Presiden : Rugi besar jika medsos rusak persaudaraan

id Presiden Jokowi, Presiden kunjungi Lampung

Presiden Jokowi tiba di Bandara Radin Inten II disambut sejumlah pejabat baik sipil maupun militer. (Emir F Saputra/Antaranews Lampung)

Lampung Tengah (Antaranews Lampung) - Presiden Joko Widodo mengatakan masyarakat akan rugi besar jika pengaruh media sosial dan perbedaan politik merusak persatuan dan persaudaraan kita sebagai satu bangsa.
         
"Jangan sampai hal-hal seperti ini karena pengaruh-pengaruh politik, karena pengaruh-pengaruh sosial media, bapak ibu sekalian jadi tidak seperti saudara. Rugi besar kita nanti kalau ini diterus-teruskan," kata Presiden Jokowi, dalam sambutannya saat penyerahan sertifikat tanah di Gunungsugih, Kabupaten Lampung Tengah, Lampung, Jumat.
         
Menurut Jokowi, masyarakat berhak memilih calon yang terbaik dalam pemilihan kepala daerah maupun pemilihan presiden.
         
Masyarakat dapat melihat prestasi, rekam jejak dan gagasan-gagasan dari para calon pemimpin, kata Jokowi pula.
         
Kepala Negara juga mengungkapkan keprihatinannya pada saat memasuki tahun politik yang cenderung tersebar fitnah, beredar kabar bohong dan saling hujat melalui media sosial.
         
Presiden juga geram akan adanya fitnah yang menyebarkan dirinya terkait PKI.
         
"Fitnah-fitnah seperti itu. PKI itu dibubarkan 1965-1966. Lahir saya itu tahun 61, berarti umur saya baru empat tahun. Lah kok bisa diisukan Presiden Jokowi aktivis PKI. Apa ada PKI balita," ujar Presiden Jokowi mempertanyakannya pula.
      
Kepala Negara meminta masyarakat tidak mudah percaya isu-isu yang beredar melalui media sosial.
         
Presiden bersama Ibu Negara Iriana Joko Widodo melakukan kunjungan kerja di Provinsi Lampung pada Jumat-Sabtu (23-24/11).
         
Selain menyerahkan sertifikat tanah, Presiden juga telah meninjau pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera yang menyambungkan Bakauheuni (Lampung Selatan/Lampung)-Palembang (Sumatera Selatan) di Seksi Bakauheuni-Terbanggi Besar.
Pewarta :
Editor: Hisar Sitanggang
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar