan Lampung Selatan," kata salah satu tutor mobil pintar itu, Yulia Fitriningsih.
Ia mengemukakan, ratusan anak-anak tersebut kini tidak lagi memiliki bahan belajar karena semuanya telah habis terbakar bersama rumah-rumah mereka, sehingga perlu dukungan agar mereka tetap dapat menerima ilmu pengetahuan pada saat susah dan sedih.
Mobil pintar itu, kata dia, selain menyediakan buku bacaan untuk anak-anak, juga menyediakan peralatan elektronik seperti laptop agar anak-anak itu tetap dapat mengikuti perkembangan teknologi dengan mengoperasikan alat itu.
"Memang tujuannya untuk belajar sambil menghibur mereka, agar tidak terlalu sedih saat ini," kata dia lagi.
Pihaknya juga menggelar lomba menggambar bagi anak-anak, dan nantinya akan mendapatkan hadiah untuk mendorong peningkatan semangat belajar mereka.
Menurut Yulia, penyediaan mobil pintar ini akan dilakukan sampai kondisi di Balinuraga membaik, mengingat sampai kini mereka belum mendapatkan bantuan perlengkapan sekolah berupa peralatan tulis, sepatu, dan seragam sekolah yang diperlukan.
Selain itu, sejumlah aparat keamanan juga berbaur dengan warga Desa Sidoreno, Kecamatan Way Panji, Lampung Selatan, untuk menghilangkan trauma di kalangan warga, dan mensosialisasikan jaminan keamanan bagi mereka.
"Kami berbaur dalam kegiatan masyarakat untuk mensosialisaikan jamian keamanan, agar mereka merasa lebih tenteram," kata Kepala Kompi 1 Detasemen A Brimob Polda Lampung, Abdul Karim.
Ia mengatakan, sudah banyak warga yang kembali dari mengungsi ke kebun-kebun dan rumah saudara mereka, untuk berlindung saat terjadi kerusuhan sehingga mereka mengalami trauma atas peristiwa itu.
"Mereka tidak mengungsi ke Bandarlampung karena tidak terlibat dalam bentrokan namun ikut terkena dampaknya," kata dia lagi.
Selain itu, meski bentrokan terjadi antara Desa Balinuraga dengan Desa Agom di Kalianda, namun lokasi bentrokan berada di Desa Sidoreno yang mengakibatkan sebagian rumah warga desa ini ikut terbakar habis terutama rumah yang terbuat dari bambu atau geribik.
Karim mengaku setiap pagi dan sore hari berolahraga bersama warga, dan berkumpul sembari bersenda gurau dengan anak-anak di desa ini, agar mereka tidak takut atas keberadaan aparat keamanan di sudut-sudut desa yang terdapat banyak petugas keamanan bersenjata hilir mudik.
Bahkan, kata dia lagi, sejumlah warga yang meminta dia untuk berbaur sambil memberikan sosialisasi jaminan keamanan bagi warga yang tidak mengungsi ke Bandarlampung.
"Semoga ini dapat menghilangkan trauma warga akibat kerusuhan kemarin, terutama bagi anak-anak di sini," ujar dia lagi.
Beberapa hari terakhir, personel polisi wanita (polwan) dari Polres Lampung Selatan juga mengisi hari anak-anak di tempat itu, dengan mengajak mereka untuk bercanda dan bermain bersama.
Begitu juga siswa SMP Balinuraga yang kini tidak memiliki sekolah lagi yang telah hancur akibat bentrokan di desa ini.
Para siswanya terpaksa menumpang di SDN 3 Balinuraga, dan kegiatan mereka setiap harinya hanya diisi dengan bermain, bernyanyi bersama para polwan yang berparas cantik itu.
Bantuan Korban
Bantuan dari berbagai pihak berupa uang, berbagai barang yang diperlukan, terutama bahan makanan terus mengalir untuk korban kerusuhan di Desa Balinuraga sejak kepulangan mereka dari pengungsian di Bandarlampung, kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Lampung Selatan, P Marpaung.
Ia membenarkan, peristiwa itu mengundang perhatian dan keprihatinan berbagai pihak, sehingga mereka tergerak untuk membantu para korban yang saat ini dalam kesusahan.
Marpaung menyebutkan, bantuan yang diberikan oleh berbagai kalangan itu memang bervariasi, berupa uang tunai, pakaian, selimut, handuk, alat masak, mie instan, air mineral, sembako, dan bahan makanan lainnya.
"Pemberi bantuan selain pemerintah juga kalangan perusahaan, organisasi kemanusiaan, lembaga swadaya masyarakat, organisasi keagamaan dan kepemudaan serta pribadi," ujar dia lagi.
Berbagai pihak juga ikut turun tangan membantu langsung di posko itu, seperti melayani para korban sampai menyiapkan makan dan memasak di dapur umum.
"Semua elemen masyarakat juga ikut membantu termasuk anggota Pramuka, organisasi kepemudaan, terutama aparat gabungan yang sudah ada sejak peristiwa bentrokan terjadi sepekan lalu," kata Marpaung pula.
Namun, dia menyatakan, secara nominal uang dan barang yang diterima dari berbagai pihak itu belum dapat dihitung keseluruhannya.
Dia hanya menyebutkan, bantuan berupa uang tunai diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah yang terus terkumpul sejak kepulangan para pengungsi itu dari Bandarlampung.
Begitu juga dengan sembako, pakaian, mie instan juga sangat banyak dan menumpuk, sampai posko yang ada di balai desa itu penuh dan sebagian ditampung di rumah kepala desa setempat.
Salah satu korban kerusuhan di desa itu, Wayan Andi, menyatakan sangat bersyukur karena tidak ada kekurangan bahan makanan selama ini, dan petugas posko selalu menyiapkan makan dengan baik, begitu juga dengan ketersediaan obat-obatan yang diperlukan.
"Kami masih menunggu kebijakan pemerintah untuk memperbaiki rumah kami, minimal dapat ditempati dengan layak kembali, mengingat saat ini masih bertahan berada dalam tenda darurat di halaman rumah," ujar Wayan pula.
Rekonstruksi kerusakan ratusan rumah warga korban bentrokan antarwarga di Desa Balinuraga dan Sidoreno, Kecamatan Waypanji itu, memerlukan dukungan dana mencapai sekitar Rp23 miliar, kata Bupati setempat, Rycko Menoza SZP.
Menurut Rycko, dana tersebut diperkirakan hanya mencukupi untuk biaya merekonstruksi sebanyak 450 rumah, tidak termasuk biaya penggantian kerugian materi atas kerusakan barang-barang mewah, seperti kendaraan roda dua, roda empat, dan barang-barang berharga milik penduduk yang ikut terbakar lainnya.
Pemkab Lampung Selatan, kata Rycko, telah meminta bantuan kepada kementerian terkait, untuk mendukung upaya membangun kembali rumah penduduk yang rusak tersebut, minimal dapat ditempati kembali secara layak.
Selain itu, kata dia, tidak hanya di Desa Balinuraga, kerusakan rumah warga di Desa Sidoreno juga akan diperbaiki, mengingat banyak juga rumah warga di sini yang dirusak dan dibakar massa meskipun tidak terlibat langsung dalam konflik antarwarga beberapa kampung itu.
"Program rekonstruksi ini juga sekaligus akan memperbaiki rumah-rumah penduduk di Lampung Selatan lainnya yang kurang layak, untuk menghindari adanya kesenjangan dan kecemburuan sosial dalam masyarakat di sini," kata dia pula.
Sementara ini, warga juga diharapkan dapat bertahan di tenda-tenda darurat, sampai rumah mereka bisa ditempati seperti semula, ujar Rycko lagi.
"Kami juga menyiapkan dapur umum dan sarana mandi, cuci, dan kakus yang layak, agar kesehatan mereka terjamin meski harus bersama-sama digunakan," ujar dia pula.
Sejumlah warga mengharapkan pemerintah segera membangun rumah bagi mereka, agar dapat dihuni secara layak, aman dan nyaman.
"Sekarang hujan sudah mulai turun, dan jika curah hujan tinggi dapat mengakibatkan tenda-tenda menjadi bocor," kata salah satu warga setempat, Made Sumite.
Ia menyatakan, pada musim hujan tidak memungkinkan lagi bagi warga untuk bertahan di dalam tenda depan rumah masing-masing, karena selain dingin, juga akan menjadi basah.
Saat musim hujan, potensi serangan penyakit juga sangat tinggi bagi warga, apalagi mereka sampai berlama-lama harus bertahan dalam tenda-tenda darurat tersebut.
"Yang paling rentan dengan penyakit terutama anak-anak balita," kata dia lagi.
Menurut dia, pembangunan rumah warga yang rusak akibat amuk massa itu, juga belum jelas kapan akan dimulai, mengingat sampai saat ini belum ada keterangan dari pemerintah untuk memulai pembangunan itu.
"Kami tidak menuntut harus bagus seperti semula, namun diharapkan tetap nyaman untuk berlindung apalagi saat curah hujan tinggi," kata dia.
Salah satu warga Desa Sidoreno, Baril, mengatakan, saat ini rumahnya sudah rata dengan tanah akibat terbakar, dan dia tidak memiliki tempat tinggal lagi.
"Saya menumpang di tempat perangkat desa di sini, bersama keluarga," kata dia.
Dia pun mengharapkan, pembangunan rumah warga yang rusak itu dapat segera dilakukan, agar mereka dapat menata hidup kembali dari awal meskipun membutuhkan waktu lama akibat semua harta benda telah habis.
Anggota DPD-RI dari daerah pemilihan Lampung, Anang Prihantono mengatakan, pihaknya terus mengupayakan untuk mendorong pemerintah pusat melakukan pembangunan segera rumah warga yang rusak di desa itu, mengingat sebentar lagi musim hujan.
Menurut dia, pembangunan rumah warga itu sangat mendesak, agar mereka dapat membangun perekonomian kembali.
Bila mereka bertahan di tenda pengungsian, juga akan menghambat aktivitas sehari-hari.
"Kami berharap, semua masalah ini dapat segera teratasi dan masyarakat Balinuraga dapat hidup normal seperti sebelumnya," ujar dia pula.
Rumah warga yang perlu direkonstruksi sebanyak 450 unit, di antaranya rumah yang rusak berat akibat terbakar, sebanyak 166 unit rumah di antaranya berada di Desa Sidoreno, sisanya ada di Desa Balinuraga.
Warga korban kerusuhan itu tentu saja tak hanya berharap keamanan dan kedamaian kembali mereka rasakan.
Mereka mengharapkan rumah yang rusak dapat segera diperbaiki, sehingga tak lagi tinggal di pengungsian dan dapat menjalani kehidupan secara normal lagi.
