Bandarlampung (ANTARA Lampung) - Tim "Ekspedisi Indonesia Biru", Dandhy Dwi Laksono(39) dan Suparta "Ucok" Arz (34) yang selama sekitar setahun ini telah berkeliling menembus kawasan pedalaman di berbagai daerah di Indonesia, dan sempat beberapa hari mampir di Lampung, Minggu (27/12) siang meneruskan perjalanan mereka.
Menurut Dandhy dan Ucok, selepas dari Bandarlampung, mereka akan melanjutkan perjalanan menggunakan dua sepeda motor bebek itu menyusuri Jalan Lintas Tengah Sumatera menuju Kalianda, Lampung Selatan, serta melanjutkan perjalanan ke Pelabuhan Bakauheni untuk menyeberang ke Merak, Banten.
"Rencana nanti mampir dulu tempat keluarga mertua di Kalianda," ujar Dandhy yang ternyata keluarga istrinya tinggal di Kalianda, Lampung Selatan itu pula.
Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandarlampung Yoso Muliawan, Pj Sekretarisnya Wandy Barboy dan pengurus Tri Purna Jaya beserta Korwil AJI Sumatera ikut melepas Dandhy dan Ucok untuk melanjutkan perjalanan ekspedisi mereka.
Selanjutnya, Dandhy mengaku akan melihat lebih dulu kondisi arus penumpang penyeberangan kapal feri dari Bakauheni ke Merak, bila tak terlalu padat, dia berencana hari ini juga akan melanjutkan perjalanan dengan berlayar di Selat Sunda menuju Banten.
Ucok menambahkan, perjalanan awal ekspedisi mereka dimulai pada 1 Januari lalu dari kawasan masyarakat Badui di Banten, dan direncanakan akan diakhiri pula dengan kunjungan persingggahan di Badui Banten itu, sebelum benar-benar mengakhiri perjalanan selama setahun berkeliling Indonesia ini pada 31 Desember 2015 nanti.
"Mudah-mudahan semua berjalan lancar sesuai rencana dan 31 Desember nanti kami bisa menyelesaikan perjalanan panjang ini," ujar Ucok lagi.
Dandhy menyatakan, setelah menyelesaikan perjalanan ini, dia bersama Ucok akan menuntaskan pembuatan video film dokumenter dari hasil penjelajahan ke seluruh Indonesia itu. "Kami juga akan buat dokumentasi foto dan tulisan serta menerbitkan buku tentang perjalanan itu," katanya pula.
Selama berada di Lampung dua hari ini, Dandhy dan Ucok antara lain menyambangi Metro dan tiba pada Jumat (25/12) bersamaan perayaan Natal 2015.
Pada Sabtu (26/12), keduanya hadir sebagai narasumber penayangan dan diskusi salah satu film dokumenter perjalanan mereka, "Kasepuhan Ciptagelar", dokumentasi menjelajah dan membaur dengan masyarakat Desa Ciptagelar bagian dari Kasepuhan Banten Kidul, terletak di kaki Gunung Halimun, Kabupaten Sukabumi Provinsi Jawa Barat. Permukiman cantik berlatar gunung di desa ini tidak berubah selama ratusan tahun. Bahkan, disebutkan mereka berhasil menjaga tradisi selama 600-an tahun. Hal itu terbukti lewat upacara Seren Taun yang telah digelar ke-645 kalinya. Desa ini memang punya tradisi adat yang kuat layaknya warga Badui Provinsi Banten. Ciptagelar menjadi favorit wisatawan karena menyuguhkan wisata seru.
Kasepuhan Banten Kidul adalah kelompok masyarakat adat sub-etnis Sunda yang tinggal di sekitar Gunung Halimun, terutama di wilayah Kabupaten Sukabumi (Jawa Barat) sebelah barat hingga ke Kabupaten Lebak (Provinsi Banten), dan ke utara hingga ke Kabupaten Bogor. Kasepuhan (sepuh, tua, Red) menunjuk pada adat istiadat lama yang masih dipertahankan dalam kehidupan sehari-hari.
Masyarakat Kasepuhan Banten Kidul melingkup beberapa desa tradisional dan setengah tradisional, yang masih mengakui kepemimpinan adat setempat. Terdapat beberapa Kasepuhan di antaranya adalah Kasepuhan Ciptagelar, Kasepuhan Cisungsang, Kasepuhan Cisitu, Kasepuhan Cicarucub, Kasepuhan Citorek, serta Kasepuhan Cibedug. Kasepuhan Ciptagelar sendiri melingkup dua Kasepuhan yang lain, yakni Kasepuhan Ciptamulya dan Kasepuhan Sirnaresmi.
Acara nontong bareng dan diskusi Film "Kasepuhan Ciptagelar" yang diadakan Komunitas Cangkir Kamisan itu, digelar di Kampus Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Metro, Lampung, Sabtu siang hingga petang.
Ratusan mahasiswa dan berbagai anggota komunitas, termasuk para jurnalis, hadir dalam acara yang menghadirkan Dandhy dan Ucok, dengan pembahas/penanggap Kepala Kantor Lingkungan Hidup (KLH) Kota Metro, Yerri Noer Kartiko, dan redaktur LKBN ANTARA Lampung.
Usai nonton bareng dan diskusi film itu, keduanya masih menyempatkan menginap di Metro, baru pada Minggu pagi melanjutkan perjalanan ke Bandarlampung.
Di Bandarlampung, Dandhy dan Ucok hanya singgah sebentar, antara lain untuk mampir ke sekretariat Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandarlampung dan bertemu serta ngobrol santai dengan beberapa pengurusnya.
Minggu siang, Dandhy dan Ucok pun bergegas melanjutkan perjalanan ke Kalianda Lampung Selatan, untuk selanjutnya akan menuju Bakauheni dan menyeberang ke Merak, Banten.
Dandhy yang juga jurnalis adalah Pengurus Majelis Pertimbangan Organisasi Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia itu, sedangan Ucok, juga jurnalis yang berasal dari Aceh.
Bikin Film Dokumenter Lagi
Menurut Dandhy, selama perjalanan Ekspedisi Indonesia Biru dalam setahun ini, sebanyak enam hingga tujuh film dokumenter telah dihasilkan, yaitu: "Baduy", "The Mahuzes", "70 Tahun Merdeka", "Lewa di Lembata", "Kala Benoa", "Samin VS Semen", dan "Kasepuhan Ciptagelar".
Selain film dokumenter yang sudah selesai edit dan telah ditayangkan di Youtube itu, keduanya masih harus membikin dan menyelesaikan belasan lagi film dokumenter dari perjalanan keliling Indonesia itu.
Mereka berdua telah merencanakan setidaknya sebanyak 20 tema film dokumenter akan dihasilkan dari perjalanan panjang itu, selain dokumentasi berupa foto dan tulisan/artikel.
"Perjalanan kami menempuh sekitar 20.000 km telah dilalui, mulai dari Badui pertama kali dan akan diakhiri di Badui lagi, sampai selesai ditargetkan pada 31 Desember 2015 ini," ujar Dandhy yang juga CEO WatchdoC Documentary Maker itu pula.
Film dokumenter yang dihasilkan dua jurnalis itu, telah menjadi bahasan dan kajian diskusi di kampus-kampus sejumlah daerah di Indonesia, termasuk oleh berbagai komunitas lainnya.
Namun, di antara film itu sempat pula menimbulkan kontroversi dan reaksi dari sejumlah pihak, seperti penayangan dan diskusi Film "Samin VS Semen" di kampus tertentu dilarang dan dibubarkan karena alasan berbau ajaran komunis.
Film dokumenter itu mengisahkan tentang perlawanan penganut ajaran Samin di Kecamatan Sukolilo Kabupaten Pati, Jawa Tengah menentang adanya pabrik semen terbesar di Tanah Air, yaitu Semen Gresik dan Indocement Group yang akan membangun pabrik di daerah mereka.
Film itu mengambil latar belakang tiga kabupaten, yaitu Kabupaten Pati dan Rembang (Jawa Tengah), serta Tuban di Jawa Timur.
Dandhy menegaskan, salah satu dorongan untuk melaksanakan ekspedisi itu adalah keprihatinan terhadap kehadiran televisi di Indonesia yang minim edukasi.
"Ekspedisi ini bukan sekadar jalan-jalan. Bukan hanya mengangkat eksotisme objek wisata. Tapi mengangkat aktualitas dan problematika masyarakat setempat, adat, tradisi, maupun kearifan lokal di luar gambaran umum yang selama ini ditampilkan di publik," ujarnya lagi.
Dandhy pun mengkritik kebijakan pemerintah pusat maupun daerah dalam berbagai bidang, berdasarkan hasil ekspedisi itu, terjadi salah urus di lapangan yang berdampak buruk bagi masyarakat maupun lingkungan sekitarnya.
Dia juga menyoroti fakta agama-agama baru yang membuang begitu saja ajaran animisme dan dinamisme, namun belakangan faktanya telah gagal menerjemahkan dan melestarikan peradaban maupun kearifan tradisional yang justru baik.
"Animisme dan dinamisme dicibir atau dibully. Tapi kemudian, adat, tradisi dan kebudayaan serta kearifan tradisional menjadi tergerus. Lingkungan hidup yang semula dikeramatkan dan disembah pun dibiarkan menjadi tak terurus lagi dan akhirnya rusak serta hancur. Sistem pendidikan yang dikembangkan justru mengelaborasi konflik," ujar Dandhy lagi.
Ia menuding, ada yang salah di dalam kebijakan atas agama, kebudayaan maupun sistem pendidikan yang diterapkan di Indonesia saat ini.
"Sistem pendidikan kita ternyata tidak mampu mengadaptasi kondisi aktual dan lokal yang harus dihadapi setiap saat. Gagal menghadapi tantangan keseharian. Esensi pendidikan yang keliru," ujarnya lagi.
Menurut Dandhy, perjalanan itu dilakukan tanpa dukungan biaya dari sponsor, tapi hasil dari menabung selama lima tahun, termasuk menggunakan tabungan milik istrinya. "Saya menyiapkan ekspedisi ini dengan menabung selama lima tahun, dan tabungan itu dihabiskan dalam perjalanan hanya setahun ini," ujarnya pula.
Namun dia mengaku, kini justru merasa bertambah kaya, kaya persaudaraan dan mendapatkan pengalaman baru yang luar biasa.
Perjalanan Tim Ekspedisi Indonesia Biru itu, dimulai dari Rumah Watchdoc di Pondokgede, Bekasi (Jawa Barat) pada 1 Januari 2015, pukul 09.00 WIB.
"Kami sengaja memilih memulai perjalanan dari Indonesia bagian timur, karena selama ini umumnya ekspedisi pernah dilakukan sebelumnya dimulai dari Indonesia bagian barat, sehingga ketika sampai Indonesia timur sudah kehabisan logistik dan kelelahan. Kami sengaja memulai dari timur Indonesia agar dapat mengangkat fenomena yang banyak tidak diketahui umum, saat logistik mencukupi dan tenaga masih segar bugar," kata dia lagi.
Rute perjalanan yang dilalui Dandhy dan Ucok itu, antara lain menyusuri sisi selatan Pulau Jawa, Semarang, Yogyakarta, ke timur melintasi Bali, Nusa Tenggara, Timor, Papua, Kepulauan Maluku, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera menyusuri Aceh ke Mentawai (Sumbar) dan singgah di Lampung, dan kemudian bersiap kembali ke tanah Jawa singgah di Badui lagi, sebelum kembali ke tempat awal melakukan perjalanan pada 31 Desember nanti.
Selama perjalanan itu, Dandhy dan Ucok dengan dukungan peralatan yang sudah disiapkan, beberapa kamera, termasuk drone, adalah untuk mendokumentasikan aktivitas sosial ekonomi masyarakat (livelihood), keragaman hayati (biodiversity), kearifan budaya lokal, isu energi dan permasalahan lingkungan hidup yang didokumentasikan melalui foto, video, maupun tulisan dan disebarluaskan bagi kepentingan publik.
Berbagai bahan publikasi dan perkembangan terkait ekspedisi itu, bisa dinikmati khalayak di media umum maupun media sosial sepanjang perjalanan, termasuk di laman Facebook "Ekspedisi Indonesia Biru".
Sedangkan dokumentasi berupa tulisan yang lebih panjang, foto, dan video secara utuh, akan diluncurkan usai ekspedisi yang dijadwalkan selesai 31 Desember 2015 nanti.
Dandhy dan Ucok berjanji, semua hasil perjalanan dalam ekspedisi ini akan diolah, dikelola, dan dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya kepentingan publik melalui karya jurnalistik feature video, artikel, esai foto, buku, maupun film dokumenter, dengan menceritakan tentang kehidupan sosial yang berkeadilan secara ekonomi, arif dalam budaya, dan lestari bagi lingkungan.
"Mudah-mudahan hasil ekspedisi kami ini memberi gambaran nyata dan dapat menjawab berbagai persoalan di tengah masyarakat dan bangsa ini, ketika kebijakan publik, kekuatan modal, dan perubahan sosial memiliki dampak-dampak yang tidak selalu sejalan dengan kehendak dan keinginan masyarakat setempat," ujar Dandhy.
