Indosat dan Mastercard jalin kemitraan untuk tingkatkan pembayaran digital

id indosat,mastercard,pembayaran digital,inklusi keuangan,umkm

Indosat dan Mastercard jalin kemitraan untuk tingkatkan pembayaran digital

Suasana penandatanganan Nota Kesepahaman Indosat dengan Mastercard yang dilakukan oleh Director & Chief Commercial Officer Indosat Ooredoo Hutchison Ritesh Singh dengan President Director PT Mastercard Indonesia Navin Jain. (ANTARA/HO-Istimewa)

Jakarta (ANTARA) - Indosat Ooredoo Hutchison (Indosat) dan Mastercard mengumumkan kemitraan strategis untuk mendorong pengalaman dalam pembayaran digital serta mendukung konsumen dan pelaku usaha di sektor ekonomi digital guna meningkatkan inklusi keuangan di Indonesia.

"Kolaborasi strategis ini sejalan dengan tujuan kami yang lebih besar untuk menghubungkan dan memberdayakan Indonesia dengan mempercepat transformasi digital bangsa," kata President Director and CEO Indosat Ooredoo Hutchison Vikram Sinha dalam pernyataan di Jakarta, Kamis.

Ia mengatakan kemitraan ini menjadi penting mengingat peningkatan keterampilan digital dan perluasan inklusi keuangan, terutama di daerah perdesaan, adalah kunci untuk membuka dan memaksimalkan potensi setiap masyarakat Indonesia.

"Dengan semangat gotong royong, upaya bersama dengan Mastercard ini akan memungkinkan kami untuk menciptakan solusi keuangan tanpa batas untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi digital Indonesia," ujarnya.

Kolaborasi antara Indosat dan Mastercard ini dirancang untuk membantu meningkatkan standar keamanan dan membangun kepercayaan yang lebih tinggi di antara semua pengguna di seluruh ekosistem digital untuk menciptakan ekonomi digital yang lebih aman dan lebih inklusif, serta dapat diikuti dan dimanfaatkan oleh semua orang.

Kedua organisasi berkomitmen untuk memperkenalkan produk dan solusi terukur yang menggabungkan kemampuan terbaik dalam keselamatan dan keamanan siber di kelasnya, guna menyediakan pengalaman digital yang aman dan lancar sesuai dengan gaya hidup, cara bekerja, dan bertransaksi para konsumen dan bisnis di era digital saat ini.

Kemudian, kemitraan Indosat dan Mastercard ini bertujuan untuk mendukung UKM dengan menyediakan alat dan sumber daya terbaru untuk bersaing di dunia digital-first pascapandemi.

Kedua organisasi juga akan mengeksplorasi solusi untuk konsumen pada penggunaan pembayaran digital dengan kartu dan pembayaran berbasis akun, peningkatan akses ke kredit seperti melalui Buy Now Pay Later (BNPL), peningkatan keamanan pada metode pembayaran, dan solusi yang menawarkan keterlibatan dan penghargaan bagi konsumen.

Sementara itu, untuk bisnis, kolaborasi ini akan memperkenalkan solusi yang mendorong adopsi pembayaran digital, membantu bisnis dalam mengelola kehadiran online atau digital, meningkatkan akses ke kredit, serta menyediakan solusi produktivitas bisnis lainnya seperti akuntansi dan manajemen pengeluaran.

President Asia Pacific Mastercard Ari Sarker mengatakan kolaborasi ini dapat menjadi peluang untuk memajukan ekonomi digital yang dapat menjanjikan kesempatan lebih luas bagi banyak orang serta mewujudkan perjalanan menuju ekonomi yang benar-benar inklusif.

"Oleh karena itu, Mastercard merasa sangat antusias dapat berkolaborasi dengan Indosat, mitra yang memiliki komitmen sama dengan Mastercard, guna mendukung masyarakat Indonesia menuju masa depan digital, membawa lebih banyak lagi individu dan UKM ke dalam ekosistem digital, dan membantu memajukan pertumbuhan inklusif bagi perekonomian Indonesia," ujarnya.

Selain itu, kemitraan ini juga menegaskan komitmen Mastercard untuk membawa 1 miliar orang dan 50 juta usaha mikro dan kecil ke dalam ekonomi digital secara global pada tahun 2025.

Saat ini, sebagai negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara, Indonesia mencatat pertumbuhan yang signifikan dalam nilai ekonomi digital. Pada 2025, diperkirakan nilai ekonomi digital Indonesia akan meningkat dua kali lipat menjadi 130 miliar dolar AS (Rp1.944 triliun) dan terus meningkat menjadi 220 miliar dolar AS (Rp3.290 triliun) hingga 360 miliar dolar AS (Rp5.383 triliun) pada 2030.

Pertumbuhan ini sejalan dengan perubahan demografi dan perilaku konsumen di Indonesia yang telah mengalami perubahan drastis dalam beberapa tahun terakhir, terutama dengan adanya penggunaan smartphone yang makin mendorong metode pembayaran digital serta transaksi nontunai.