WCS ajak petani manfaatkan burung hantu kendalikan hama tikus di sawah

id Petani Tegal Gondo sukses kendalikan hama tikus, rumah burung hantu di Desa Tagal Gondo, Lampung Timur,Wcs ajak petani kendalikan tikus, wcs

WCS ajak petani manfaatkan burung hantu kendalikan hama tikus di sawah

Rumah burung hantu di area persawahan Desa Tegal Gondo Lampung Timur, Sabtu (9/1/21) foto WCS/istimewa

Dan manfaatnya mulai dirasakan tiga tahun kemudian pada tahun 2018, ujarnya
Lampung Timur (ANTARA) - World Conservation Societies (WCS) mengajak petani  memanfaatkan burung hantu (tyto alba) untuk mengendalikan hama tikus pada sistem pertanian seperti yang telah dilakukan sejumlah petani di Desa Tegal Gondo, Kecamatan Purbolinggo, Kabupaten Lampung Timur.

Koordinator WCS Sugio di Lampung Timur, Sabtu (9/1/21) mengemukakan sejumlah petani di Desa Tegal Gondo sejak tahun 2014  telah mempraktikkan pengendalian hama tikus dengan memanfaatkan burung hantu.

Hasilnya, burung hantu efektif mengendalikan hama tikus di areal persawahan mereka. 

Baca juga: Desa Sukorahayu sasaran Operasi Bhakti TNI Tentara Manunggal Masuk Desa

"Dan manfaatnya mulai dirasakan tiga tahun kemudian pada tahun 2018," ujarnya. 

Menurut Sugio, sekarang sudah nyaris 100 persen persawahan di Desa Tagal Gondo dipasangi rumah burung hantu (rubaha) untuk mengantisipasi serangan hama tikus. 

Oleh karena itu,  kata Sugio, pihaknya pada Sabtu (9/1) pagi mengajak sejumlah petani di Kecamatan Braja Selebah belajar langsung kepada petani di Desa Tegal Gondo.

Baca juga: Pantai Kerang Mas tutup sementara mulai Senin

"Sebenarnya petani Desa Braja Luhur, Braja Kencana dan Braja Yekti sudah mempraktikkan cara mengendalikan hama tikus dengan burung hantu setahun yang lalu,  tapi tidak berhasil karena ada kesalahan teknis.  Nah kami WCS mengajak petani ke Tegal Gondo untuk belajar," jelasnya. 

Dia berharap, petani di Braja Selebah dapat meniru kesuksesan petani Tagal Gondo dalam hal mengendalikan hama tikus dengan predator alami, yakni burung hantu.
Pewarta :
Editor : Edy Supriyadi
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar