Bandarlampung (ANTARA) - Suara dentuman dari paralon memecah keheningan malam di sekitar Blok 3 Kawasan Hutan Lindung (KHL) Kotaagung Utara, Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung. Ketegangan terasa seiring detik dan menit berlalu, sejak peristiwa serangan gajah liar ke pemukiman Talang Badar pada 30 Desember 2024 yang merenggut korban jiwa, situasi di wilayah ini berubah menjadi darurat.
Saya, M. Saipurrozi, seorang Polisi Kehutanan, ditugaskan berdasarkan Surat Tugas Kepala UPTD KPH Kotaagung Utara tertanggal 31 Desember 2024, untuk bergabung dalam tim mitigasi interaksi negatif gajah yang dimulai pada 3 Januari 2025. Ini adalah pengalaman pertama saya yang langsung terjadi di tengah kondisi yang tidak terkendali.
Di balik tugas negara yang berat ini, saya menyaksikan langsung ketakutan warga, dilema konservasi, dan pentingnya sinergi dalam penanganan konflik satwa liar. Esai ini merekam proses mitigasi di lapangan, bagaimana komunikasi strategis, koordinasi lintas instansi, dan keterlibatan masyarakat menjadi kunci keberhasilan dalam menghadapi konflik antara manusia dan gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus).
Pada pagi hari tanggal 3 Januari 2025, saya tiba di posko yang berlokasi di rumah Kadus Nano, Blok 3. Situasi di lapangan saat itu benar-benar tidak terkendali: tidak ada sistem komando yang jelas, masyarakat dalam keadaan panik, informasi simpang siur, dan tidak satu pun pihak yang dapat memastikan keberadaan kawanan gajah.
Saya bersama Pak Hendra Sangun (Polhut) dan Pak Ricard (Penyuluh) ditugaskan untuk bergabung dengan masyarakat Blok 3 guna melakukan mitigasi terhadap interaksi negatif antara manusia dan gajah di sekitar lokasi tersebut. Namun, yang kami temukan justru masyarakat dalam kondisi siaga penuh, saling menyalahkan, dan bertindak secara spontan tanpa adanya koordinasi yang terarah.
Pada malam hari, masyarakat secara mandiri melakukan penjagaan dengan petasan dan jeduman paralon. Saya menyusuri tiap kelompok warga, berdiskusi dan mendengarkan kecemasan mereka. Saya sadar, konflik bukan hanya antara manusia dan gajah, tapi juga di antara sesama manusia akibat ketidakpastian. Saya mencoba menenangkan dan mengedukasi mereka bahwa tindakan reaktif justru memperbesar risiko. Upaya kolektif yang terkoordinir jauh lebih efektif.
Sebelum saya tiba, laporan dari Pak Irfan, anggota Polhut yang bertugas sebelumnya, menyebutkan bahwa pada 1 Januari dini hari, kawanan gajah telah merusak tujuh gubuk warga di Blok 4. Tidak ada korban jiwa, namun kontak fisik sempat terjadi antara gajah muda dengan Pak Ramijan dan anaknya. Data lapangan juga mengonfirmasi bahwa kawanan gajah aktif di malam hari dan beristirahat pada siang hari, sesuai karakter nokturnal mereka seperti dijelaskan oleh Sukumar dan Fernando et al.
Saat itu, pemantauan pergerakan gajah melalui GPS collar belum optimal. Dua unit GPS collar yang dipasang pada kelompok "Bunga-Lestari" dan "Jambul-Ramadhani" mengalami gangguan sejak April 2023 akibat kendala jaringan satelit. Namun pada 19 Juli 2024, satu GPS collar baru dipasang di salah satu individu gajah kelompok 18 di wilayah KPH Kotaagung Utara. Ini menjadi harapan baru dalam pelacakan posisi gajah.
Namun, keberadaan teknologi saja tidaklah cukup. Faktor-faktor alam seperti topografi yang curam, tajuk hutan yang lebat, dan cuaca ekstrem kerap menghambat transmisi sinyal. Ditambah lagi dengan keterbatasan logistik, minimnya komunikasi di lapangan, serta kurangnya keterpaduan tim, saya harus mengambil keputusan strategis. Dari sebuah pondok papan yang lapuk di Talang Blok 3, di tengah hujan lebat, saya menghubungi Kepala UPTD KPH Kotaagung Utara untuk melaporkan kondisi kami yang serba kekurangan. Kami membutuhkan logistik, tambahan personel, serta sistem koordinasi yang lebih kuat.
Respons dari pimpinan UPTD KPH Kotaagung Utara cepat dan tanggap. Pada sore 4 Januari 2025, bantuan datang. Gabungan tim dari BKSDA Lampung-Bengkulu, Polhut Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), Polhut KPH, Polsek Wonosobo, Koramil Wonosobo, BPBD, Satgas Suoh, WCS, dan masyarakat lokal membentuk barisan dukungan nyata. Malam itu, kami menggelar rapat tim terpadu dan membentuk struktur kerja yang terorganisir.
Disepakati bahwa tim Mahout memimpin penggiringan gajah, sementara tim gabungan lainnya fokus pada penjagaan dan pemantauan jalur potensial. Tidak boleh ada aktivitas masyarakat di sekitar jalur gajah. Logistik dikirim dari pos utama. Komunikasi disiapkan dengan HT, karena sinyal telepon sulit dijangkau di dalam hutan.
Tim akhirnya terkoneksi dalam satu grup WhatsApp yang dimoderasi oleh Bang Joni Karya, Polhut TNBBS, sebagai koordinator lapangan. Posisi gajah dimonitor setiap jam melalui laporan admin GPS collar. Untuk pertama kalinya sejak kedatangan saya, informasi di lapangan menjadi jelas dan tidak lagi simpang siur. Ini adalah titik balik krusial.
Malam 5 Januari, gajah bergerak ke arah Sungai Semaka dengan harapan selanjutnya masuk ke wilayah Kawasan konservasi TNBBS lokasi yang lebih aman untuk aktivitas gajah dan kesediaan sumber pakan alami yang melimpah. Esok paginya, 6 Januari 2025, penggiringan dilakukan oleh tim Mahout. Sekitar pukul 09.00 WIB, kawanan 18 ekor gajah berhasil menyeberangi Sungai Semaka di Pekon Tulung Asahan. Tim Polsek Semaka, yang sebelumnya telah dikontak oleh Polsek Wonosobo, turut melakukan penjagaan di seberang sungai.
Kami segera membangun posko baru di rumah keluarga Pak Yasin Irma di Tulung Asahan. Posko ini menjadi pusat koordinasi dan pemantauan baru, sekaligus tempat peristirahatan tim. Posisi gajah terpantau bertahan sekitar 1 km dari batas TNBBS, menandakan bahwa upaya penggiringan berhasil mengarahkan mereka mendekati kawasan konservasi.
Tanggal 7 Januari, gajah masih berada di area aman. Tim Mahout berjaga untuk memastikan gajah tidak kembali ke Blok 3 atau turun ke pemukiman Talang Asahan. Sementara itu, kami terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk tetap tenang dan tidak melakukan tindakan reaktif.
Pada 8-10 Januari 2025, kawanan gajah perlahan masuk ke kawasan TNBBS melalui jalur alami di sekitar Talang Babi dan Talang Umbul 8. Posisi mereka kini berada dalam koridor yang sesuai dengan lintasan historis gajah. Data dari GPS collar menunjukkan baterai masih dalam kondisi 87 persen dan berfungsi baik. Kami tetap waspada dan memantau setiap pergerakan mereka.
Keberhasilan penggiringan ini adalah hasil dari kombinasi koordinasi lintas instansi, komunikasi yang intensif, dan pelibatan masyarakat. Awalnya saya bekerja dalam kekacauan dan minim dukungan, namun perlahan, situasi menjadi terkendali dan terorganisir. Inilah bukti nyata pentingnya tim yang terstruktur dan kepemimpinan yang responsif.
Saya sadar bahwa konflik gajah-manusia bukan hanya soal perjumpaan antara spesies, tetapi juga menyangkut tata kelola kawasan, tekanan ekologis, dan ruang hidup yang makin menyempit. Ketika koridor alami terganggu, satwa tidak punya pilihan selain mendekati manusia. Di sinilah tanggung jawab kita untuk menciptakan solusi berkeadilan bagi keduanya.
Tidak sedikit tekanan yang kami terima. Aktivis lingkungan menyuarakan bahwa gajah tidak seharusnya “diusir” dari rumahnya. Di sisi lain, masyarakat menuntut keamanan hidup dan lahan mereka. Saya berdiri di tengah dilema itu, sebagai petugas negara sekaligus manusia yang punya hati. Saya belajar bahwa dalam konflik seperti ini, tidak ada jalan tunggal.
Kunci keberhasilan bukan hanya pada penggiringan teknis, tapi bagaimana kita merancang komunikasi, memperkuat kepercayaan masyarakat, dan menyusun langkah bersama. Bukan saling menyalahkan, melainkan bersatu dalam krisis. Bukan menunggu komando, tapi menciptakan sistem kerja yang adaptif.
Kini, pemantauan masih terus dilakukan, dan tim Mahout mendapat waktu beristirahat. Saya menyampaikan laporan akhir kepada pimpinan dan Kepala KPH aktif dalam pertemuan lintas sektor untuk memperkuat upaya mitigasi konflik satwa di Kabupaten Tanggamus. Saya percaya, pengalaman ini memberi pelajaran penting bagi semua pihak: bahwa mitigasi konflik satwa hanya akan berhasil jika dilakukan bersama, dengan hati, strategi, dan solidaritas.
Pengalaman mitigasi konflik gajah di Blok 3 KHL Kotaagung Utara telah membuka mata saya tentang pentingnya sinergi, komunikasi, dan ketegasan dalam krisis konservasi.
Awalnya saya datang sebagai personel Polhut tanpa pengalaman langsung menghadapi konflik gajah, namun berkat kehadiran tim lintas instansi dan keterlibatan aktif masyarakat, semua berjalan menuju hasil yang positif.
Dalam suasana darurat, kami belajar menata strategi, memperbaiki komunikasi, dan membangun kepercayaan publik. Saya menyadari bahwa tugas di lapangan bukan sekadar melaksanakan perintah, tetapi juga membaca situasi, membangun koordinasi, dan menumbuhkan harapan.
Konflik manusia dan gajah adalah tantangan kompleks yang tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja. Hanya dengan kerja sama yang erat, pengetahuan yang tepat, dan empati yang mendalam, kita bisa menciptakan ruang hidup yang aman bagi manusia dan lestari bagi gajah. Dari hutan Blok 3, saya pulang dengan pelajaran yang tak ternilai.
*) Penulis: M. Saipurrozi, S.Hut., M.Si, Staf KPH Kota Agung Utara, Lampung.

Rumah tinggal warga yang porak-poranda diamuk gajah liar di Kabupaten Tanggamus, Lampung, belum lama ini.
Dok. M. Saipurrozi/KPH Kota Agung Utara
