Lampung Tengah (ANTARA) - Muktamar Ke-34 Nahdlatul Ulama (NU) yang pembukaannya dilaksanakan di Pondok Pesantren Darussa'addah, Kampung Seputih Jaya, Kecamatan Gunung Sugih, Kabupaten Lampung Tengah, Provinsi Lampung menjadi berkah tersendiri bagi masyarakat.
Pasalnya, warga bisa berjualan makanan, minuman atau aksesoris seperti gelang, peci, dan lainya. Bahkan, mereka bisa meraup untung hingga jutaan rupiah.
Salah satunya Titin (34), warga Bandarlampung yang menjual kerajinan Tapis Lampung di lokasi pembukaan Muktamar NU tersebut.
Menurut Titin, para peserta Muktamar NU sangat menyukai kerajinan Tapis Lampung.
"Iya mas banyak yang beli. Mereka sangat menyukai kerajinan Tapis Lampung utamanya peci sama tas. Mayoritas para peserta ke sini beli kedua kerajinan itu," kata dia, saat diwawancarai, Rabu.
Pihaknya mengaku sudah dua hari berjualan di lokasi muktamar. Selain peci dan tas, ia juga menjual kain syal tapis, masker, gantungan kunci, dan lainnya.
"Kemarin baru laku 10 pcs mas, kalau hari ini sudah tidak terhitung lagi laku berapa. Karena alhamdulillah pembelinya ada terus," ujarnya lagi.
Titin menambahkan, harga kerajinan Tapis Lampung yang ia jual mulai dari Rp25 ribu hingga Rp350 ribu. Namun, untuk kain tapis harganya bisa mencapai hingga jutaan rupiah.
"Alhamdulillah mas sangat terbantu adanya Muktamar NU ini, karena bisa jualan. Kalau syarat jualan di sini harus bayar uang keamanan dan sewa tenda yang harganya bermacam-macam," katanya pula, tanpa merinci besaran biaya dimaksud.
Baca juga: Presiden Jokowi secara resmi buka Muktamar Ke-34 NU di Lampung
Baca juga: Warga NU khidmat dengarkan sambutan Presiden pada pembukaan Muktamar NU
