Dompet Dhuafa dan Itera KolaborAksi melalui sedekah daging

id Dompet Dhuafa, Itera

Dompet Dhuafa dan Itera KolaborAksi melalui sedekah daging

Dompet Dhuafa dan ITERA  KolaborAksi melalui Sedekah Daging/Foto Dompet Dhuafa/istimewa

Kalau sekarang rata-rata umur dosen Itera adalah 24 tahun, maka harusnya di usia 34 tahun sudah bisa menjadi guru besar, ujar Acep

Bandarlampung (ANTARA) - Jurusan Sains Institut Teknologi Sumatera (Itera) melalui Program Studi Rekayasa Kosmetik, berkolaborasi dengan Lembaga Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat dan Penjamin Mutu Pendidikan Itera, dan Dompet Dhuafa mengadakan webinar “Tips dan trik menulis agar tembus ke jurnal internasional: strategi percepatan karir dosen", Selasa, (13/7). 

Kegiatan tersebut diikuti lebih dari 250 peserta dari kalangan dosen, peneliti, dan mahasiswa pascasarjana berbagai lembaga dan universitas di Indonesia.

Kegiatan tersebut menghadirkan narasumber dosen berprestasi nasional tahun 2019, yang juga peraih gelar Guru Besar Muda IPB diusia 37 tahun, Prof. Dr.Sc. ETH Anuraga Jayanegara, S.Pt., PgDipl. MSc.

Ketua Pelaksana Webinar, yang juga dosen Program Studi Rekayasa Kosmetik Itera Achmad Gus Fahmi, S.Si., M.Si, menyebut latar belakang kegiatan teresebut adalah selaras dengan misi besar Itera sebagai kampus baru dengan kurang lebih 500 dosen muda potensial. Itera mencanangkan program Guru Besar Under 45 tahun (GBU 45) sebagai bentuk percepatan karir dosen.

Baca juga: Ratusan masyarakat di Jabodetabek rasakan manfaat Cirisis Center Dompet Dhuafa

Sementara Ketua LP3 Itera Acep Purqon S.Si., M.Si., Ph.D. dalam pengantarnya menyampaikan bahwa berbagi pengalaman sangat diperlukan untuk meningkatkan semangat dan motivasi dosen muda Itera. Para dosen juga dapat mencontoh atau bahkan melampaui prestasi Prof Anuraga yang menjadi dosen terbaik nasional. 

“Kalau sekarang rata-rata umur dosen Itera adalah 24 tahun, maka harusnya di usia 34 tahun sudah bisa menjadi guru besar,” ujar Acep.

Acara ini diselenggarakan tanpa biaya pendaftaran, tetapi selama kegiatan webinar tersebut turut dilaksanakan penggalangan dana melalui tim Dompet Dhuafa yang diwakilkan oleh Yudha Andilla selaku Manager Retail Fundraising. 

Hasil donasi tersebut sepenuhnya disalurkan melalui program kebaikan Sedekah Daging Dompet Dhuafa kepada yang membutuhkan di pelosok negeri. 

“Terima kasih kami ucapkan kepada rekan-rekan, peserta serta dosen-dosen yang hadir dalam kegiatan yang InsyaAllah bermanfaat dan barokah," katanya.

Baca juga: Dompet Dhuafa Bersama LAZ Chevron hadirkan khitanan massal bagi puluhan anak yatim dan dhuafa di Jasinga

"Selain kita menimba ilmu di kegiatan ini tapi juga kita berikhtiar membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan di luar sana, yang mana pada setiap harinya tidak pernah merasakan lezatnya daging, InsyaAllah dengan adanya kegiatan dan galang donasi untuk sedekah daging ini dapat membantu saudara-saudara kita di pelosok merasakan lezatnya memakan daging. Dan semoga kegiatan ini menjadi wasilah bagi kita semua dan dapat memberikan kebahagiaan bagi yang membutuhkan,“ ucap Yudha Andilla.

Dalam webinar yang dimoderatori oleh dosen Riset dan Inovasi Itera Dr. Winati Nurhayu, M.Si., Prof. Anuraga membawakan materi tentang membangun portofolio dosen menuju guru besar. Dia juga menekankan beberapa poin penting seperti perlunya dosen meningkatkan pendidikan di level tertinggi yaitu doktor (S3) dengan mempersiapkan dan strategi khusus. 

Mulai dari  memilih universitas, pembimbing, dan arah penelitian disertasi. Selain itu juga, dosen perlu membangun kapasitas diri setelah lulus program Doktor (S3) dengan hibah penelitian, networking (dalam maupun luar negeri), publikasi hingga menganggarkan untuk peningkatan kapasitas diri melalui pelatihan. Ketiga, peduli akan diri sendiri untuk mengurus administrasi kenaikan pangkat.

Baca juga: LAZ MKU, BMT dan Dompet Dhuafa hadirkan ambulans bagi rakyat Palestina

“Pengembangan riset dan kemampuan penulisan karya ilmiah juga perlu ditingkatkan, karena kemampuan tersebut bukanlah bakat yang turun secara langsung, melainkan dengan kebiasaan melatih diri,” ujar Anuraga.

Prof. Anuraga menyampaikan perlunya keseimbangan antara karir dengan keluarga, karena keduanya saling berhubungan dan timbal balik. Selain itu keseimbangan dalam akal, pikiran dan mentalitas juga diperlukan untuk tetap berada pada rel yang berlaku. Mengelola waktu dengan baik. Serta memudahkan urusan orang lain, tidak dzalim dan berlaku adil maka InsyaaAllah akan dimudahkan urusan kita oleh Allah.

Terakhir, Ketua Pelaksana Webinar Achmad Gus Fahmi, S.Si., M.Si, berterima kasih kepada Dompet Dhuafa telah mengajak berkolaborasi dalam kebaikan, semoga kolaborasi ini tidak hanya saat ini saja, tapi dapat berkolaborasi di event selanjutnya. 

TENTANG DOMPET DHUAFA
Dompet Dhuafa adalah lembaga Filantropi Islam yang berkhidmat dalam pemberdayaan kaum Dhuafa dengan pendekatan budaya melalui kegiatan filantropis (welasasih) dan wirausaha sosial. Selama 28 tahun, Dompet Dhuafa telah memberikan kontribusi layanan bagi perkembangan umat dalam bidang sosial, kesehatan, ekonomi, dan kebencanaan serta CSR.
 
Pewarta :
Editor : Edy Supriyadi
COPYRIGHT © ANTARA 2021