Dokter saraf: Cegah dimensia berat lansia dengan perkuat deteksi sejak dini

id Cegah dimensia, dimensia pada lansia

Dokter saraf: Cegah dimensia berat lansia dengan perkuat deteksi sejak dini

Dokter spesialis saraf dr. Ruth Mariva Sp.S dalam temu virtual "Bahagia di masa tua". Bandarlampung, Sabtu (20/11/2021) ANTARA/Ruth Intan Sozometa Kanafi.

Bandarlampung (ANTARA) - Dokter spesialis saraf dr. Ruth Mariva Sp.S mengatakan untuk mencegah dimensia berat pada orang lanjut usia (lansia) pihak terkait terutama keluarga, perlu memperkuat deteksi sejak dini.

"Mengelola dimensia pada lansia ini penting dilakukan. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah melakukan deteksi dini pada lansia guna mencegah pemburukan," ujar dr. Ruth Mariva Sp.S dalam pertemuan virtual diikuti di Bandarlampung, Sabtu.

Ia mengatakan melalui deteksi dini pada lansia mengenai gejala-gejala penurunan fungsi otak akibat menurunnya zat Asetilkolin pada sel otak akibat pertambahan usia akan mencegah gejala berat dimensia.



Dimensia adalah menurunnya kemampuan otak untuk melakukan fungsi dasar seperti berpikir, mengingat, berbicara dan membuat keputusan.

"Saat ini angka harapan hidup manusia semakin tinggi, dan jumlah lansia makin banyak. Total 80 persen lansia pasti memiliki kormobid, salah satunya penurunan zat Asetilkolin pada sel otak yang memiliki fungsi penting di sistem saraf pusat dalam proses menangkap memori, jadi jangan anggap remeh gejala kepikunan," katanya.



Menurutnya, selain melakukan deteksi dini gejala dimensia, perlu juga menjauhkan para lansia dari faktor risiko, serta memaksimalkan otak.

"Kelola faktor risiko yang akan mempengaruhi perkembangan penyakit, harus memaksimalkan fungsi otak, serta yang paling penting adalah cukup dalam beristirahat 6 sampai 8 jam sehari, bila kurang tidur akan mempercepat kepikunan," ucapnya.



Dia melanjutkan, ada 10 tanda peringatan awal munculnya dimensia pada lansia yakni sering lupa akan hal baru, kesulitan melakukan aktivitas keseharian, sulit berbahasa, suasana hati dan perilaku cepat berubah, kesulitan berfikir.

"Selanjutnya disorientasi waktu dan tempat, sering tersesat di lingkungannya, salah meletakkan barang, kemampuan penilaian menurun, perubahan kepribadian, dan kehilangan inisiatif," katanya lagi.



Ia mengatakan, dalam dimensia terbagi dalam tiga stadium dan membutuhkan waktu 5 hingga 7 tahun bagi seseorang untuk mengalami stadium dimensia berat.

"Ada 3 stadium butuh waktu 5 sampai 7 tahun untuk stadium akhir, jadi untuk sehat alangkah baiknya kita harus berupaya mencegah dengan berfikir positif menjaga kesehatan dan pola hidup, dari pada mengobati," ujarnya.



 
Pewarta :
Editor : Agus Wira Sukarta
COPYRIGHT © ANTARA 2021